KLIK DISINI...!

MAKALAH Lingkungan dan Pengaruhnya

01.05 1 Comment
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mencermati kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka pendidikan merupakan bagian dari kehidupan selama manusia masih hidup secara normal dan akan selalu memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang sifatnya umum dan keagamaan.
Pendidikan adalah hal yang bersifat dinamis, selalu mengikuti arus perkembangan zaman dan kemajuan intelektualitas. Arus perkembangan zaman dan intelektualitas manusia. Baik didunia pendidikan maupun didunia kehidupan biasa terjadi evolusi dan revolusi. Namun tidak selamanya perkembangan keduanya berjalan seimbang dan selaras. Karena itu sering muncul berbagai gejala pendidikan yang mengandung berbagai permasalahan yang banyak sekali.
Mengenai arus perkembangan tersebut adalah untuk meningkatkan pendidikan dari segi kualitas maupun kuantitas agar tercapai tujuan pendidikan dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang kita harapkan.
Pelaksanaan pendidikan di Indonesia berupaya merealisir tujuan pendidikan nasional yaitu untuk : “Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia, Yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani”.
Dengan tujuan pendidikan nasional tersebut, pelaksanaan pendidikan akan lebih terarah dan efektif dalam rangka menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai rasa tanggung jawab kemanuisian dan kebangsaan berdasarkan nilai-nilai taqwa kepada Allah SWT Tuhan Yang Esa, mempunyai kecakapan, keterampilan dan berakhlak mulia.
Oleh karena itu perlu adanya perhatian yang tinggi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan untuk mengukur sampai dimana pengembangan dalam mengelola pendidikan, salah satu acuan pengukuran adalah dengan melihat prestasi anak didik pada suatu lembaga pendidikan tersebut. Ada beberapa faktor yang dapat mempegaruhi terhadap pendidikan dan pengembangan serta keberhasilan suatu pendidikan, dan salah satu diantaranya adalah faktor lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah segala sesuatu yang ada disekitar anak didik. Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif atau negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Sebagaimana dikatakan oleh Drs. Zubairini dkk, sebagai berikut :
“Lingkungan dikatakan positif apabila lingkungannya itu dapat memberikan dorongan dan rangsangan kepada anak didik untuk berbuat hal-hal yang baik sebaliknya pengaruh lingkungan dikatakan negatif bilaman keadaan disekitar anak itu memberikan pengaruh yang tidak baik”.
Anak yang sedang mengenyam pendidikan formal atau nonformal didunia ini ia akan berkumpul pada suatu lembaga pendidikan yang sama, tetapi mereka yang berasal dari lingkungan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sudah sewajarnya tentu akan menghasilkan anak didik yang berbeda-beda pula, baik tingkat pengetahuannya, pengelaman, sikap dan tingkah lakunya. Dengan demikian, bahwa lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar bagi anak.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakakan suatu rumusan masalah adalah sebagai berikut :
“Lingkungan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar”
C. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan
Adapun tujuan pembuatan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :
Untuk memenuhi sebagian dari tugas dan syarat-syarat sebagai mahasiswa program D II PGMI yang akan menyelesaikan programnya pada semester IV (Empat).
Untuk memberikan gambaran umum secara teoritis mengenai pengaruh lingkungan terhadap prestasi belajar pada anak.
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai pengaruh lingkungan terhadap prestasi belajar pada anak.
Kegunaan
Pembuatan karya ilmiah ini diharapkan berguna :
a. Untuk para pendidikan atau tenaga kependidikan sebagai salah satu acuan dalam menghadapi permasalahan dilapangan, terutama yang berhubungan dengan prestasi belajar anak dalam hubungannya dengan masalah lingkungan.
b. Untuk memperkaya atau Khazanah Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam Kuala Kapuas Program D II PGMI, pembaca pada umumnya dan terlebih lagi bagi pribadi penulis.
D. Metodologi Penulisan
Adapaun metode pembuatan karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Library reseach atau Kepustakaan. Maksudnya bahwa dalam pembuatan atau penyusunan karya ilmiah ini berdasarkan kajian atau telaahan dari berbagai buku kepustakaan, terutama yang ada hubungan dengan judul yang penulis kemukakan, yang penulis kutip secara langusung ataupun tidak langsung.
2. Empiris atau pengalaman probadi. Maksudnya disamping metodologi kepustakaan juga dilengkapi dengan hasil pengalaman pribadi penulis, baik didapat secara formal, informal maupun non formal termasuk pengalaman pribadi penulis sebagai seorang pendidik atau guru, sehingga dengan harapan dapat lebih melengkapi dan menyempurnakan pembahasan dari judul yang penulis kemukakan.
BAB II
LINGKUNGAN DAN PENGARUHNYA
A. Pengertian
Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan disini ialah, segala sesuatu yang terdapat disekitar, baik makhluk hidup maupun benda mati. Yang dimaksud dengan lingkungan dalamn pembahasan ini menitik beratkan pada lingkungan dimana terjadi proses interaksi, baik lingkungan inforaml (keluarga), atau non formal (Masyarakat), atau lingkungan formal sekolah itu sendiri.
Jadi tegasnya yang dimaksud dengan lingkungan ialah : “Kawasan wilayah dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya, golongan, kalangan” 1
Pengaruh
Pengaruh ialah : “Daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan (ghaib dsb)” 2
Dalam hubungannya dengan judul karya ilmiah ini, yang dimaksud dengan pengaruh yaitu suatu kekuatan yang timbul dari luar individu yang menjadi sebab terhadap prestasi belajar pada anak.
Pendidikan
Menurut Carted V Good : pendidikan adalah sejumlah dari pada proses yang cukup lama untuk membina kemampuan pembawaan dan beberapa bentuk dari pada tingkah laku kepada nilai yang lebih baik dimasyarakat dimana ia tinggal.
Dari pengertian diatas, dapat kita kemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang terjadi di samping kehidupan guna mewujudkan aneka pembedaan dalam rangka membentuk dan mengembangkan segala potensi yang bersifat pembawaan, intelektual dan emosional bagi manusia itu sendiri atau bimbingan orang dewasa terhadap anak didik dalam perkembangannua menuju arah kedewasaan.
Perlu diketahui bahwa pendidikan terjadi di mana saja dan kapan saja asalkan berbeda dalam suatu hubungan yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh atau perubahan-perubahan yang positif.
Prestasi Belajar
Prestasi belajar ialah hasil yang dicapai, dilakukan atau dikerjakan. Yang dimaksud penulis ialah daya mampu anak atau siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru terhadap materi pelajaran atau bidang studi yang diwujudkan, misalnya dalam bentuk nilai Raport atau Hasil Ujian.
B. Lingkungan dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar
Sebagaimana telah disebutkan diatas, istilah lingkungan itu menjadi jelas dan terarah pada sasaran yang dituju.
Lingkungan adalah merupakan salah satu faktor dalam pendidikan yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan pendidikan yang digolongkan salah satu faktor disamping faktor-faktor lainnya. Kendati demikian, sebagian para ahli ada juga yang menolak keterlibatan faktor lingkungan tersebut.
Mengenai pengertian linkungan, disamping yang telah dikemukakan diatas, penulis kutipkan kembali pengertian lingkungan menurut para ahli, antara lain :
Drs. H.M. Hafiz Anshari
Lingkungan ialah : “segala sesuatu yang ada disekitar anak baik berupa benda-benda, peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada anak yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan mana anak bergaul sehari-hari”.
Drs. Amir Daein
Lingkungan ialah : “ segala sesuatu yang berada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak”.
Ali Saifullah, MA
Lingkungan ialah : “segala sesuatu yang terdapat disekitar anak yang bersifat kebendaan dan karena itu bukan pribadi atau pergaulan yang bersifat pribadi”.
Dari beberapa pendapat para ahli yang penulis sebutkan diatas, dapatlah kita simpukan, bahwa pada prinsipnya pendapat para sarjana tersebut sama dalam mengambil pengertian tentang lingkungan, yaitu segala sesuatu yang ada disekitar anak dan dapat memberikan pengaruh terhadap anak dalam perkembangannya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan berpengaruh pula terhadap prestasi belajar pada anak.
C. Macam-Macam Lingkungan
Macam-macam lingkungan disini maksudnya ialah macam-macam lingkungan yang berwujud tempat dan bentuk lingkungan yang mempunyai peranan penting dan dapat memberikan pengaruh terhadap anak didik. oleh karena itu penulis membahas mengenai lingkungan ini meninjau dari dua segi :
Ditinjau dari sudut tempat dimana lembaga penmdidikan itu dikembangkan.
Jika pembicaraan tentang lingkungan dimana pendidikan itu dikembangan atau pusat pendidikan.
Pada garis besarnya Ki Hajar Diwantoro menyebutkan ada 3 (tiga) lingkungan pendidikan :
Lingkungan Keluarga
Lingkungan Sekolah
Lingkungan Masyarakat
Adapun pembawaan dari ketiga lingkungan tersebut, secara panjang lebar akan penulis paparkan pada pembahasa yang akan datang.
Kalau kita meninjau dari sudut dalam hubungan dengan manusia, maka dapat dikelompokkan :
Lingkungan yang tidak dapat dirubah
Lingkungan yang tidak dapat dirubah terdapat diluar kemampuan manusia untuk merubahnya, misalnya iklim, keadaan alam, dan sebagainya.
Lingkungan yang dapat dirubah
Lingkungan yang dapat dirubah atau dipengaruhi, seperti bahan makanan, cara memasak, cara mengolah dan sebagainya. Sebab dalam kenyataannya, makanan yang bergizi baik akan dapat meningkatkn prestasi belajar pada anak.
Lingkungan buatan manusia
Milleu yang secara sadar dan sengaja diadakan, adalah segala lingkungan yang diadakan dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu, mislanya sebagai contoh permainan anak-anak, bahan kepustakaan termasuk komplek lembaga pendidikan/sekolah dan lembaga sosial lainnya yang bergerak dibidang pendidikan.
BAB III
PENDIDIKAN AGAMA DAN PRESTASI BELAJAR
A. Pengertian Agama Islam
Untuk membicarakan mengenai pengertian pendidikan agama, terlebih dahulu kita harus mengerti pendidikan secara umum, karena istilah pendidikan agama merupakan perpaduan antara pendidikan dan agama.
Yang dimaksud dengan pendidikan agama ialah : “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional” 3.
Sedang tujuan pendidikan agama Islam pada sekolah umum bertujuan : “meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”4.
