KLIK DISINI...!

PELACUR TUA

10.05 Add Comment

Jengah langkahmu menapaki malam melintasi lorong kumuh yang sepi membisu.Bau anyir keringat itu masih tercium berbaur,bercampur bersama  sisa nafsu yang melumatmu. Lelah tubuhmu seolah tak kau hiraukan, setelah letih kau bergumul dengan para lelaki hidung belang.
Tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya bisa menatapmu dengan pandangan kosong tanpa arti. Seperti biasa… kaupun datang dan menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang kutaruh dibangku panjang stasiun dan kau hisap dalam-dalam. Hening, sunyi tak bersuara, hanya kepulan asap yang mewarnai pekatnya malam.
Pelacur tua….
Yang mulai tak laku bersaing, hanya seharga sepiring nasi, atau bahkan hanya selembar uang lima ribuan. Masih kuingat dengan jelas lima tahun yang lalu kau pernah menjadi kembang stasiun KROYA ini, sebelum akhirnya keriput beserta lemak yang menggelambir mulai memakan kemolekanmu. Itu dulu kala aku masih duduk dibangku SMA sebelum kini akhirnya kaupun menua.
Kini tak ada lagi lembaran seratus ribuan seperti dulu, hanya seharga sepiring nasi, katamu.
Tak ada lagi gurauan nakal yang seringkali kau lontarkan tiap aku menyambangimu, kini semua berganti menjadi keluh kesah akan kerasnya hidup. Seringkali kau meracau dan ingin kembali ke rahim ibumu, dan itu adalah suatu hal yang mustahil. Bahkan andaipun bisa pasti aku terlebih dahulu melakukannya sebelum dirimu.
Kini kau hanya bisa berbicang tentang kerasnya hidup, tentang harga yang kian melambung mencekik leher, tentang rasa malu yang kian menggumpal dan tak ada yang menarik bagiku hanya sekedar menjadi kawan berbincang melewati malam.
Pelacur tua…
Kini terkadang atau bahkan aku mulai sering mendengar ocehanmu, tentang bagaimana kau merayu Tuhan di usia senjamu ini. Tentang bagaimana kau lewati sisa malammu dengan bersimpuh dalam tahajudmu yang bolong-bolong senin kemis. Tentang bagaimana penyesalan yang kau derita hingga terkadang aku dengar sesenggukan isak tangis darimu. Tak banyak yang bisa aku perbuat. Mungkin akan lebih mengena bagimu  jika dia temukan kesadarannya sendiri, hingga nantinya kau akan bisa menghargai perjuangan menuju ampunan-Nya.
Tak ada yang abadi… kini semua berganti bersama putaran jaman yang enggan untuk menunggu. Semoga masih sempat kau temukan kesadaranmu. Semoga dalam tahun-tahun ini Tuhan akan menyambangimu diperon stasiun ini. Tidak lagi hanya bersemayam dalam mushola tua yang renggang dari  barisan jamaah.
Pelacur tua…
Maafkan aku yang tak bisa berdoa terlalu banyak untukmu karena akupun sibuk mencari keselamatan dalam doaku sendiri. Aku hanya bisa berbagi doa sekedarnya saja, tak lebih.
Pelacur tua…
Jika kau berkenan marilah kita berjamaah memanjatkan doa untuk menggoncangkan Arsy dan mencuri waktu sebelum para orang bersorban putih beserta para manusia lainnya bangun disepertiga malam dan menyita waktu Tuhan dengan segala urusan mereka. Ambillah surgamu sebelum didahului oleh mereka…
Tak usahlah kau ragu…belum tentu mereka lebih baik darimu, hanya sekedar pakain, selebihnya sama. Percayalah…
Tak ada yang terlalu sempurna didunia ini, karena sungguh mereka pun melacur kepada sesamanya, melacur hanya sekedar untuk mencari sanjung dan puji. Tidak sepertimu yang melacur untuk menyambung hidup seperti sekarang ini. Bahkan mungkin merekapun tak lebih suci darimu…
Bergegaslah …sebelum kokok ayam mulai menjelang dan kaupun harus beristirahat…

BY : ELANG JAWA

MANUSIA... BINATANGKAH ?