Dari pengertian tersebut diatas dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa secara sistematis, terarah dan terprogram untuk mencapai suatu tujuan agar peserta didik dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang Muttaqin.
B. Dasar Pendidikan Agama
Pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia mempunyai dasar cukup kuat. Dasar-dasar tersebut dapat ditinjau dari yuridih/hukum, agama, atau dari segi sosial psikologis. Mulai dari dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Garis-Garis Besar Haluan Negara, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 yang dijabarkan dengan berbagai peraturan pemerintah yang dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaannya. Disamping itu dapat juga ditinjau dari sudut sosial kultural dan manusia fitrah yang selalu berusaha untuk mencapai tujuan.
C. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama
Tujuan Pendidikan
Tujuan umum pendidikan adalah membawa anak didik kepada kedewasaan yang berarti bahwa ia harus menentukan diri sendiri dan bertanggung jawab sendiri, anak harus dididik menjadi orang yang sanggup dan berbuat menurut norma-norma yang berlaku.
Adapun tujuan pendidikan adalah dapat dibagi dalam 5 hal yaitu :
Tujuan Umum
Tujuan Tak Sempurna ( tak lengkap )
Tujuan Sementara
Tujuan Perantara
Tujuan Insidental
Tujuan umum pendidikan atau juga dapat disebut dengan tujuan total yaitu tujuan yang merupakan sesuatu yang harus dicapai oleh setiap jenis dan jenjang pendidikan yang justru karena sifatnya umum dan menyeluruh bagi suatu bangsa yang bersangkutan.
Tujuan tak lengkap yaitu tujuan yang akan dicapai oleh anak didik yang merupakan sebagian saja dari asfek-asfek kehidupan dari kepribadian anak didik, misalnya tujuan kesusilaan, pendidikan, keindahan, pendidikan kecerdasan dan lain-lain.
Tujuan sementara yaitu tujuan yang akan dicapai anak didik berhubungan dengan adanya pembagian masa perkembangan karena sifatnya hanya sementara ia harus berhenti setelah anak didik dapat mencaiapnya.
Tujuan perantara yaitu tujuan yang berfungsi sebagai perantara atau berbagai alat bagi terciptanya tujuan yang sifatnya murid-murid berlatih belajar membaca dalam hati tanpa mengeluarkan suara, ini merupakan tujuan sementara, karena dengan kecakapan membaca dalam hati itu, anak akan menyerap secara efektif dan efisien isi bacaan yang dibacanya.
Tujuan insidentil yaitu tujuan yang bersifat sewaktu-waktu saja atau hanya pada waktu-waktu tertentu. Seperti contoh seorang murid yang membersihkan papan tulis ketika pelajaran selesai atau seorang guru yang melarang murid-muridnya gobrol dengn teman-temannya ketika sedang belajar.
Sedangkan tujuan pendidikan menurut kitab suci al-qur’an dapat disimpulkan sebagai berikut :
Mengenal manusia akan peranannya diantara sesama titah (makhluk) dan tanggung jawab pribadinya di dalam hidup ini.
Mengenal manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
Mengenal manusia akan alam ini dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam tersebut.
Mengenal manusia akan Maha Pencipta (Allah) dan memerintahkan beribadah kepada-Nya.
Empat tujuan diatas meskipun berkaitan, namun dapat dimengerti bahwa tujuan pertama adalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang akhir, yakni ma’rifullah Tuhan Pencipta Alam.
Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa tujuan pendidikan yang penulis kehendaki dalam pmbuatan makalah ini yaitu menanamkan dan menumbuhkan rasa keagamaan kepada anak didik sebagai potensi dasar dan bekal utama selama hidup, agar mereka semenjak kecil sedah terbiasa hidup dalam keagamaan, menjalankan ajaran-ajaran agama dan menjadikannya keyakinan yang tidak tergoyahkan setelah dewasa.
Tujuan Pendidikan Agama
Tujuan Pendidikan adalah faktor yang sangat penting karena merupakan arah yang hendak dituju atau sasaran yang akan dicapai dalam setiap proses pendidikan demikian pula halnya dengan pendidikan agama, maka pendidikan agama harus mempunyai tujuan yang jelas. Adapun tujuan dimaksud secara umum seperti telah disebutkan diatas.
Tujuan pendidikan agama dilembaga-lembaga pendidikan Indonesia adalah mempunyai tujuan yang paralel dengan tujuan pendidikan nasional. Disamping mempounyai tujuan yang paralel dengan tujuan institusional sesuai menurut jenis, jalur dan jenjang pendidikan dilembaga-lembaga pendidikan formal, mulai dari sekolah tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi, baik yang dikelola oleh pemerintah (negeri) maupun oleh masyarakat (swasta).
Tujuan pendidikan agam dilembaga-lembaga pendidikan formal dapat dibagi mejadi 2 (dua), yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan Umum
Istilah membimbing anak agar mereka menjadi seorang muslim sejati, iman yang teguh, beramal shaleh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, Agama, Bangsa dan Negara.
Tujuan pendidikan agama tersebut adalah tujuan yang hendak dicapai oleh setiap orang yang melaksanakan pendidikan agama. Karena dalam melaksanakan pendidikan agama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah keimanan yang mantap, dengan demikian diharapkan akan menghasilkan manusiayg taat menjalankan ajaran agama. Disamping beribadah kepada Allah, maka setiap muslim harus mempunyai cita-cita untuk mencapai kesejahteraan, kebahagian hidup dunia dan akhirat sesuai do’a yang selalu dipanjtakannya. Tujuan umum pendidikan agama tersebut dengan sendiinya dan mungkin saja tidaka akan dicapai dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan waktu, dana, tenaga dan perjuangan yang cukup panjang dengn tahapan-tahapan yang harus dilewati.
b. Tujuan khusus
Adapun yang dimaksud dengan tujuan khusus pendidikan agama ialah tujuan pendidikan agama pada setiap tahapan yang dilalui melalui tingkat belajar, mulai dari tingkat dasar, menengah bahkan sampai perguruan tinggi
Fungsi Pendidikan Agama
Membicarakan mengenai fungsi pendidikan agama tidak lepas dari konsep pendidikan itu sendiri. Jika dilihat dari segi definisinya dan berpangkal dari itu semua, maka pendidikan disini memberikan tuntunan, pandangan manusia untuk memperoleh tuntunan, untuk memperoleh pengetahuan dari setiap displin ilmu yang ada, yang pada akhirnya akan mewujudkan manusia-manusia yang berbeda pula menurut keahliannya. Jika fungsi pendidikan agama ini dikaitkan dengan ajaran islam, yaitu untuk membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, sejarhtera lahir bathin, dunia akhirat, hal ini Insya Allah akan terwujud apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan agama yang cukup memadai. Maka seseorang akan dikatakan berprestasi atau mampu mewujudkan yang sebenarnya jika tampak pada dirinya dalam kehidupannya sesuai dengan tujuan dan cita-cita pendidikan tersebut.
D. Lingkungan Pendidikan dan Pendidikan Islam
Sebagaimana telah disebutkan diatas mengenai lingkungan. Pendapat lain mengatakan bahwa didalam liingkungan itu tidak hanya terdapat sejumlah faktor pada suatu saat, melainkan terdapat faktor-faktor lain yang banyak jumlah, yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku anak. Tetapi secara aktual hanya faktor-faktor yang ada disekeliling tersebut yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku anak.
Secara faktual bahwa alam sekitar merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor pendidikan yang ada. Dengan demikian alam sekitar merupakan faktor penting pula bagi pelaksanaan pendidikan. Namun demikian faktor alam sekitar akan jelas berbeda bila dibandingkan dengan faktor pendidikan lainnya.
Menurut Drs. Abdurrahman Saleh, ada tiga macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap keberadaan anak, yaitu:
a. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap Agama
Mengenai lingkungan semacam ini ada akalanya berkeberatan terhadap pendidikan agama, dan adakalanya pula agar sedikit tahu tentang hal itu.
b. Lingkungan yang berpegang pada tradisi agama tetapi tanpa keinsyafan bathin. Biasanya lingkungan demikian menghasilkan anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara kebetulan.
c. Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam kehidupan beragama.
BAB III
P E N U T U P
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapatlah penulis simpulkan sebagai berikut :
Yang dimaksud dengan lingkungan ialah segala sesuatu yang berada diluar diri manusia (anak) dan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serta prestasi belajar anak.
Lingkungan informal (keluarga/rumah tangga) merupakan pendidik pertama dan utama sebagai peletak dasar pendidikan dan pembetuk nilai-nilai kepribadian anak. Dengan adanya perhatian dan bimbingan dari orang tua diharapkan akan terbentuk anak-anak yang berprestasi dalam belajar.
Lembaga pendidikan atau sekolah merupakan lembaga pendidikan formal tempat menanamkan ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui bimbingan dan latihan. Belajar yang ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup, dengan lignkungan sekolah yang kondusif akan mengahasilkan prestasi belajar yang baik pula.
Lembaga kemasyarakatan atau masayarakat itu sendiri adalah lembaga pendidikan yang dapat memberikan kesempatan yang leluasa untuk belajar dalam dengan praktek secara langsung (belajar dan bekerja) dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Dengan pendidikan kesadaran kepada masyarakat sebagai bagian dari pendidikan yang sangat penting dan akan memberi pengaruh yang cukup besar bagi keberhasilan atau prestasi belajar pada anak.
Saran-Saran
Hendaknya setiap guru agama Islam dalam melaksanakan tugasnya harus dapat memahami dan mengetahui situasi dan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar pada anak.
Bagi setiap orang tua hendaknya betul-betul memberi perhatian yang cukup mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar pada anak.
DAFTAR KUTIPAN
1 Amran Y.S. Chaniago, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cetakan III, Pustaka Setia, Bandung. 2000, hal. 360
2 WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan XII, Balai Pustaka, 1991, hal 731
3 Departemen Agama, Suplemen Modul Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, 1992. hal 1
4 Ibid
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Shaleh, Drs, Ed. Ilmu Keguruan Seri Paedagonik, Dharma Bhakti, Jakarta, 1979
Amran Y.S. Chaniago, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cetakan III, Pustaka Setia, Bandung. 2000, hal
Burhan, Drs. (Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin), Diktat Pengantar Ilmu Mendidik, 1998
Departemen Agama, Suplemen Modul Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka, 1992.
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan XII, Balai Pustaka, 1991

MAKALAH PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

01.04 Add Comment
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia itu sendiri ingin berbuat yang terbaik, tetapi dalam kehidupannya yang serba maju dimana anak-anak kita sudah banyak terpengaruh budaya luar, sehingga banyak anak usia sekolah yang mengalami perubahan akhlak baik sekolah umum maupun sekolah agama.
Guru agama adalah motor penggerak pendidikan agama karena itu ia adalah pribadi berakhlak yang dicerminkan dalam dirinya. Berdisiplin tinggi, berwibawa, menguasai metode dan memiliki kepemimpinan. Ia harus tekun bekerja memeriksa semua penugasan kepada murid sekaligus memberikan bimbingan dan sangsi.
Orang tua memegang peranan penting dalam melaksanakan pendidikan agama dirumah. Namun yang lebih penting orang tua diharapkan dapat menjadi teladan dalam segala hal.
Karena kita tahu bahwa anak-anak adalah harapan kita semua sebagai generasi penerus Bangsa. Apabila akhlak anak-anak kita rusak, apa yang kita harapkan dari mereka melainkan kehancuran. Oleh sebab itulah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak kita inginkan, maka mulai usia dini perlu kita tanamkan pengisian akhlak kepada anak-anak agar mereka menjadi pemimpin Bangsa yang beriman.
Akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan dibiasakan oleh karena itu ajaran agama diajarkan secara bertahap, juga harus diikuti secara terus menerus bentuk pengalamannya, baik disekolah maupun diluar sekolah.
Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama, tetapi semuanya menjadi tanggung jawab kita bersama. Agar akhlak anak sebagai pemimpin bangsa nantinya akan berhasil membangun tanah airnya untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Karya Tulis ini adalah sebagai berikut :
Sebagai suatu keharusan bagi mahasiswa program D II guna memenuhi sebagian dari tugas wisuda
Untuk menyadarkan kita para orang tua dan masyarakat bahwa pendidikan akhlak itu sangat penting bagi anak usia sekolah dasar agar mereka menjadi anak yang memiliki akhlakul karimah
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak
Aspek pertumbuhan dan prinsip perkembangan
C. Metode Penulisan
Adpun metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut :
Metode Library Reseach studi pustaka menggunakan atau mengumpulkan buku-buku,bahan bacaan yang memuat data-data yang relevan dengan topik yang dibahas.
Metode Deskrptif yaitu berusaha mencaridata dan pendapat dari buku-buku yang ada hubungannya dengan karya tulis inisebagai bahan teoritis yang selanjutnya, data tersebut disusun kembali dalam bentuk tulisan.
D. Tujuan Penulisan
Adapaun yang menjadi tujuan dalam penulisan karya tulis ini antara lain :
Sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan studi program Diploma II PGSD, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Kuala Kapuas
Sebagai bahan bekal penulisan dalam menjalankan tugas sebagaicalon guru dalam pengabdian pada masyarakat.
Menggunakan sevara sistematis tentang sesuatu hal masalah, agar dapat dijadikan sumbangan pemikiran bagi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas dan rekan-rekan mahasiswa.
D. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman dalam penulisan ini maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan masalah-masalah, latar belakang,perumusan masalah,metode penulisan,tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
Dalam bab ini menguraikan tentang pengertian pertumbuhan dan perkembangan anak, proses pertumbuhan dan perkembangan anak aspek pertumbuhan dan prinsif perkembangan.
Bab III : PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
Dalam bab ini menguraikan tentang pertumbuhan agama bagi anak, perkembangan agama pada anak, pembiasaan pendidikan agama pada anak dan pembinaan pribadi anak.
Bab IV : PENUTUP
Dalam bab ini penulis menyimpulkan darisemua uraian yang telah penulis uraikan dalam bab terdahulu sehingga tergambar isi tulisan secara keseluruhan dalam bentuk ringkasan dan setelah uraian penulis simpulkan maka penulis akhiri dengan menyampaikan beberapa saran berdasarkan atas analisa dari uraian diatas.
BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pengertian Pertumbuhan
Pengertian pertumbuhan berbeda dengan perkembangan. Pribadi yang tumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Dalam pribadi manusia baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadi pribadi manusia berubah menjadi kearah kesempurnan.
Adapun dua bagian kondisi pribadi manusia itu meliputi :
Bagian pribadi material yang kuantitatif dan
Bagian pribadi fungsional yang kualitatif
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif pada material pada sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitaif dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menajadiada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas dan sebagainya.
Dari uraian diatas dapatlah kita rumuskan dari pertumbuhan artinya sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Pribnadi material yang kuantitatif: sel kromosom, butir darah, rambut, lemak dan tulang adalah tidak dapat dikatakan berkembang melaikan bertumbuh atau tumbuh. Begitu pla material pribadi lainnya seperti kesan, keinginan, ide dan pengetahuan, selama tidak dihubungkan engan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh.
Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi kepribdian manusia misalnya fungsi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, pemikiran, perasaan dan kemauan setiap fungsi yang disebutkan daiats dapat mengalami perubahan. Perubahan ini tidak dapat dikatakan sebagai pertumbuhan melainkan perkembangan. Oleh karena itu perkembangan menyangkut berbagai fungsi baik jasmaniah maupun rohaniah maka aka salah apabila kita beranggapan bahwa perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau proses psikologis perkembangan adalah semata-mata sebagai pertumbuhan atau proses psikologis.
Menurut Dirto Hadisunoto (1981) menyatakan :
Perkembangan (Depeloment) berarti perubahan (change) melalui proses kehidupan dan sepanjang masa. Dijelaskan pula bahwa perkembangan anak tidak terjadi pada aspek fisik saja (Perkembangan Struktural), tetapi juga pada aspek fungsinya (Perkembangan fungsional).
Perkembangan Struktural
Mengenai gejala pertumbuhan fisik ada dua aspek perubahan yaitu perubahan (grawth) dan kematangan (Naturation) pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif pada tubuh karena bertambahnya umur, bertambah besar, tinggi dan beratnya. Kematangan meliputi perubahan pada bagian dalam diri struktur dan organisasi bagian-bagian tubuh alat-alat tubuh dan jaringan-jaringan otot, perubahan tersebut bersifat kualitatif dan berbeda-beda. Kematangan ialah proses perubahan ( perkembangan ) yang terjadi secara genetis dan pengaruh luar, yang berlangsung seumur hidup.
Perkembangan Fungsional
Berfungsinya suatu organ tubuh di mulai takkala strukturnya telah cukup berkembang dan siap berfungsi. Misalnya jaringan otot teleh dapat di perpendek atau di perkecil sejak dalam pereode pranatal, setelah anak lahir ia akan belajar menggerakkan tangan dan kaki, melihat dan mendengar.
Perkembangan fungsional yang lebih tinggi terjadi lewat proses belajar seperti perkembangan, keterampilan, berbicara dan berkomonikasi dengan sekitarnya dan kemampuan berpikir. Bakal kematangan yang di capai seseorang dalam proses belajar yang di alami ( karena berinteraksi dengan sekitar ) dan pemahamannya meningkat secara sosial dan secara personal.
PROSES PERUBAHAN DARI PERKEMBANGAN ANAK
Proses Pertumbuhan Anak
Antara tumbuhan dan berkembang terdapat perdedaan perisriwa, namun keduanya terjadi secara sambung-menyambung dan saling menunjang. Dengan demikian dalam pertumbuhan terjadi dua proses yang hampir berbarengan, dalam Al-Qur’an disebutkan dalam surah Al-Mu’minuun ayat 12,13 dan 14 yang berkaitan dengan proses kejadian manusia yang berbunyi :
ô‰s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7′s#»n=ß™ `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’Îû 9‘#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜ‘Z9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚sù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù’t±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u‘$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ (bq^IsJ9# : ۱۲ – ۱٤ )
Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S.Al-Mu’minuun : 12-14)
dalam sebuah hadits nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan proses pertumbuhan antara lain dalam
Dan juga terdapat dalam Hadits Nabi Muhammad SAW :
79Œ@[H p*=ãbq3„ MO$Hq„ `ê/‘#mH#`=/šù p)=t ìJÚ„ M1@t # b#
N $J?1 ì/‘ $/H s„ r $4?H !# ]ë;„ MO 79Œ @[H pó×H bq3„ MO
mù ‡ÿ^„ MO‰è™r# ‘ÿP r m?Ù # r mù— ‘ r m?Jã =K1 # m9 A$)„ r
(“‘$s;9#n۱r‘) yr9#
Artinya :
“Bahwasanya seseorang dari padamu di himpun kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi sekumpul darah ( alaqah ) selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging (mudgah)selama itu pula Allah mengutuskan malaikat-malaikat-Nya yang diperintahkan untuk mencatat amalnya, rizkinya, ajalnya dan celaka, kemudian ditiupkan kedalam dirinya roh (H.R. Bukhary).
Dari hadits daiatas menunjukkan bahwa pertumbuhan merupakan proses yang berkesinambungan,mulai dari keadaan sederhana sampai keadaan yang kompleks. Keseimbangan pertumbuhan ini dapat kita renungkan, bagaimana bayi yang lemah tergantung berkecukupan secara berangsur-angsur dapat menjadi orang yang kuat, hal ini disebabkan oleh manusia tumbuh melalui urutan-urutan yang teratur dalam organisanya. Sebagai contoh bayi yang dalam keadaan lemah, hanya dapat berbaring dan bergerak-gerak, lama-kelamaan dapat memiringkan badan, menelungkup dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tentu saja perlu dibantu dengan kegiatan latihan atau belajar.
Proses Perkembangan Anak
Proses perkembangan anak tidak hanya terbatas kepada bertambah besarnya ukuran akan tetapi berdiri dari serentetan perubahan yang berlangsung secara progresif, teratur, jalin menjalin dan terarah kepada kedewasaan (Kematangan). Proses perkembangan itu bukan suatu kejadian yang kacau dan bukan merupakan proses yang terjadi secara kebetulan saja, akan tetapi perkembangan itu terjadi dengan berurutan setahap demi setahap, dan selalu terjadi antara hubungan setiap tahap dengan tahap berikutnya. Adapun pembagian tahapan / fase perkembangan menurut para ahli bukan untuk memisahkan masa yang satu dengan masa mendahuluinya secara mutlak. Dalam rangka mencapai dasar-dasar yang bersendi pada praktek-praktek pendidikan dan perkembangan dapat dibagi sebagai berikut :
Masa Vital (0 – 2)
Masa Kanak-Kanak (2 – 7)
Masa Sekolah (7 – 12)
Masa Remaja (12-18)
Masa Transisi (18-21)
Masa Dewasa (21-24)
Keterangan
Masa Vital (0-2) Tahun
Masa vital ini adalah masa anak sangat membutuhkan pertolongan yang lain. Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, pada masa 6 bulan pertama kurang lebih 2 kali lipat dari berat pada waktu lahir (Bila keadaan anak normal) pada waktu lahir anak belum dapat apa-apa dan hanya bisa dapat mengikuti dengan matanya sebuah benda yang bergerak, kekiri dan kekanan sesuai dengan gerakan benda itu tetapi pada akhir tahun kedua anak akan cakap berjalan, berlari dan dapat menguasai beberapa perkataan.
Masa Kanak-Kanak (2-7) Tahun
Masa kanak-kanak merupakan masa perkmbanga psikis, dimasa ini anak mengalami perkembangan indra yang terbesar. Karena anak pada masa itu sudah cukup berjalan dan berlari-lari dan juga kemampuan bicaranya atau pengajaran bahasanya berkembang sangat cepat. Pada masa ini anak dapat membuat kalimat majemuk dan sering mengemukakan pertanyaan, adapula yang menyebutkan masa individualisme yaitu suatu masa yang menunjukkan kecendrungan suka menolak perintah orang tua atau saran-saran dari orang lain.
Masa Sekolah (7-12) Tahun
Pada masa usia 7-12 tahun anak telah matang mengikuti pelajaran sekolah dasar. Dalam banyak hal pengajaran disekolah dasar dapat dikatakan sesuai dengan perkembangan kognitif para murid sesuai dengan taraf perkembangan, kecerdasan dan pikiran yang tertuju kepada kenyataan maka pelajaran harus diberikan dengan alat peraga penjelasan-penjelasan tak perlu diberikan secara panjang lebar, tetapi yang penting ialah memberikan contoh-contoh yang kongkrit.
Aktifitas anak pada masa ini dapat dibentuk dengan peraturan-peraturan dalam permainan anak telah sanggup diatur oleh peraturan dan anak dapat belajar bergaul dengan orang lain yang mengindahkan hak-hak mereka menguji kemampuan yang terdapat dalam dirinya, dan belajar kerja sama dengan orang lain. Dalam lapangan bersamaan anak cepat merasa puas dan gembira, tetapi belum dapat mengikuti kepuasan dan kegembiraan yang dialami serta kesedihan orang lain.
Masa Remaja (12-18) Tahun
Pada masa remaja, anak banyak mengalami perubahan-perubahan jasmani yang berwujud timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder seperti kumis, suaranya berubah dan lain-lain. Lengan dan kaki mengalami pertumbuhan yang cepat sekali, sehingga anak-anak menjadi canggung dan kaku. Keadaan ini akan menimbulkan gangguna psikis, sehingga antara yang satu dengan yang lainnya tidak dalam keadaan seimbang akibatnya anak sering mengalami pertentangan bathin dan gangguan integrasi.
Pada umumnya, masa remaja anak telah mulai menemukan nilai-nilai hidup, cinta, persahabatan, agama dan kesusilaan, kebaikan dan kebenaran. Maka dari itu dapat dinamakan masa pembentukan dan masa penentuan nilai dan cita-cita. Pada bagian akhir masa remaja anak telah menunjukkan perbedaan minat antara anak laki-laki dan anak perempuan.
Masa Transisi (18-21) Tahun
Pada masa transisi dari masa remaja kemasa dewasa telah mengalami ketegangan bathin, akan tetapi sifat retikal revolusioner masih tetap menggelolra, sedikit demi sedikit ia meminginsafi bahwa orang tidak dapat mencapai segala cita-cita hidupnya. Pada masa ini anak jasmaninya mengalami perkembangan yang paling baik dibanding dengan masa-masa yang lain.
Masa Dewasa (21-24) Tahun
Pada masa ini telah menginjang masa dewasa, setelah masa ini seseorang telah dapat menunjukkan kematangan jasmani dan rohani. Orang yang telah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap, setelah memikirkan secara sunguh-sungguh tentang kehidupan berkeluarga dan telah menunjukkan diri kepada masarakat ramai dengan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lain-lain. Mereka telah mempunyai tanggung jawab sosial baik sebagai ibu dan bapak dalam keluarga maupun sebagai anggota masyarakat.
Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Aspek Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan yang menyangkut perubahan material dan struktur fisiologis, ternyata sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek adapun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain :
Aspek umur mental anak mempengaruhi kapasitas mentalnya
Kapasitas anak menentukan prestasi belajarnya. Hasil penelitian dari para ahli menunjukkan adanya hubungan yang erat antara prestasi belajar dan pertumbuhan atau kematangan anak.
Aspek Penyesuaian pribadi dan sosial dapat mencerminkan dinamika pertumbuhan
Peristiwa yang terjadi pada anak pertumbuhan dan setelah dihadapkan dengan tantangan kultural masyarakat, pertama harapan orang tua, guru dan teman-temannya, tercermin didalam penyesuaian sosialnya.
Aspek permasalahan tingkah laku yang berhubungan dengan pola-pola pertumbuhan
Pertumbuhan biasanya akan menimbulkan situasi tertentu yang menyebabkan problem tingkah laku. Anak-anak yang pertumbuhannya cepat dan lambat atau tidak teratur sering menimbulkan problem pengajaran. Anak memiliki energi yang diperoleh dari makan dan gizi. Biaanya energi anak-anak digunakan untuk aktivitas-aktivitas dan pertumbuhan anak.
Aspek anak sebagai keseluruhan
Anak sebagai keseluruhan, tumbuh dengan adanya kondisi dan interaksi dari setiap aspek kepribadian yang ia miliki, intelek anak berhubungan dengan kesehatan, jasmaninya, sangat dipengaruhi oleh emosinya danm emosi ini dipengaruhi oleh keberhasilannya baik disekolah,dirumah dan dipergaulannya. Pertumbuhan anak, psiokis, intelektual, maupun sosial sangat ditentukan oleh latar belakang pribadinya dan aktifitas sehari-hari
Prinsip Perkembangan Anak
Prinsip-prinsip yang akan dikemukakan adalah prinsip yang mempunyai praktek-praktek pendidik disekolah dan sering juga dimuat dalam buku-buku mengenai psikologi pendidikan
Prinsip-prinsip yang memberikan bimbingan pada anak ialah :
Prinsip kesatuan organis
Anak adalah suatu kesatuan organ. Jadi bukan kumpulan unsur-unsur yang berdiri sendiri. Perkembangan fungsi itu bersangkut paut saling mempengaruhi, dan merupakan satu kesatuan. Prinsip ini menyarankan agar pelajaran yang diberikan di sekolah ada hubungannya satu sama lainnya