01.15 Add Comment

Aku heran dengan manusia, yang saling berebut untuk menjadi nomer satu. Mungkin itu memang sudah menjadi kodrat manusia pada umumnya. Namun satu hal yang tidak aku mengerti adalah ketika mereka juga masih tega untuk melahap saudara mereka sendiiri. Apakah itu sudah menjadi sebuah tradisi ?
Dimana masing-masing dari mereka hanya ingin mewujudkan apa yang menjadi egonya masing-masing tanpa mengindahkan akibat yang akan di derita, bahkan oleh orang lain sekalipun. Mungkin itulah sebabnya hingga mereka pun mendapat julukan selaku mahluk yang individual, yang selalu mementingkan diri sendiri.
Lantas dimanakah sosok manusia selaku mahluk sosial yang hidup membaur bersama manusia lainnya ? benarkah manusia itu juga seorang mahluk sosial yang bekerja sama? Sungguh aku masih menyangsikan semua itu.
Ketika di telaah secara lebih kritis maka akan di temukan bahwa wujud kebersamaan mereka pun pada akhirnya hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan individual yang tak akan bisa tercapai tanpa adanya campur tangan orang lain. Maka dari sini masih dapatkan manusia itu disebut mahluk sosial ? saya menyangsikan itu.
Beberapa hari ini aku pun mengalami hal itu sendiri, dimana sebuah ego mengalahkan rasa persaudaraan yang ada. Hanya demi sedikit nilai yang akan usang habis termakan masa mereka pun rela untuk mencaci dan melukai hati saudaranya. Sebuah ketakutan timbul di hati mereka, takut bahwa nilai itu jatuh ke tangan orang lain, walau mereka adalah saudaranya sendiri.
Manusia...
Mereka adalah mahluk yang beradab, dengan senyum manis yang tersemat di bibir. Senyum yang mencerminkan ketulusan hati.
Ya...
Hanya cerminan..
Bayangan dari pantulan kenyataan yang sungguh bertolak belakang..
Sebuah senyuman yang menikam di akhirnya.
Mungkin benarlah sebuah ungkapan bahwa “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya “. Serigala yang seringkali berbulu domba dan menyembunyikan niat busuk mereka di balik senyuman yang tampak bersahabat itu. Yang menikam dan membinasakan di saat penghabisannya. Mereka hanya sedang menunggu waktu untuk memilih saat yang tepat guna melancarkan serangan mereka.
Whaahahahahhahaha...

BELAJARLAH UNTUK MATI MAKA KAU AKAN MENIKMATI HIDUPMU....

01.00 Add Comment

Belajarlah untuk mati  maka kamu akan  hidup, karena tidak ada orang yang sungguh-sungguh menikmati hidup kecuali mereka yang telah belajar dengan sungguh-sungguh tentang kematian. Sungguh seringkali kebanyakan dari kita seringkali menganggap kematian merupakan sebuah gerbang menuju alam barzah, atau berakhirnya sebuah kehidupan, atau  ada juga yang menganggap sebagai sebuah gerbang menuju alam pertanggungan jawab.
Namun di sisi lain ada satu hal yang telah kita lupakan tentang kematian itu sendiri, yaitu kematian sebagai sebuah anugrah. Kematian adalah sebuah anugrah bagi mereka guna menuju perjumpaan dengan Tuhannya. Dan itulah yang seringkali di lupakan oleh orang-orang. Bahkan sebagian dari mereka begitu takut menghadapi kematian mereka. Saat dimana mereka akan tersisih dan sendiri tersudut di gelapnya alam barzah.
Kematian itu sendiri bagi mereka adalah sebuah momok dan juga mimpi buruk yang begitu menakutkan, yang akan merenggut segala kesenangan yang ada. Kematian akan merampas segala kenikmatan, kemewahan, dan harta benda lainnya hanya dalam sebuah tarikan nafas yang menyakitkan.
Ya...
Seringkali kita melupakan bahwa hidup kita ini hanyalah sepanjang satu tarikan nafas semata, tidak lebih...
Belajarlah menghadapi kematian...
Niscaya kita akan menikmati indahnya hidup, menikmati betapa beruntungnya kita mendapatkan kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik.
Aku seringkali membayangkan tentang maut, hingga seringkali dada ini berasa sesak karenanya.  Maut adalah sebuah gerbang tempat melepas segala yang kita cinta dan maut jugalah yang merenggut segala senyum.
Maut merupakan gerbang menuju kematian, tempat dimana bangkai yang berjalan ini pada akhirnya hanya akan menjadi seonggok daging selaku makanan dari rayap dan binatang lainnya.

PENDIDIKAN YANG SPIRITUALIS: Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan Agama

11.10 Add Comment






Islam sebagai agama, sesungguhnya mengajarkan kepada umatnya untuk membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi. Antara agama dan peradaban memiliki korelasi positif, semakin tinggi sikap keberagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula kontribusinya dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban, demikian pula sebaliknya.

Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) tidak memiliki hubungan dengan agama. Dengan demikian, sumber bahan yang digunakan dalam makalah ini adalah buku SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence karya pasangan psikolog Danah Zohar dan Ian Marshall yang diterbitkan oleh Bloomsbury, Great Britain tahun 2000, yang dibaca dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbiutkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002 lalu dikombinasikan dengan pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.