Prinsip tempo dan irama perkembangan
Prinsip ini beranggapan bahwa tiap-tiap anak memiliki irama perkembangan yang lambat. Ada anak yang memiliki tempo perkembangan yang lambat, tetapi adapula yang memiliki perkembangan daya berpikirnya seperti orang dewasa. Ada juga anak yang lancar perkembangannya. Dimana pada masa suatu saat anak memiliki sifat-sifat tenang, kemudian disusul adanya sifat pemberontak, goncangan akhirnya tenang lagi demikian selanjutnya.
Prinsip-prinsip golongan (Spesies) mengikuti pada perkembangan umum yang sama
Proses pertumbuhan dan perkembangan adalah sesuatu perubahan yang pada garis besarnya sama semua anak dari segala bangsa
didunia, memang tidak dapat disangkal bahwa lingkungan hidup dan pembawaan yang berbeda-beda, akan tetapi diantara mereka itu terdapat ciri-ciri prinsip pokok yang mewujudkan beberapa kesamaan yang besar.
Prinsip Konvergensi
Menurut prinsip ini pembawaan dan lingkungan rkembangan individu. Hanya dengan adanya kerjasama yang sebaik-bainya antara faktor pembawaan dan lingkungan akan memungkinkan terjadi perkembangan yang memuaskan.
Perkembangan adalah hasil transaksi antara kedua fakor itu. Faktor alam sekitar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Bila pembawaan tidak baik, maka pembawaan tidak akan berkembang dengan baik bila berkembang dalam lingkungan yang jelek.
Dalam hukum konvergensi yang menyatakan sebagai berikut :
Jelas perkembanganmanusia sedikit banyak ditentukan oleh bawaan yang turun menurun oleh aktivitas dan pelatihan atau penentuan manusia sendiri yang dilakukan dengan bebas dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang telah berkembang menjadi sifat-sifat
Prinsip konvergensi berlaku untuk semua makhluk hidup (Tumbuhan hewan dan manusia). Namun demikian terdapat perbedaan besar antara perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan pertumbuhn manusia.
BAB III
PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
A. Pertumbuhan Agama Bagi Anak
Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan latihan-latihan yang dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari keluarga, pendidikan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Apabila seorang pada masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka kelak dewasanya nanti ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan anak yang waktu kecilnya mempunyai pendidikan dan pengalaman agam, mislanya ibu dan bapaknya orang tua beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama. Maka orang itu dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmat hidup dalam beragama. Bagaimana timbulnya kepercayaan agama pada anak-anak, jika anak-anak dibiarkan saja tanpa didikan agama, dan hidup dalam lingkungan tidak beragama, maka ia akan menjadi dewasa tanpa agama.
a. Bagaimana anak mengenal Tuhan ?
Anak-anka mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa, dari kata-kata orang tua atau orang lain yang ada dalam lingkungannya. Pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja. Tetapi setelah ia melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut kepada Tuhan lambat laun tanpa disadarinya akan masuklah pemikiran terhadap Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya. Bahwa pemikiran tentang Tuhan adalah suatu pemikiran tentang kenyataan luar, tetapi untuk melanjutkan pertumbuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan itu, ia harus menderita sedikit pengalaman pahit. Maka ia akan menerima pikiran tentang Tuhan setelah diingkarinya, dalam waktu mana ia sibuk dalam usaha-usaha untuk memasukkannya dalam pembinaan pribadinya.
Sesungguhnya pemikiran sianak tentang Allah tidaklah sekedar arti yang disimpulkan secara sadar dan kata Allah,. Akan tetapi hal tersebut mempunyai dasar yang jauh kealam yang tidak sadar atau dengan lain perkataan mendahuluinya. Yang dalam hal ini perlu kita kenal sedikit pertumbuhan pikiran anak.
b. Pentingnya hubungan anak dengan orang tua
Orang tua adalah pusat kehidupan bagi kehidupan si anak dan sebagai penyebab perkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pikirannya dikemudian hari terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya dipermulaan hidupnya dahulu perasaan si anak terhadap orang tua sangatlah kompleks. Ia adalah campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang selalu melakukan interaksi, pertentangan yang memuncak pada umur menjelang tiga tahun, yaitu dimana hubungannya dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, tetapi meningkat kepada hubungan emosi, dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan memerlukan kasih sayangnya, dan takut akan terjatuh atau kehilangan dari kasih sayangnya.
Pada umur 3 tahun bapak dalam pandangan si anak merupakan suatu pribadi ideal yang sangat sempurna. Keyakinan anak ketinggian martabat bapaknya seolah-olah bapaknya adalah Tuhan. Sampai pada sewaktu-waktu ia mendengar nama Allah disebut orang. Walaupun pendidik pandai memperkenalkan sifat-sifat Tuhan yang baik untuk menarik perhatian anak namun tidaklah mudah bagi anak untuk meninggalkan sikap tunduk, kagum dan memandang suci kepada Allah. Dengan demikian pentingnya orang tua memberikan penghayatan dan pengalaman agamanya, pertumbuhan dan perkenalan agama pada anak banyak dipengaruhi oleh kehidupan dalam keluarga.
c. Peran agama sebagai moral bagi anak
Pertumbuhan moral pada anak, menyebabkan agama anak-anak mendapatkan lapangan baru (moral) maka bertambahlah pula perhatiannya terhadap nasehat-nasehat agama dan kitab suci. Timbulnya sifat-sifat moral bagi agama tercakup didalam peningkatan rasa sosialnya, dimana anak memandang bahwa agama lebih tinggi dari nilai keluarga. Disamping itu dapat dirasakan bahwa anak-anak mulai mengerti bahwa agama bukanlah kepercayaan pribadi, atau keluarga tetatpi adalah kepercayaan masyarakat seluruhnya anak mulai mengerti bahwa agama bukanlah kepercayaan pribadi, atau keluarga tetapi adalah kepercayaan masyarakat seluruhnya anak mulai mengerti bahwa agama yang dulu hanya merupakan pengikat antara anak dan Tuhan, sekarang menjadipengikat antar dia dengan masyarakat melalui Tuhan. Disamping itu juga agam menghubungkan dengan orang atau golongan tertentu dengan berlainan agama.
Apabila agama pada anak telah mencapai sifay-sifat moral seperti ini maka kebaikan yang paling tinggi adalah perintah Tuhan. Pemikiran moral dalam diri anak datangnya terlambat kalau dibandingkan dengan pemikiran alamiah. Hal ini dipandang dari lapangan agama. Karena manusia itu pada umumnya lebih banyak disibukkan oleh pemikiran tentang alam luar sebelum anak tersebut memperhatikan alam yang ada didalam dirinya.
B. Perkembangan Agama Pada Anak
Perkembangan agama pada anak biasanya selalu selaras dengan tingkat usianya, artinya setiap tingkat usia memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dijadikan dasar perkembangan agama pada anak.
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang telah dilaluinya. Apabila seorang anak tidak pernah mendapatkan pendidikan dan tidak memiliki pengalaman tentang agama maka pada waktu dewasanya anak tersebut cenderung kearah yang sifatnya negatif terhadap agama. Masuknya agama dalam pribadi anak itu seharusnya bersamaan dengan pertumbuhan pribadi anak tersebut bahkan kalau bisa sejak dalam kandungan.
Pada umumnya seorang anak mulai mengenal adanya Tuhan melalui orang tua dan lingkungannya dimana kata-kata dan tingkah laku orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan agama pada anak tersebut. Walaupun sianak tidak dapat berbicara ia hanya bisa melihat dan mendengarkan kata-kata yang belum mempunyai arti baginya namun pada saat ini memperhatikan perkembangan agama pada anak, biasanya seorang anak akan menerima apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya, meskipun ia masih belum mampu memikirkan kata-kata tersebut, karena bagi anak menganggaporang tua benar, pandai, dan menentukan dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan agama pada masing-masing anak tidaklah sama, tergantung kepada orang tua mendidik anak-anak tersebut. Seorang anak biasanya cenderung untuk meniru segala tingkah laku orang tuanya yang selalu menyayangi dan melindunginya, yang akhirnya sifat meniru ini juga sampai ke agama tetapi sebaliknya tingkah laku yang kurang baik dan kekerasan yang ada pada orang tua akan menimbulkan kecemasan dalam diri anak, dan hal ini akan menghambat atau menimbulkan kesukaran bagi perkembangan agama pada anak.
Selain dari orang tuanya anak mendapat pendidikan agama juga disekolah dari guru agama, hendaknya guru agama mendekatkan ajaran agama. Dalam kehidupan anak tersebut sehari-hari, dengan menonjolkan sifat pengasih dan penyayang dan setiap anak dapat merasakan bahwa ia termasuk orang yang disayangi oleh Tuhan. Anak seharusnya didekatkan kepada Tuhan dan jangan sampai didalam jiwa anak tertanam rasa taku, yang akhirnya pada masa remajanya terbalik menjadi perasaan tidak takut dan ingin melepaskan diri dari yang menakutkan dengan jalan menghindari agama.
C. Pembiasaan Pendidikan Agama Pada Anak
Sebagai orang tua atau seorang guru maka ia harus menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan yang sesuai dengan kemampuan, kepribadian dan perkembangan jiwa anak tersebut, karena adanya latihan dan pembiasaan anak akan terbiasa sehingga akan terbentuk seikap tertentu pada anak yang makin lama sikap ini makin kuat dan tak tergiyahkan karena telah menjadi bagian dari dalam diri pribadi anak tersebut.
Untuk membina anak agar memiliki sifat terpuji, tidak cukup hanya dengan penjelasan dan pengertian saja sulitnya bagi orang tua atau pendidik untuk menananmkan nilai-nilai terkandung dalam agama maka dengan melakukan pembiasaan dan latihan-latihan dan menolong para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama pada anak karena dengan latihan dan pembiasaan anak cenderung untuk menerima segala apa yang baik dan meninggalkan segala yang buruk. Demikian pula dengan pendidikan agama, dari sejak kecil hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan yang bersifat agama diberikan kepada anak. Dalam melaksanakan pendidikan agama disekolah guru agama haruslah melaksanakan pendidikan agama sesuai dengan umur anak masing-masing, karena kesanggupan untuk mendengarkan penjelasan guru dan orang tua maupun orang dewasa bagi anak terbatas, bahwa apa yang diberikan oleh orang dewasa tidak cocok untuk diberikan kepada anak. Agar agama mempunyai arti bagi anak maka hendaklah disajikan dengan cara yang sesuai atau lebih dekat dengan kehidupan anak itu sehari-hari.
Pengalaman dan pendidikan agama yang anak dapat dari orang tuanya dirumah kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru agama disekolah, karena dirumahlah untuk pertama kali terbentuk unsur penting sikap atau tingkah laku anak terhadap agama.
Pembiasaan pendidikan agama terhadap anak harus dilakukan terus menerus sampai anak menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT dan berbakti kepada kedua orang tua, selain itu diajarkan menghafal do’a-do’a membaca Al-Qur’an, shalat berjamaah atau dimesjid mestinya dibiasakan sejak anak masih kecil, sehingga lama-kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut, walau bagaimanapun pendidikan agama itu akan lebih mudah diterima dan difahami anak melalui latihan-latihan dan pembiasaan yang disesuaikan dengan kecerdasan masing-masing anak
D. Pembinaan Pribadi Anak
Perkembangan agama pada anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama dan semakin banyak unsur agama maka sikap, tindakan, kelakuan, dan caranya menghadapi akan sesuai dengan ajaran agama, diantara masalah yang perlu diketahui oleh para guru agama adalah pembinaan pribadi anak.
Setiap orang tua dan guru ingin membawa anaknya agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji semua dapat disahakan melalui pendidikan baik yang formal (disekolah) maupun informal (dirumah oleh orang tua) setiap pengalaman yang dilalui anak, baik melalui penglihatanm, pendengaran maupun perlakuan yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadi anak.
Orang tua adalah pembinaan pribadi yang pertama dalam kehidupan anak. Sikap anak terhadap orang tua, agama dan pendidikan agama sangatlah dipengaruhi oleh sikap orang tuanya dimana fungsi orang tua terhadap anaknya dapat digambarkan berdasarkan firman Allah SWT Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR (M„sK9# : ٦)
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S.At-Tahrim : 6)
Dari kutipan dalil diatas fungsi orang tua terhadap anaknya adalahsebagai pendidik uatama dalam pembinaan pribadi anak, pembinaan ini melalui latihan-latihan, perbuatan misalnya kebiasaan makan, minum, buang air mandi dan sebagainya.
Hubungan orang tua dengan anak dilaksanakan dengan penuh pengertian dan kasih sayang dapat mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak, yang akan membawa kepada pembinaan pribadi anak yang tenang, terbuka dan muda di didik karena ia mendapat kesempatan yang capak dan baik untuk tumbuh dan berkembang.
Masa pendidikan disekolah dasar, merupakan kesempatan pertama yang sangat baik untuk membina pribadi anak setelah orang tua. Disekolah dasar memiliki persyaratan kepribadia dan kemampuan untuk membina pribadi anak, maka anak yang tadinya sudah mulai tumbuh kearah yang kurang baik dapat segera diperbaiki. Dan anak yang darisemula telah menpunyai dasar yang baik dari rumah dapat dilanjutkan pembinaannya dengan cara yang lebih sempurna lagi dirumah. Bahwa tugas pembinaan pribadi anak disekolah dasar, bukan tugas guru agama saja tetapi tugas guru pada umumnya disamping tugas orang tua. Namun guru agama dalam hal ini sangat menentukan, dan juga dapat memperbaiki kesalahan orang tua, kemudian bersama guru-guru lain membantu pembinaan pribadi anak.
BAB IV
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Sebagai penutup akhir bab ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Pertumbuhan merupakan suatu perubahankuantitatif pada material sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan, dimana perubahan ini hanya pembesaran dan pertuimbuhan jadi yang tidak ada menjadi ada dan sebagainya.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif, yang meliputi perkembangan kepribadian manusia, misalnya pikiran, perhatian dan perasaan.
Guru agama adalah pembina pribadi sikap dan pandangan hidupanak karena itu setiap guru agama harus berusaha membekali diri dengan segala pengetahuan, dan juga harus betul-betul memahami pertumbuhan dan perkembangan anak, agar dapat mendidik yang sesuai dengan kemampuan anak.
Agama merupakan sesuatu yang sangat penting didalam diri seseorang selama hidupnya, karena agama merupakan sumber moral yang tidak akan habis-habisnya.
Pendidikan agama Islam bertujuan terhadap semua aspek kehidupan, namun pada pokoknya adalah untuk membentuk manusia muslim yang beriman teguh, beramal shaleh berkepribadian yang baik, bertingkah laku yang mulia, serta pandai bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
B. Saran-saran
Didalam memberikan latihan-latihan dan pembiasaan agama pada anak maka orang tua atau seorang pendidik hendaklah terlebih dahulu menciptakan suasan yang disenangi anak sehingga dengan demikian akan memudahkan pertumbuhan dan perkembangan agama pada anak.
Pendidikan agama sangatlah penting didalam hidup manusia, oleh sebab itu sebagai seorang pendidik atau guru agama, haruslah membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan erat dengan bidangnya.
Orang tua maupun orang dewasa hendaklah mampu memberikan contoh dan tauadan yang baik bagi anak didalam beribadah
Orang tua harus membekali anak-anaknya dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya, untuk hidupnya dimasa yang akan datang, serta membimbing mereka kearah pengembangan potensi dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mudzakir, Drs. Dkk. Psikologi Pendidikan. CV Pustaka Setia. Bandung
Abdul Wahid, Drs. Mustaqim, Drs. Psikologi Pendidikan. Reneka Cipta. Jakarta. 1991
Lubis Salam, Drs. Menuju Keluarga Sakinah. Peneribit. Terbit Terang. Surabaya
Kartini Kartana, Dra. Peranan Keluarga Memandu Anak. Opcit
M. Ngalim Purwanto, Drs. Psiokologi Pendidikan. 1986
Noehi Nasution, Drs, MA, dkk. Psikologi Pendidikan, Universtas Terbuka. Jakarta
Paimun, Drs, dkk. Psikologi Perkembangan 1-6 .Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
Siti Partini Suwardiman, SU. Psikologi Perkembangan. IKIP Yogyakarta
Zakiyah Z, Dra dan Lilik Sryanti, Dra. Dikatat Ilmu Jiwa Pendidikan

Makalah Kapita Selekta PAI MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KAPITA SELEKTA PAI

01.01 Add Comment
BAB I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang
Dalam makalah ini penyusun membahas tentang pendidikan agama Islam meliputi dasar-dasar pendidikan Agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan Agama Islam, ruang lingkup pendidikan agama Islam serta karakteristik pendidikan agama Islam.
Adapun masalah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini yaitu pentingnya mengetahui tentang pendidikan agama Islam jadi kita sebagai calon guru pendidikan agama Islam yang meliputi dasar-dasar pendidikan Agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan Agama Islam, ruang lingkup pendidikan agama Islam serta karakteristik pendidikan agama Islam

B. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah tentang pendidikan agama Islam meliputi dasar-dasar pendidikan Agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan Agama Islam, ruang lingkup pendidikan agama Islam serta karakteristik pendidikan agama Islam.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan makalah yang kami susun ini adalah :
1. Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang tentang pendidikan agama Islam meliputi dasar-dasar pendidikan Agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan Agama Islam, ruang lingkup pendidikan agama Islam serta karakteristik pendidikan agama Islam.
2. Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen untuk membuat makalah mengenai lembaga atau organisasi pendidikan Islam di Indonesia serta jenis-jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang kami pergunakan dalam pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan library research yaitu metode yang menggunakan buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan tema makalah yang kami buat sebagai bahan utama maupun penunjang dalam pembuatan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam menyimpulkan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam terlebih dahulu dikemukakan pengertian pendidikan dari segi etimologi dan terminology.
Dari segi etimologi atau bahasa, kata pendidikan berasal kata “didik” yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an sehingga pengertian pendidikan adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berpikir.
Kemudian ditinjau dari segi terminology, banyak batasan dan pandangan yang dikemukakan para ahli untuk merumuskan pengertian pendidikan, namun belum juga menemukan formulasi yang tepat dan mencakup semua aspek, walaupun begitu pendidikan berjalan terus tanpa menantikan keseragaman dalam arti pendidikan itu sendiri.
Diantaranya ada yang mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1.
Kata pendidikan berasal dari kata didik yang berarti menjaga, dan meningkatkan. (Webster’s Third Digtionary), yang dapat didefinisikan sebagai berikut.
1. Mengembangkan dan memberikan bantuan untuk berbagai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan pengetahuan, kebijaksanaan, kualitas jiwa, kesehatan fisik dan kompetensi.
2. Memberikan pelatihan formal dan praktek yang di supervisi.
3. Menyediakan informasi.
4. Meningkatkan dan memperbaiki.
Pendidikan Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya H. Haidar Putra Daulay, mengemukakan bahwa Pendidikan Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.
Pendidikan Islam yaitu membimbing jasmani dan rohani berdasarkan hokum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain, kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud Pendidikan Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha-usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama.
Pendidikan Agama Islam juga merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan ber akhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.
Dari pengertian di atas terbentuknya kepribadian yakni pendidikan yang diarahkan pada terbentuknya kepribadian Muslim. kepribadian Muslim adalah pribadi yang ajaran Islam nya menjadi sebuah pandangan hidup, sehingga cara berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan ajaran Islam.
Dengan demikian Pendidikan Agama Islam itu adalah usaha berupa bimbingan, baik jasmani maupun rohani kepada anak didik menurut ajaran Islam, agar kelak dapat berguna menjadi pedoman hidupnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
A. Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam.
Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tempat tegaknya sesuatu. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam, dasar-dasar itu merupakan pegangan untuk memperkokoh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Adapun yang menjadi dasar dari Pendidikan Agama Islam adalah Al-Qur’an yang merupakan kitab suci bagi kita umat Islam yang tentunya terpelihara keaslian nya dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dan tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Baqarah ayat 2 yaitu :
Al-Qur’an sebagai kitab suci telah dipelihara dan dijaga kemurniannya oleh Allah Swt dari segala sesuatu yang dapat merusaknya sepanjang masa dari sejak diturunkannya sampai hari kiamat kelak, hal ini diterangkan dalam sebuah surat dalam Al-Qur’an yaitu surah Al-Hijr ayat 9 yaitu :
 Al-Hadits merupakan perkataan ataupun perbuatan Nabi Muhammad SAW yang memberikan gambaran tentang segala sesuatu hal, yang juga dijadikan dasar dan pedoman dalam Islam, dan sebagai umat Islam kita harus mentaati apa yang telah di sunnahkan Rasulullah dalam Hadistnya, hal ini di jelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 80 yaitu sebagai berikut :
Selain ayat di atas, terdapat juga hadits yang berkenaan dengan mentaati rasul, yang berarti juga menjalani segala sunnah-sunnahnya melalui Al-Hadist yaitu :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ مَا تَمَسَّكْتَمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا كِتَابَ الله ِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ ( رواه إمام مالك (
Selain dari dua dasar yang paling utama tersebut, masih ada dasar yang lain dalam negara kita khususnya seperti yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 29 ayat 1 dan 2. Ayat 1 berbunyi, Negara berdasarkan azas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat 2 berbunyi, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing.
Dalam pasal ini kebebasan memeluk agama dan kebebasan beribadah menurut agama yang dianutnya bagi warga Indonesia telah mendapat jaminan dari pemerintah dan hal ini sejalan dengan Pendidikan Agama Islam dan hal-hal yang terdapat di dalamnya.
B. Tujuan Pendidikan Agama Islam.
Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan. Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.
Zakiah Daradjad dalam Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam mendefinisikan tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu Tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat. Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.
Sedangkan Djamaluddin yang menukil pendapat dari Burlian Somad dalam buku Kapita Selekta menjelaskan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri, berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya adalah mewujudkan tujuan itu yaitu ajaran Allah, secara terperinci, beliau mengemukakan “Pendidikan itu disebut Pendidikan Islam apabila mempunyai dua cirri khas, yaitu (1) Tujuannya membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut ukuran Al-Qur’an, (2) Isi ajarannya adalah ajaran Allahyang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Qur’an yang pelaksanaannya di dalam praktek hidup sehari-hari sebagaiman yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai usaha untuk mengarahkan dan membimbing manusia dalam hal ini peserta didik agar mereka mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan mengenai Agama Islam, sehingga menjadi manusia Muslim, ber akhlak mulia dalam kehidupan baik secara pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan menjadi insan yang beriman hingga mati dalam keadaan Islam, sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 102 yaitu :
 C. Fungsi Pendidikan Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Zakiah Daradjad berpendapat dalam bukunya Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam bahwa Sebagai sebuah bidang studi di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi, yaitu: pertama, menanam tumbuhkan rasa keimanan yang kuat, kedua, menanam kembangkan kebiasaan (habit vorming) dalam melakukan amal ibadah, amal shaleh dan akhlak yang mulia, dan ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugerah Allah SWT kepada manusia.
Dari pendapat diatas dapat diambil beberapa hal tentang fungsi dari Pendidikan Agama Islam yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT yang ditanamkan dalam lingkup pendidikan keluarga.
2. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional
3. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat ber sosialisasi dengan lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
4. Pembiasaan, yaitu melatih siswa untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.
Disamping fungsi-fungsi yang tersebut diatas, hal yang sangat perlu di ingatkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat selain itu Pendidikan Islam juga Mempunyai fungsi secara umum yaitu :
1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang, peranan ini berkaitan dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri
2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan tersebut dari generasi tua ke generasi muda
3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat dan peradaban, dengan kata lain, nilai-nilai keutuhan dan kesatuan suatu masyarakat, tidak akan terpelihara yang akhirnya menyebabkan kehancuran masyarakat itu sendiri. Adapun nilai-nilai yang dipindahkan ialah nilai-nilai yang diambil dari 5 sumber, yaitu : Al-Qur’an, Sunah Nabi, Qiyas, Kemaslahatan umum, dan kesepakatan atau Ijma’ ulama, dan ahli-ahli piker Islam yang dianggap sesuai dengan sumber dasar, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
4. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat.
Jika kita cermati dari arti dan tujuan Pendidikan Agama Islam di atas maka, tentunya dapat kita ketahui bahwa pendidikan Agama Islam tidak dapat dihayati dan diamalkan kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan. Nabi telah mengajarkan untuk beriman dan beramal serta berakhlak baik sesuai dengan ajaran Islam dengan berbagai metode dan pendekatan. Dari satu segi, kita dapat melihat bahwa Pendidikan Agama Islam itu lebih banyak ditujukan pada perbaikan sikap mental yang akan berwujud dalam amal perbuatan, baik dalam segi keperluan diri sendiri maupun orang lain, pada segi lainnya, Pendidikan Agama Islam tidak hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis, Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan amal dan pendidikan iman, dan karena isi dari Pendidikan Agama Islam adalah tentang sikap dan tingkah laku pribadi di masyarakat, maka Pendidikan Agama Islam bukan hanya pendidikan yang berlaku secara individu saja tetapi juga menjadi pendidikan masyarakat.
D. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam.
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan ketiga hubungan manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga identik dengan aspek-aspek Pengajaran Agama Islam karena materi yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Apabila dilihat dari segi pembahasannya maka ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah adalah :
1. Pengajaran keimanan
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang aspek kepercayaan, dalam hal ini tentunya kepercayaan menurut ajaran Islam, inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun Islam.
2. Pengajaran akhlak
Pengajaran akhlak adalah bentuk pengajaran yang mengarah pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya, pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajarkan berakhlak baik.
3. Pengajaran ibadah
Pengajaran ibadah adalah pengajaran tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar siswa mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan pelaksanaan ibadah.
4. Pengajaran fiqih
Pengajaran fiqih adalah pengajaran yang isinya menyampaikan materi tentang segala bentuk-bentuk hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil-dalil syar’i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar siswa mengetahui dan mengerti tentang hukum-hukum Islam dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Pengajaran Al-Quran
Pengajaran Al-Quran adalah pengajaran yang bertujuan agar siswa dapat membaca Al-Quran dan mengerti arti kandungan yang terdapat di setiap ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi dalam prakteknya hanya ayat-ayat tertentu yang di masukkan dalam materi Pendidikan Agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pendidikannya.
6. Pengajaran sejarah Islam
Tujuan pengajaran dari sejarah Islam ini adalah agar siswa dapat mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga siswa dapat mengenal dan mencintai agama Islam.
E. Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah baik yang umum maupun yang khusus, Pendidikan Agama Islam mempunyai karakteristik yang khas diantaranya adalah :
1. Pendidikan Islam merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti.
Pendidikan Agama Islam mengikuti aturan atau garis-garis yang sudah jelas dan pasti serta tidak dapat ditolak dan di tawar. Aturan itu adalah Wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, semua yang terlibat dalam Pendidikan Agama Islam itu harus senantiasa berpegang teguh pada aturan ini.
Pendidikan pada umumnya bersifat netral, artinya pengetahuan itu diajarkan sebagai mana adanya dan terserh kepada manusia yang hendak mengarahkan pengetahuan itu. Ia hanya mengajarkan, tetapi tidak memberikan petunjuk kea rah mana dan bagaimana memberlakukan pendidikan itu.
Pengajaran umum mengajarkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang bersifat relative, sehingga tidak bisa diramalkan ke arah mana pengetahuan keterampilan dan nilai itu digunakan, disertai dengan sikap yang tidak konsisten karena terperangkap oleh. perhitungan untung rugi, sedangkan Pendidikan Agama Islam memiliki arah dan tujuan yang jelas, tidak seperti pendidikan umum.
2. Pendidikan Agama Islam selalu mempertimbangkan dua sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam setiap langkah dan geraknya.
Pendidikan Agama Islam seperti diibaratkan mata uang yang mempunyai dua sisi, pertama; sisi keagamaan yang menjadi pokok dalam substansi ajaran yang akan dipelajari, kedua; sisi pengetahuan berisikan hal-hal yang mungkin umum dapat di indera dan diakali, berbentuk pengalaman factual maupun pengalaman pikir.
Sisi pertama lebih menekankan pada kehidupan dunia sedangkan sisi kedua lebih cenderung menekankan pada kehidupan akhirat namun, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan karena terdapat hubungan sebab akibat, oleh karena itu, kedua sisi ini selalu diperhatikan dalam setiap gerak dan usahanya, karena memang Pendidikan Agama Islam mengacu kepada kehidupan dunia dan akhirat.
3. Pendidikan Agama Islam bermisikan pembentukan akhlakul karimah
Pendidikan Agama Islam selalu menekankan pada pembentukan akhlakul karimah, hati nurani untuk selalu berbuat baik dan bersikap dalam kehidupan sesuai dengan norma-norma yang berlaku, tidak menyalahi aturan dan berpegang teguh pada dasar Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
4. Pendidikan Agama Islam diyakini sebagai tugas suci
Pada umumnya, manusia khususnya kaum muslimin berkeyakinan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari risalah, karena itu mereka mengangapnya sebagai misi suci.
Karena itu dengan menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam berarti pula menegakkan agama, yang tentunya bernilai suatu kebaikan di sisi Allah.
5. Pendidikan Agama Islam bermotifkan ibadah
Sejalan dengan hal yang dijelaskan pada sebelumnya maka kiprah Pendidikan Agama Islam merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah, dari segi mengajar, pekerjaan itu terpuji karena merupakan tugas yang mulia, disamping tugas itu sebagai amal jariah, yaitu amal yang terus berlangsung hingga yang bersangkutan meninggal dunia, dengan ketentuan ilmu yang diajarkan itu diamalkan oleh peserta didik ataupun ilmu itu diajarkan secara berantai kepada orang lain.
BAB III
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Dari judul yang kami bahas dalam makalah ini dapat menyimpulkan bahwa :
1. Pendidikan Agama Islam juga merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan ber akhlak mulia Adapun yang menjadi dasar dari Pendidikan Agama Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama yang berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya.
3. Fungsi pendidikan agama Islam adalah pengembangan, pengajaran, penyesuaian dan pembiasaan.
4. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia.
5. Karakteristik pendidikan agama Islam yaitu yang merujuk pada aturan-aturan yang sudah pasti, mempertimbangkan dua sisi kehidupan yaitu dunia dan akhirat, bermisikan pembentukan akhlak, diyakini sebagai tugas suci dan dijadikan sebagai ibadah.
B. Saran-saran
1. Pelajarilah pendidikan agama Islam yang meliputi dasar-dasar pendidikan Agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan Agama Islam, ruang lingkup pendidikan agama Islam serta karakteristik pendidikan agama Islam.
2. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menerapkan Ilmu Agama dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasyi, Muhammad Atiyah. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Terjemahan Bustami. A Gani dan Djohar Bahry. Bulan Bintang. Jakarta. 1974
Djamaluddin, Drs, H dan Aly Abdullah, Drs. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Pustaka Setia. 1999
Langgulung, Hasan. Asas-asas Pendidikan Islam. Al-Husna. Jakarta. 1987
Marimba, Ahmad D. Pengantar Pendidikan Islam. Al-Ma’arif. 1989
Qutb, Muhammad. Sistem Pendidikan Islam. Terjemahan Salman Harun. Al-Ma’arif. Bandung.1988

MAKALAH Ilmu JIwa Belajar

01.00 Add Comment
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan suatu aktifitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan dalam diri seorang anak, baik dalam pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu relatif konstan dan terbatas. Perumusan itu berlaku bagi segala macam kegiatan belajar dan tidak terbatas pada salah satu bentuk tertentu. Setiap kegiatan belajar akan menghasilkan suatu perubahan pada anak.
Terjadinya perubahan tersebut karena adanya pertumbuhan dan perkembangan. Untuk itulah kami membuat makalah yang berjudul “pertumbuhan dan perkembangan dalam belajar anak”.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi sebagian tugas yang diberikan
2. Untuk mengembangkan pemikiran ilmu pengetahuan
3. Untuk mengetahui lebih dalam tentang ilmu jiwa belajar yang berkenaan dengan hubungan pertumbuhan dan perkembangan dalam belajar anak.
4. Tambahan ilmu pengetahuan bagi kami semua.
C. Batasan Masalah
Untuk lebih mengarahkan pembahasan pada judul yang dikemukakan, maka kami memandang perlu untuk membuat batasan masalah. Adapun batasan pada makalah ini adalah:
1. Hubungan pertumbuhan dalam belajar anak
2. Hubungan perkembangan dan belajar anak.
D. Metode Penulisan
Metode penulisan pada makalah ini adalah:
1. Library Research atau kepustakaan
2. Empiris atau pengalaman-pengalaman kami
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hubungan Pertumbuhan Dalam Belajar Anak
Tumbuh adalah berbeda dengan berkembang. Pribadi yang tumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Oleh karena itu dibedakan antara pertumbuhan dan perkembangan.
Disini pertumbuhan khusus dimaksudkan bagi pertumbuhan dalam ukuran-ukuran badan dan fungsi-fungsi fisik yang murni. Dalam pribadi manusia, baik yang jasmaniah maupun rohaniah, terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju kearah kesempurnaan.
Arti pertumbuhan pribadi sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat adanya pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti sel, kromosom, butir darah, rambut, lemak, tulang adalah tidak dapat di katakan berkembang, melainkan bertumbuh.
Oleh karena itu, dalam belajar anak pertumbuhan merupakan hal penting untuk dapat mencapai suatu pengertian. Tanpa pertumbuhan proses belajar anak akan terhambat, karena material pribadi masih belum tumbuh dengan sempurna.
B. Hubungan Perkembangan Dalam Belajar Anak
Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu proses yang menuju ke depan dan tidak dapat di ulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat di ulangi. Perkembangan menunjukkan pada perubahan-perubahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju.
Perkembangan berhubungan dengan masalah keemasan (manuration) latihan dan proses belajar. Hal ini juga mempengaruhi keadaan motif yang ada pada individu.
Dalam belajar perkembangan anak sangatlah penting. Jika seorang anak sudah memiliki kemampuan-kemampuan dalam belajarnya, maka guru dapat meningkatkan perkembangannya lagi, yaitu:
1. Perkembangan sosialnya
Yaitu perkembangan pada diri anak untuk meningkatkan tingkah laku yang lebih baik.
2. Perkembangan perasaannya
Yaitu perkembangan suatu keadaan kerohanian
3. Perkembangan motorik nya
4. Perkembangan bahasanya
Yaitu perkembangan cara bicara anak.
5. Perkembangan berpikir
Yaitu perkembangan daya jiwa yang dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan anak.
6. Perkembangan dalam pengamatan
7. Perkembangan kesulitannya/religius nya
8. Perkembangan tanggapan, fantasi
9. Perkembangan dalam mengambil keputusan
10. Perkembangan perhatiannya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa:
1. Perkembangan dan pertumbuhan mempunyai perbedaan dalam belajar anak, namun sama-sama mempunyai peran penting bagi anak dalam belajar
2. Dalam belajar hubungan pertumbuhan dan perkembangan dapat menentukan peran anak.
3. perkembangan belajar anak dapat dikembangkan lebih sempurna baik dari segi sosial, bahasa, berpikir dan lain-lain.
B. Saran-Saran
1. Dalam belajar anak sebaiknya perlu diperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya
2. Seharusnya pertumbuhan dan perkembangan dalam belajar anak agar lebih di tingkatkan lagi
3. Dalam mendidik pertumbuhan dan perkembangan jangan terlalu memaksa pada anak karena berakibat buruk.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Penulisan 1
C. Batasan Masalah 2
D. Metode Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Hubungan Pertumbuhan dalam belajar Anak 3
B. Hubungan Perkembangan Dalam Belajar Anak 3
BAB III PENUTUP 6
A. Kesimpulan 6
B. Saran-Saran 6
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
   
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga dapat terselesaikan nya makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan keharibaan junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW serta keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman.
Makalah yang berjudul “Hubungan Pertumbuhan Dan Perkembangan Dalam Belajar Anak” ini di buat untuk memenuhi tugas Dosen pembimbing dan juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang ada pada diri kami, serta untuk menambah wawasan kami selaku mahasiswa.
Mengingat makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang ada pada diri kami. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya kepada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan bimbingan, saran dan informasi sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, kami ucapkan banyak terima kasih semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
Kuala Kapuas, April 2008
Tim Penyusun
Kelompok IV
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Abu AHmadi dan Drs. WIdodo Supriyono, Psikologi Beljara, Solo, 2003
DRs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nurulabiyati, Imu Pendidikan, Semarang, 2001
Drs. H. Abu AHmadi, Psikologi Umum, Jakarta, 2003
Drs. Noehi Nsution, M.A, Dkk, Psikologi Pendidikan Modul I sampai 6, Jakarta, 1998

MAKALAH PROSES TERJADINYA ALAM SEMESTA

00.59 Add Comment
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alam semesta merupakan suatu ruang atau tempat bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda. Langit sebagai atapnya dan bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah satu ruang yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik.
Manusia sebagai makhluk yang terdiri atas berbagai macam pola dan bentuk tetapi diantara makhluk tersebut. Tuhan menciptakan bermacam-macam makhluk tetapi yang paling istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu.

B. Rumusan Masalah
Makalah tentang proses terjadinya alam semesta dan asalmula kejadian manusia. Mencakup beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut :
1. Proses kejadian alam ?
2. Lamanya penciptaan alam ?
3. Asal mula kehidupan ?
4. Asal mula kejadian manusia ?
C. Sistematika Penulisan
Karya tulis ini terdiri dari tiga Bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, dan sistematika penulisan.
Bab II : Pembahasan berisikan tentang proses kejadian alam
: Bersikan tentang asal mula kejadian manusia.
Bab III : Penutup yang terdiri dari kesimpulan
BAB II
PEMBAHASAN
PROSES TERJADINYA ALAM SEMESTA
A. Proses Terjadinya Alam Semesta
Menelaah isi Al-Qur’an yang menerangkan kejadian alam semesta. (Yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan menggulungnya.
Artinya : Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya … (Q.S. Al-Anbiya : 30)
1. Penciptaan Alam
Secara umum alam semesta itu disebut langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantara keduanya, semua sarjana kosmolog dari berbagai aliran dan teori sepakat bahwa kejadian alam semesta melalui proses yang panjang. Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surah Fushilat ayat 11 :
Artinya : Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (Q.S. Fushilat : 11)
Pada mulanya langit berupa asap, dengan demikian tidak mustahil apabila bumi dahulunya berasal dari asap atau gas. Beberapa masa langit yang masih berupa asap hingga menjadi benda langit yang sempurna untuk keseluruhan alam semesta dijadikan dalam enam masa, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surah Qaf Ayat 38 :
Artinya : Dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Q.S.Qaf : 38)
Dan terdapat pula juga dalam surat As-Sajadah Ayat 4 :
2. Lamanya Penciptaan Alam Semesta
Tidak ada yang dapat memastikan masa lamanya penciptaan alam semesta. Dalam Al-Qur’an menerangkan enam masa pemprosesan sempurna. Firman Allah SWT :
Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus : 3)
Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta secara keseluruhan diciptakan dalam enam masa, langit dan bumi tercipta dalam enam masa termasuk apa-apa yang ada diantara keduanya, sebab tanpa itu bumi ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
B. Asal Mula Kehidupan
Dari sempurnanya penciptaan alam semesta dan isinya itulah asal mula kehidupan dimuka bumi.
1. Asal mula kejadian manusia
Manusia adalah termasuk bagian dari alam, namun disamping secara jasmaniah tunduk kepada hukum Tuhan, Sunatullah, dapat juga tidak tunduk kepada-Nya atau membangkang. Hal ini karena manusia diberikan daya untuk memilih antara patuh dan tidak.
Oleh sebab itu manusia akan dimintakan pertanggungjawaban diakhirat, sedang makhluk lainnya tidak. Firman Allah SWT dalam Surah Ahad Ayat 71 :
Artinya : (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (Q.S.Shaad : 71)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia terdiri dari berbagai macam organ dan sifat yang sangat kompleks tetapi semuanya itu dapat dikaji dan dikupas secara mendalam oleh para ilmuan dan ditegaskan kebenarannya oleh Al-Qur’an yang defininya itu tepat. Manusia terjadi atas bermacam-macam unsur yaitu : Tanah, air, ruh yang semuanya berasal dari alam.
B. Saran-Saran
Sebaiknya kita harus menjaga kelestarian alam semesta yang diciptakan oleh sang Khaliq.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mustafa KS (1982)
2. Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an. Jakarta
3. Dr. Swardi. Buku : Petunjuk geologi SMA Kurikulum 1994. Penerbit Balai Pustaka

MAKALAH MANUSIA DAN KEINDAHAN

00.55 1 Comment


BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Ditinjau dari segi bahasa, Keindahan berasal dari kata Indah, diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan.

Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan.
Keindahan dalam arti estetika murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.

Nilai Estetik menurut Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian
keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya.

Renungan berasal dari kata renung, merenung artinya dengan diam-diam
memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung.

Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok,
sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang.

Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut,
sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan dan atau keadaban.

4

BAB II MANUSIA DAN KEINDAHAN

Dalam materi pembahasan tentang Manusia dan Keindahan, ada beberapa hal-hal yang akan dibahas, dimana setiap pointnya mempunyai keterkaitan yang saling berhubungan, diantaranya adalah sebagai berikut : A. PENGERTIAN KEINDAHAN 1. Apakah Keindahan Itu ? 2. Nilai Estetika 3. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan ? B. MAKNA KEINDAHAN C. RENUNGAN D. KESERASIAN E. KEHALUSAN F. MANUSIA DAN KEINDAHAN Dari pembahasan Materi tentang Manusia dan Keindahan diatas, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang keindahan, renungan, keserasian serta kaitannya dengan manusia didalam kehidupan seharihari.

5

BAB III PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEINDAHAN

Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan atau "Beauty" adalah sifat
dari sesuatu yang memberi kita rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan juga dapat memberikan kita rasa keingintahuan tentang hal tersebut semakin terus bertambah. Contohnya jika kita bermusik, kita1. ialah seperti Alam (Pantai, Danau, Gunung), Manusia Hidung, Bibir, Rambut, Kaki, Tubuh), Rumah kita Benda sifat hasil segala akan semakin mencari 'Feel' untuk hati yang indah seni, apa yang cocok mempunyai

Pemandangan Pegunungan, Bunga, Lereng (Wajah, Mata, (halaman,

tatanan perabot rumah tangga dan sebagainya), Suara, Warna, dan sebagainya. Semua itu termasuk indah yang merupakan ciptaan Tuhan secara langsung. Betapa indahnya pemandangan matahari pagi dari timur dan pemandangan sore hari ketika matahari sedang menuju peraduannya di ufuk barat bumi ini. Demikian juga pemandangan yang indah ciptaan Tuhan yang muncul dari perpaduan gunung yang menghijau dengan samudera yang membiru. Indahnya pemandangan alam lepas, apalagi saat bulan purnama yang sejuk dengan desiran angin sepoi-sepoi basah. Keindahan seperti itu sudah merupakan keindahan yang universal. Semua lapisan masyarakat akan merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Karena dalam Islam sendiri, sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta'ala indah dan suka kepada keindahan”. (HR. Muslim) Tidak demikian halnya dengan keindahan yang merupakan karya cipta manusia. Keindahan yang merupakan karya cipta manusia itu dibatasi oleh ruang dan
1

http://id.wikipedia.org/wiki/Keindahan

6

waktu. Meskipun keindahan karya cipta manusia itu universal, akibat pemaknaannya akan berbeda. Perbedaan itu dibatasi oleh ruang dan waktu. Keindahan juga identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah karena dasarnya tidak benar.

Gambar 2 : Lukisan Monalisa, Indah, sesuatu yang mengandung kebenaran (bukan tiruan/Asli)

Keindahan juga bersifat Universal, yang tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan. Kemudian pertanyaannya apakah keindahan itu? Apakah nilai Estetik itu? Yang mendorong manusia menciptakan keindahan. 1. Apakah Keindahan itu ? Menurut sejarah Yunani kuno abad 18, pada saat itu pengertian keindahan telah di pelajari oleh para Filsuf. Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan), dalam bahasa Inggris Keindahan diterjemahkan dengan kata “Beautiful”, bahasa Perancis “Beau”, Italia dan Spanyol “Bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa Latin “Bellum”, akar katanya adalah “Bonum” yang berarti Kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi “Bonellum” dan terakhir dipendekkan menjadi “bellum”. Kemudian menurut luas cakupannya, Keindahan dibedakan menjadi tiga macam pengertian, yaitu : • Keindahan Dalam Arti Luas

7

Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya dari pemikiran Plato, yang menyangkut adanya watak yang indah dan hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan; Plotinus yang berbicara tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah atau bisa pula disimak dari apa yang biasa dibicarakan oleh orang-orang Yunani mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Tetapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetik disebutnya

“Syimmetria”, untuk keindahan berdasarkan pengelihatan. (misalnya
pada seni pahat dan arsitektur) dan “Harmonia” untuk keindahan bedasarkan pendengaran (musik). Jadi pengertian yang seluar-luasnya meliputi : o Keindahan Seni o Keindahan Alam o Keindahan Moral o Keindahan Intelektual • Keindahan Dalam Arti Estetika Murni Hal ini murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. • Keindahan Dalam Arti Terbatas Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. Filsuf seni merumuskan keindahan sebagai kesatuan hubungan yang terdapat antara penerapan-penerapan inderawi kita (Beauty is unity of formal realitions of our sense percepctions). Thomas

Aquinos (1225-1274) mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu
yang menyenangkan bila mana dilihat (Id qout visum placet).

2. Nilai Estetika

8

Kata estetika berasal dari kata Aesthesis yang artinya perasaan atau sensitivitas, karena memang pada awalnya pengertian ini berhubungan dengan lidah dan perasaan. Dalam pengertian teknis, Estetika adalah ilmu keindahan atau ilmu yang mempelajari keindahan, kecantikan secara umum. Pengertian ini berdasarkan kepada, bila kita memandang sesuatu obyek dan obyek itu dapat memberikan rasa senang, puas dan sebagainya yang sejalur dengan kata tersebut, maka dapat dikatakan obyek yang dipandang itu mengandung keindahan. Dalam perkembangannya, pengertian ini, kemudian berubah meluas, tidak lagi berkaitan dengan lidah dan perasaan, tetapi berhubungan dengan pikiran, etika dan logika. Teori The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai Moral, nilai Ekonomi, nilai Pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut Nilai

Estetik.
Masalah sekarang ialah: apakah Nilai Estetik. itu? Dalam bidang filsafat, istilah nilai sering kali dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (Worth) atau kebaikan (Goodness). Dalam “Dictionary Of Sociology And Related Science” diberikan rumus tentang nilai sebagai berikut : “The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality

of any object which causes it be of interest to an individual or a group” (Kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok).
Hal itu berarti, bahwa nilai ini adalah semata-mata adalah realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenarannya. Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan objektif, atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai

9

kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting ialah : Nilai Ekstrinsik dan Nilai Instrinsik.

Nilai Ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau
sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/Contributory value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Nilai Instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contoh : 1) Puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik. Sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut Nilai Intrinsik. 2) Tari, tarian Kecak dari Bali suatu tarian yang halus segala macam jenis pakaian dan gerak-geriknya. Dan merupakan nilai ekstrinsik.

Gambar 3 : Tari Kecak, mengandung nilai Ekstrinsik dan Instrinsik

3. Apa Sebab Manusia Mencipta Keindahan Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang. Kalau pelukis wanita lebih cantik dari keadaan sebenarnya, justru tidak indah. Karena akan ada ucapan “lebih cantik dari warna aslinya”. Bila ada pamain drama yang berlebih-lebihan, misalnya marah dengan meluap-luap padahal kesalahan kecil, atau karena

10

kehilangan sesuatu yang tak berharga kemudian menangis meraung-raung, itu berarti tidak alamiah. Dibawah ini adalah alasan dan tujuan manusia menciptakan keindahan :

1. Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang sudah tidak sesuai dengan kondisi dan keadaan pada zaman sekarang, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang dapat merugikan nilai-nilai kemanusiaan dan dipandang sebagai hak-hal dapat mengurangi nilai moral bermasyarakat, sehingga bisa dikatakan tiodak indah.

2. Kemerosotan zaman
Keadaan yang merendahkan derajat dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan bejat terutama dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa menghiraukan ketentuanketentuan agama dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Yang demikian itu tidak baik, yang tidak baik iu tidak indah.

3. Penderitaan Manusia
Penderitaan merupakan hal yang pernah dialami semua orang, dan hal ini merupakan resiko hidup manusia, yang diberikan oleh Tuhan agar manusia sadar untuk tidak menjauh dariNya. Walaupun penderitaan adalah resiko hidup manusia, tapi hampir semua orang menyukai adanya penderitaan, dan menganggap penderitaan merupakan hal yang tidak baik, yang tidak baik iu tidak indah.

4. Keagungan Tuhan
Keindahan merupakan anugerah yang diberikan oleh manusia dan maka dari itu kita sebagai manusia wajib mensyukurinya, dan sebagian dari kita mengungkapkan rasa syukur tersebut dalam bentuk karya seni, seperti melukis pemandangan, yang merupakan hasil karya seni yang Agung yang diciptakanoleh Allah untuk kita sebagai hambanya.

11

B. MAKNA KEINDAHAN Menjawab pertanyaan sekitar apa itu keindahan, boleh jadi merupakan pekerjaan yang sulit. Ini kalau yang dituntut jawaban yang bisa memuaskan semua pihak. Karena keindahan intu bersifat relatif, dan tiap orang mempunyai penilaian yang berbeda-beda. Kesulitan semacam itu memang bisa dimengerti oleh karena sampai sekarang ini bisa kita temukan sebagai batasan atau pengertian tentang keindahan yang celakanya, berbeda satu sama lain. Padahal, yang namanya keindahan itu secara akademis sudah dikaji manusia sejak abad ke delapan belas, pada saat para filsuf banyak tertarik untuk mengembangkan estetika, salah satu cabang dari filsafat yang tidak lain berbicara soal keindahan. Beberapa definisi keindahan berdasarkan pendapat para ahli antara lain menjelaskan (Gie, 1996 : 13-14) :

Sifat dari suatu benda yang memberi kita kesenangan yang tidak berkepentingan yang kita bisa memperolehnya semata-mata dari memikirkan atau melihat benda individual itu sebagaimana adanya Mortiner Adler

Sesuatu yang menyenangkan ketika dilihat. Aristoteles, selain yang baik juga adalah menyenangkan Thomas Aquinas

Kualitas yang mendatangkan penghargaan yang mendalam tentang bebagai nilai atau ideal yang membangkitkan semangat Charles J. Bushell Keindahan adalah perpaduan dari sesuatu yang baik bentuknya dengan yang bertenaga hidup. Kini studi estetika sebagai ilmu yang dipelajari bukanlah cara untuk menikmati keindahan, tetapi usaha untuk

12

memahami keindahan. Walaupun rasa keindahan bersifat subyektif, bergantung kepada rasa perseorangan. Secara keilmuan dapat diobjektifkan

Samuel Coleridge
Sekedar penguat konstatasi diatas, baik juga dilihat beberapa persepsi tentang keindahan berikut ini2 :

Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat Tolstoy Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau, “Beauty is an order of parts in their manual relations and in an relation to Baumgarten the whole” Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi yang indah adalah nyata dan yang Shaftesbury nyata adalah yang baik

Keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang

2 Dikutip dengan sedikit perubahan dari I Made Suru, “ Manusia dan Keindahan” dalam M. Habib Mustopo ( )., Manusia dan Budaya, Usaha Nasional, Surabaya, 1983, hal. 112-114.
Ed

13

David Hume Yang indah adalah yang paling banyak Hamsterhuis mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang menyenangkan Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu. Kahlil Gibran Winchelmann Keindahan adalah cinta yang tidak memberi namun menerima Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat Sulzer memupukan rasa moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral
Selain dari pengertian keindahan tersebut di atas terlalu sayang kalau tidak kita lihat pendapat Emmanuel Kant berikut ini : Menurut Kant, keindahan itu bisa di lihat dari 2 segi, yaitu dari segi arti yang Subjektif dan dari segi arti yang Objektif. Dari segi arti subjektif keindahan dikatakan sebagai sesuatu yang tanpa harus direnungkan ataupun disangkut-pautkan dengan kegunaan-kegunaan praktis sudah bisa mendapatkan rasa senang pada diri si penghayat; sebagai keserasian yang dikandung objek sejauh objek tersebut tidak ditinjau dari segi gunanya. Dengan melihat demikian beragamnya pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan mengecewakan kita yang memuaskan. Namun demikian, dari berbagai pengertian yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok pengertian tersendiri, paling tidak kita bisa menangkap arah atau kecenderungan dari suatu pengertian yang dikemukakan seseorang sesuai dengan pengelompokan seseorang sesuai dengan pengelompokan-pengelompokan yang ada. Pengelompokan-pengelompokan yang bisa kita buat adalah sebagai berikut : 1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya. Dalam hal ini ada 2 pengertian keindahan, yaitu yang bertumpu pada objek dan subjek. Yang pertama, yaitu yang bertumpu

14

Keindahan Objektif, adalah keindahan yang memang ada pada objeknya
sementara kita sebagai pengamat harus menerima sebagaimana mestinya. Sedangkan yang kedua, yang disebut Keindahan Subjektif; adalah keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subjek yang melihat dan menghayatinya. Disini keindahan diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penikmat dan penghayat (Subjek) tanpa dicampuri keinginan–keinginan yang bersifat praktis, atau kebutuhan-kebutuhan pribadi si penghayat. 2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasar pada cakupannya. Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa membedakan antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang memang indah. Perbedaan semacam ini lebih tampak, misalnya dalam penggunaan bahasa inggris yang mengenalnya istilah Beauty untuk keindahan yang pertama, dan isitilah The beautiful untuk pengertian yang kedua, yaitu benda atau hal-hal tertentu yang memang indah. 3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas-sempitnya. Dalam pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas. Dari apa yang dikemukakan di atas, dua hal bisa kita petik, yaitu : Pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna relatif, yaitu sangat tergantung kepada subjeknya. Secara demikian, upaya memperoleh pengertian yang jernih tentang keindahan tidak bisa hanya bertumpu pada definisi-definisi yang bersifat perorangan. Kendatipun dikemukakan seorang filsuf sekalipun. Langkah yang barangkali, bisa membantu adalah dengan mencoba menemukan ciri-ciri umum dari keindahan, baik yang ada pada semua benda ataupun semua kualis. Dalam hubungan ini Herbert Read pernah mengemukakan, bahwa : “Beuty is unity of formal relation of our sense perceptions”. Keindahan adalah suatu kesatuan hubungan formal dari pengamatan kita yang dapat menimbulkan rsa senang. Keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih dalam diri subjek yang melihatnya, serta bertumpu pada ciri-ciri dari objek yang sesuai dengan rasa senang itu sendiri.

15

Kalau kita amati pemikiran Read tersebut, boleh jadi timbul kesan bahwa itulah pemikiran yang paling mendekati kebenaran. Akan tetapi kalau kita amati dengan lebih mendalam lagi, tampak bahwa konsep Herbert Read terlalu bertumpu pada aspek sensual atau jasmaniah, dan kurang memberikan porsi pada objek yang diamati atau yang dimiliki keindahan itu sendiri. Padahal, yang namanya keindahan itu tidak hanya merupakan perpaduan pengamatan mata, tetapi batiniah. Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada kenikmatan penglihatan sematalebih dalam dari itu, juga merupakan perpaduan pengamatan batiniah. Itulah sebabnya Al-Ghazali memasukkan nilai-nilai spiritual, moral dan agama sebagai unsur-unsur keindahan. Disamping sudah barang tentu unsurunsur yang lain . Dari apa yang dikemukakan diatas, satu kenyataan sekali lagi menghadang kita, bahwa sulit untuk memberikan jawaban yang memuaskan atas pernyataan apa itu keindahan ? itulah sebabnya dalam estetika modern orang lebih suka berbicara keindahan dengan mengaitkan pada dunia seni dan pengalaman estetik. Ini tidak lain disebabkan karena seni dan pengalaman estetik bukanlah pengalaman yang abstrak, melainkan gejala konkrit yang dapat ditelaah dengan pengamatan secara empirik ataupun melalui penguraian yang sistematik.

C. RENUNGAN Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal. Renungan berasal dari kata renung, merenung artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sama lain berbeda, meskipun objek yang direnungkannya sama, lebih pula apabila objek renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkannya itu bergantung kepada objek dan subjek. Setiap kegiatan untuk merenung atau mengavaluasi segenap pengetahuan yang dimiliki dapat disebut berfilsafat. Jadi berfilsafat adalah terjadinya proses pembicaraan, evaluasi dengan hati kita sendiri mengenai suatu peristiwa. Contoh

16

hasil renungan yang menghasilkan pengetahuan yaitu Newton dengan gaya gravitasinya3. Akan tetapi tidak semua orang mampu berfikir kefilsafatan. Pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri kepada penalaran. Penalaran adalah proeses berpikir yang logik dan analitik. Berpikir merupakan kegiatan untuk menyusun pengetahuan yang benar. Berpikir logik menunjuk pola berpikir secara luas. Kegiatan berpikir dapat disebut logik ditinjau dari suatu logika tertentu. Maka ada kemungkinan suatu pemikiran yang logik akan menjadi tidak logik bila ditinjau dari sudut logika yang lain. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang juga menyandarkan diri kepada suatu analisis. Analisis adalah kegiatan berpikir berdasarkan langkahlangkah tertentu, sehingga pengetahuan yang diperoleh disebut pengetahuan tidak langsung. Pemikiran ilmiah (keilmuan) dan pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri kepada logika analitik. Hanya saja pemikiran kefilsafatan mempunyai karakteristik sendiri yang berbeda dengan karakter keilmuan. Pemikiran kefilsafatan mempunyai 3 macam ciri, yaitu: 1. Menyeluruh, artinya pemikiran yang luas, bukan hanya ditinjau dari sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain. Hubungan ilmu dengan moral seni dan tujuan hidup. 2. Mendasar, artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental (keluar gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpjak bagi segenap bidang keilmuan. 3. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang di dapat diijadikan dasar untuk pemikiran-pemikiran yang baru. selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan

Metafisika adalah cabang filsafat yang paling umum, mendasar dan kritik
spekulatif. Renungan atau pemikiran yang dibahas dalam modul ini ialah yang berhubungan dengan keindahan. Setiap hasil seni lahir dari hasil renungan. Tanpa direnungkan hasil seni tidak akan mencapai keindahan. Renungan atau pemikiran yang berhubungan dengan keindahan atau penciptaan
3

keindahan

didasarkan

atas

tiga

macam

teori,

ialah

Teori

http://www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1

17

Pengungkapan, Teori Metafisika, dan Teori Psikologis. Masing-masing dari teori itu
ada tokohnya. Dalam Teori Pengungkapan dikatakan oleh Benedetto Croce, bahwa seni adalah pengungkapan kesan-kesan. Dalam Teori Metafisika, Plato mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi, sebagai realita Ilahi itu. Karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan Nimenis (Tiruan) dari realiti dunia. Sedangkan dalam Teori Psikologis, dinyatakan bahwa sadar dari seorang seniman. Adapun karya seninya itu merupakan bentuk berselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Dari teori permainan yang masih tergolong teori Odikologik dengan tokohnya Freidrick Schiller dan Herbert Spencer, Schiller menyatakan bahwa asal mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (Play Impulse.)

Gambar 12 : Freidrick Schiller “Play Impulse”

Pada proses jiwa seniman pada waktu merenung dalam rangka menciptakan seni, menurut Keats selalu diliputi rasa ragu-ragu, takut, ketidaktentuan, misterius (Negative Capability). Justru seniman yang tidak memiliki kemampuan negatif tidak mampu menciptakan keindahan. Kemampuan negatif ini identik dengan proses mencari. Mencari yang dimaksud ialah mencari keindahan, karena yang bersangkutan merasa belum puas atas keindahan yang telah diciptakan. Pengertian yang dekat dengan kemampuan ialah Intensitas. Kekurangan-kekurangan Intensitas ini erat hubungannya dengan ketidakberesan imjinasi yang berarti seniman tersebut tidak akan dapat mendapatkan keindahan. Selain daripada itu Keats menyatakan, bahwa untuk mengatasi ketakutan ialah berkuasanya hal-hal yang sesaat. Baginya hal-hal yang sesaat itu merupakan pelatuk yang meledakkan imajinasi, dan imajinasi ini yang membentuk konsep keindahan. Selanjutnya konsep keindahan adalah abstrak. Konsep itu baru dapat berkomunikasi setelah diberi bentuk. Seperti halnya Gesang, setelah ia bermain di

Bengawan Solo ia merenung. Ia menemukan konsep keindahan. Tetapi konsep 18

keindahan belum berkomunikasi, barulah berkomunikas setelah diberi bentuk, yaitu lagu “Bengawan Solo” yang terkenal itu4.

D. KESERASIAN Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang. Perpaduan misalnya orang berpakaian antara kulit dan warnanya yang dipakai cocok. Sebaliknya orang hitam memakai wana hijau, tentu makin hitam. Warna hijau pantas dipakai oleh orang berkulit kuning. Atau ke pasar menggunakan pakaian pesta, atau sebaliknya berpesta menggunakan pakaian santai, dan lain-lain. Hal seperti ini tentu tidak serasi dan kurang cocok, kurang kena. Dan tentu akan dikatakan oleh setiap orang “Sayang” atrau kata-kata lain yang menunjukkan kekecewaan. Oleh karena yang memandang itu merasa kecewa dengan adanya hal yang kurang serasi. Dalam memadu rumah dan halaman, rumah yang bagus dengan halaman luas dan tersusun rapi dengan bunga-bunga yang indah, orang akan memuji keserasian itu. Tetapi sebaliknya, rumah yang bagus yang tidak mempunyai halaman tentu orang akan mengatakan “Sayang”. Jadi dalam hal memadu rumah dan halaman itu ada unsur ukuran-ukuran yang seimbang. Dalam berpakaian sangat diutamakan keserasian warna dan bentuk serta potongan tubuh. Atau dapat juga kita kagum atas kecantikan wanita dan kecakapan pria pada waktu duduk. Setiap orang melihat terheran-heran melihat wajahnya. Hampir semua mata memandang ke arah wanita atau pria yang dikagumi semua yang hadir itu. Tetapi setelah berdiri, semua orang mengeluh “Sayang”, karena tinggi orang itu tidak sesuai dengan harapan kita, ternyata terlalu pendek hal seperti itu juga menyatakan ukuran. Lagu merupakan pertentangan suara tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lembut yang terpadu begitu rupa, sehingga telinga kita dibuat asyik mendengarkan dan hati kita merasa puas. Tetapi apabila terjadi sekonyongkonyong suara yang seharusnya menurut rasa kita menanjak justru kebalikannya, kita tentu akan kecewa. Dalam hal lagu, irama yang indah itu merupakan pertentangan yang serasi.
4

Drs. Suyadi M.P., Buku Materi Pokok IBD, Depdikbud 1984 hal.19.

19

Karena itu, dalam keindahan itu, sebagian besar ahli pikir mejelaskan, bahwa keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualita/pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal; Kualita yang paling sering disebut adalah Kesatuan (Unity), Keselarasan (Harmony), Ketangkupan (Symetry), Keseimbangan (Balance) dan Pertentangan (Contrast). Selanjutnya dalam hal keindahan itu dikatakan tersusun dari berbagai keselarasan dan pertentangan dari garis, warna, bentuk dan kata-kata. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa Keindahan adalah suatu kumpulan hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.5 Keserasian identik dengan Keindahan. Keindahan adalah suatu susunan keserasian yang dapat menciptakan kesenangan bagi penglihatan dan pendengaran6. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Pendapat lain mengatakan, bahwa pengalaman estetik sebagai suatu keselarasan dinamik dan perenungan yang menyenangkan. Dalam keselarasan itu seseorang memiliki perasaan seimbang dan tenang dan mempunyai citarasa akan sesuatu yang berakhir dan merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan yang menyenangkan hati dan ingin memperpanjangnya. Dalam perimbangan sebagai cabang Teori Objektif dinyatakan bahwa Keindahan merupakan suatu kualita dari benda. Contoh untuk itu ialah bangunan arsitektur Yunani Kuno yang terdiri dari atap yang bersusun yang ditopang tiangtiang besar dengan ukuran yang seimbang, sehingga tampak harmonis dan serasi. Atap yang bersusun itu tercipta dari hubungan bagian-bagian yang berimbang berdasarkan perbandingan angka-angka.

Mazhab Pythagoras yang menciptakan teori proporsi itu mengemukakan
bahwa nada-nada yang dikeluarkan oleh seutas senar tergantung dari panjangpendeknya senar. Dalam seni ada 6 asas. Asas-asa itu ialah Kesatuan Total, Tema, Tema Variasi, Keseimbangan, Perkembangan dan Tatajenjang. Matematika mempunyai peranan penting dalam seni, terutama dalam cabang seni bangunan, seni lukis dan seni musik. Keserasian tidak ada hubungan dengan kemewahan. Sebab keserasian merupakan perpaduan antara warna, bentuk dan ukuran. Atau keserasian merupakan pertentangan antara nada-nada tinggi-rendah, keras-lembut, dan
5 6

Ibid, hal. 22 http://www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1

20

panjang-pendek. Kadang-kadang kemewahan menunjang keserasian, tetapi tidak selalu.

E. KEHALUSAN Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan dan atau keadaban. Halus bagi manusia iu sendiri ialah berupa sikap, yakni sikap halus. Sikap halus adalah sikap lembut dalam menghadapi orang. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya. Halus itu berarti sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang sedang bermusuhan. Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama. Sebab itu orang yang bersikap halus atau lembut biasanya suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong orang lain. Sikap lembut merupakan perwujudan pula dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana dalam pergaulan. Sikap halus juga dimiliki orang yang bersikap rendah hati. Karena orang yang bersikap rendah hati adalah orang yang halus tutur bahasanya, sopan tingkah lakunya, tidak sombong, tidak membedakan pangkat dan derajat dalam pergaulan. Kehalusan atau kelembutan atau sebaliknya kekerasan itu yang menilai orang lain, orang yang dihadapi atau orang yang menyaksikan. Sudah tentu yang dinilai adalah gerak laku, roman muka, tutur bahasa, dan sebagainya. Angota badan yang melahirkan sikap kehalusan itu ialah Kaki, Tangan, Kepala, Mulut, Bibir, Mata, Bahu. Selain itu roman muka, perkataan, pemilihan kata, penyusunan kalimat dan irama bahasa juga dapat dinilai halus dan tidaknya. Bagian Rohaniah yang melahirkan sikap : Kemauan, Perasaan dan Pikiran atau Karsa, Rasa dan Cipta. Tiga unsur Rohaniah ini saling berkaitan, saling mempengaruhi dan mewujudkan tingkah laku, tutur bahasa, perbuatan yang semuanya itu dapat dinilai kehalusan dan kekasarannya.

21

Cipta, rasa dan karsa itu membuat orang bergerak, karena itu disebut “Trias

Dinamika”.
Prinsip-prinsip hidup kekeluargaan harus didasarkan kepada cipta, kasih, keadilan, kejujuran, setia atau loyal, tertib, disiplin, berkorban dan bagi orang tua perlu adanya satu komando dan kesatuan sikap. Pergaulan yang didasarkan pada prinsip itu tentu akan melahirkan kehalusan dalam pergaulan, sekurangkurangnya ketentraman dan kesejahteraan. Masyarakat adalah lapangan pergaulan. Masyarakat terkecil adalah keluarga, yaitu orang-orang serumah. Masyarakat yang agak luas ialah tetangga, kawan sekolah, dan sebagainya. Dalam bergaul harus juga diperhatikan pakaian dan cara berpakaian. Karya seni adalah hasil ciptaan manusia yang mempunyai nilai-nilai tertentu. Nilai itu antara lain, Nilai Inderawi, Nilai Bentuk, Nilai Pengetahuan, dan Nilai Ide, temu dan dalil-dalil keadilan. Nilai-nilai itu terwujud dalam bentuk lahir yang dapat dinikmati oleh indera kita (Mata, Telinga), sehingga memuaskan hati kita. Hasil seni sangat berpengaruh terhadap jiwa dan perbuatan manusia. Banyak orang yang menangis karena seni (Seni Drama Film, Seni Suara), tanpa disadari banyak orang melenggang-lenggang karena irama musik. Banyak orang merasa tentram, damai, dan bahagia mendengarkan lagu-lagu yang tenang menghanyutkan.

F. MANUSIA DAN KEINDAHAN Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak dan keinginan pada hewan bersumber dari naluri. Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak dan keinginan manusia itu pun bersifat demiikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni, untuk menciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah

22

bukan rahasia lagi bahwa yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain adalah sesuatu yang “Baik”, yang “Indah”. Maka “Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana keindahan itu peraasaan “(ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu. Keindahan yang bersifat jasmani yang dimaksudkan ialah keindahan yang dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ indera manusia; baik indera penglihatan maupun indera pendengaran. Keindahan yang bersifat rohani dimaksudkan keindahan yang dapat “menyenangkan” atau “memuaskan“ batin manusia. Tetapi perlu segera dipahami bahwa walaupun secara material keduanya dapat dibedakan, secara Esensial keduanya tidak dapat dipisahkan; karena pada akhirnya “Unsur kemanusiaan” itulah yang harus menjadi penentunya. Sebuah lukisan yang secara lahiriah “menyenangkan” tetapi jika “batin” manusia menolaknya karen lukisan itu dapat ”merusak”. Kemanusiaan manusia, maka lukisan itu tidak berhak disebut indah. Kodrat manusia selalu mendambakan sesuatu yang baik, yang dapat menyempurnakan kemanusiaannya. Disadari atau tidak setiap manusia tidak senang terhadap sesuatu yang jorok, yang tidak baik, dan yang merendahkan martabatnya. Karena itu “Keindahan” bagi manusia sebenarnya bukan sekedar sesuatu yang menjadi “harapannya“ melainkan merupakan sesuatu yang “harus

diusahakan adanya”. Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil
pemikiran penyair romantik Inggris, John Keats. Dibukunya yang ditulis tahun 1817, Endymion, terapat definisi tentang Keindahan semacam ini : “A thing of

beauty is a joy forever : It’s loveliness increases; it will never pass into nothingness”.
“Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-lamanya : Kemolekannya bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan”.

Gambar 13 : John Keats Pengusung konsep “Endymion”

23

Persepsi manusia terhadap keindahan antara yang satu dengan yang lain itu tidak sama. Sebab persepsi manusia terhadap keindahan sangat ditentukan oleh daya penggerak yang menjadi sumber kehendak atau keinginan terhadap keindahan itu sendiri. Persepsi keindahan yang muncul dari akal dan budi dapatlah disebut keindahan alam arti yang sebenarnya; sedangkan keindahan yang muncul dalam dorongnan nafsu merupakan Keindahan Semu. Keindahan seperti itu tentu saja tidak akan diterima oleh “ Kemanusiaan” manusia, yaitu akal dan budi, karena keindahan seperti itu bukannya untuk menyempurnakan “Kemanusiaan manusia”, melainkan justru sebaliknya. Berbicara tentang keindahan tak akan lepas dari pengertian Objektif maupun Subjektif. Artinya ada Keindahan Objektif dan Keindahan Subjektif. Secara asasi keindahan Objektif, ada pada sesuatu benda atau barang. Sifatnya abadi dan universal, selama benda itu belum berubah dari keadaan semula. Keindahan yang abadi tidak terikat oleh waktu dan perkembangan mode. Disenangi atau tidak ia tetap ada. Keindahan objektif tidak tergantung kepada asas kegunaan (Manfaat) lahiriah ataupun yang bersifat material. Keindahan subjektif sangat bergantung kepada selera perorangan, karena sangat relatif. Ia bersumber dari asas kegunaan benda tadi bagi masing-masing individu. Jadi sangat relatif. Artinaya sebuah benda sangat bermanfaat bagi seseorang, namun bagi orang lain tidak berguna, bahkan mungkin sangat tidak disenangi. Menurut John Keats, keindahan objektif disamakan dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Sebab keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu Universal dan Abadi. Disamping itu juga mempunyai daya tarik yang selalu bertambah jelasnya tidak ada keindahan jika tidak mengandung kebenaran, dan yang tidak mengandung kebenaran tidak indah. Supaya orang tidak terjerumus kedalam “keindahan semu” maka orang itu selalu mempertemukan keindahan subjektif dengan keindahan objektif. Orang itu harus berupaya mempertemukan selera atau minat orang yang bersangkutan dengan selera atau minat akal budinya. Seseorang disebut sebagai orang ysng berpribadi mulia, bila orang tadi memiliki rasa keindahan atau minatnya terhdap keindahan cenderung kepada keindahan objektif. Orang yang seperti itu segala prilakunya akan baik pula, seperti sabda Nabi Muhammad SAW : “Dalam tubuh

manusia itu ada segumpal daging. Manakala segumpal daging itu baik, maka akan

24

baiklah jasad manusia itu seluruhnya. Tetapi manakala segumpal daging itu tidak baik maka akan menjadi tidak baiklah jasad manusia itu seluruhnya. Segumpal daging yang dimaksud adalah hati”.
Cara mengusahakan supaya rasa keindahan atau minat terhadap keindahan itu cenderung kepada keindahan objektif, tidak lain melatih mendengarkan “bisikan” akal dan budi tersebut; sebab pada akal dan budi itulah sesungguhnya letak “kemanusiaan”. Akal dan budi itu sesungguhnya selalu mengajak kepada manusia kearah perbuatan yang baik, indah, dan yang benar. Manusia yang tidak senang akan kebaikan, keindahan, dan kebenaran serta tidak berusaha menciptakannya, orang itu sudah kehilangan predikat manusia lagi.

25

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN

Keindahan berasal dari kata Indah, Keindahan adalah sifat dari sesuatu
yang memberi kita rasa senang bila melihatnya, keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan. Keindahan Dalam Arti Estetika Murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Keindahan dalam arti terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan Indera Penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. Merenung artinya secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian dengan mendalam. Renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal. Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar Rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena benar mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang. Kehalusan berasal dari kata Halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan dan atau keadaban. “Keindahan” pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana keindahan itu peraasaan “(ke)-manusia-(annya)” tidak terganggu.

26

DAFTAR PUSTAKA

Widagdho, Djoko, Drs, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) 
Akiel, Ahiruddin, S.Pd, Bahan Kuliah Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta, Unindra) 
M.P., Suyadi, Drs., Buku Materi Pokok IBD, (Jakarta : Depdikbud, 1984) 
Situs resmi Wikipedia berbahasa Indonesia : tentang Keindahan Situs www.cariilmuonline.com, Pakde Sofa : Ilmu Budaya Dasar Bag. 1