Pendahuluan

Kehadiran teori kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang dipopulerkan oleh pasangan psikolog, Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun 2000 turut merubah orientasi pendidikan modern yang selama ini lebih cenderung kepada kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient). Kecerdasan spiritual dianggap penggagasnya sebagai jenis "Q" ketiga (third intelligence) dan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang paling menentukan kesuksesan seseorang sekaligus sebagai landasan yang diperlukan untuk memungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Namun teori kecerdasan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall tidak sepenuhnya relevan dengan konsep pendidikan agama, terutama yang berkenaan dengan konsep hubungan SQ dan agama. Menurut pasangan psikolog ini, SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah. Pemahaman semacam ini bisa berdampak negatif terhadap pengembangan pendidikan. Sebab, ketika SQ dianggap sebagai kecerdasan yang tertinggi maka pelaksanaan pendidikan bisa lebih berorientasi kepada kecerdasan spiritual dan mengabaikan aspek religius, bahkan ajaran agama dapat dianggap sebagai ajaran yang parsial. Jika kondisi ini terjadi, maka agama tidak lagi menjadi pegangan hidup dan akan mudah ditinggalkan, termasuk dalam pelaksanaan pendidikan.
Padahal, agama memiliki ajaran yang universal, komprehensif dan holistik sehingga aspek spiritual yang sesungguhnya menjadi bagian penting di dalamnya. Pendidikan agama sebagai upaya mendidik peserta didik memiliki sikap keberagamaan yang sempurna pada hakikatnya juga berorientasi kepada multikecerdasan seseorang, termasuk kecerdasan spiritual. Konklusi sementara ini akan diuraikan lebih lanjut dalam makalah ini secara analisis dan rasional sehingga menjawab hakikat pendidikan agama dan hubungannya dengan kecerdasan spiritual (SQ) seseorang.

Adapun metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan cara menganalisis konsep kecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Ian Marshal dan Danah Zohar, khususnya yang berkenaan dengan hubungan agama dan kecerdasan spiritual. Kemudian, akan dianalisis pula kajian tentang spiritual dalam Islam. Setelah itu akan dilakukan formulasi model pendidikan agama yang mampu mencerdaskan spiritual seseorang yang pada gilirannya akan mencerdaskan suatu bangsa.

Pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang agama dan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence" akan dianalisi dengan menggunakan pola pikir teologis-tasawuf yang dibuat oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya "Islamic Spirituality Foundations" dan telah diterjemahkan oleh Rahmani Astuti ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan Bandung Tahun 2002. Selain itu, kajian ini juga didasarkan pula kepada pola pikir teologis John Renard dalam bukunya "Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims" diterbitkan oleh University of California Press dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimens-dimensi Islam" terbitan Jakarta: Inisiasi Press Tahun 2004.

Antara IQ, EQ dan SQ
Di awal abad ke-20, IQ menjadi isu besar. Kecerdasan intelektual atau rasional merupakan kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis. Para psikolog pendukung konsep itu menyusun berbagai tes untuk mengukurnya, dan tes-tes ini menjadi alat memilah manusia ke dalam berbagai tingkatan kecerdasan, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient) yang dianggap mampu menunjukkan kemampuan mereka. Bahkan menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Melalui tes IQ (intelligence quotient), tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat dibandingkan dengan orang lain. Kecerdasan inteligensi dapat diperoleh melalui pembagian usia mental (mental age) dengan usia kronologis (cronological age) lalu diperkalikan dengan angka 100.

Studi tentang IQ ini yang pertama kali dipelopori oleh Sir Francis Galton pengarang Heredity Genius (1869) dan kemudian disempurnakan oleh Alfred Binet dan Simon, pada umumnya mengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis, daya ingat (memory), daya nalar (reasoning), perbendaharaan kata dan pemecahan masalah (vocabulary and problem sol¬ving). IQ telah menjadi mitos sebagai satu-satunya alat ukur atau parameter kecerdasan manusia, sampai akhirnya Daniel Goleman mempopulerkan apa yang disebut dengan EQ (Emotional Intelligence) pada tahun 1995 dengan menunjukkan bukti empiris dari penelitiannya bahwa orang-orang yang IQ tinggi tidak menjamin untuk sukses. Sebaliknya, orang yang memiliki EQ, banyak yang menempati posisi kunci di dunia eksekutif. EQ memberi rasa empati, cinta, motivasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dan kegembiraan secara tepat.
Penelitian para psikolog semakin berkembang sehingga ditemukan jenis "Q" ketiga, yaitu kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient). Kecerdasan ketiga ini dipopulerkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Pasangan psikolog ini mendefinisikan SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Bahkan mereka menegaskan bahwa SQ sebagai kecerdasan tertinggi manusia sekaligus sebagai landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.

Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual, menurut mereka adalah orang yang memiliki kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran diri yang tinggi, mampu menghadapi dan memanfaatkan penderitaan dan rasa sakit, kualitas hidupnya diilhami oleh visi dan nilai-nilai, berpandangan holistic, dan hidup secara mandiri. Dalam konteks pendidikan, orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan menjadi pribadi yang mandiri, merasakan hidupnya penuh dengan nilai serta memiliki kriteria-kriteria di atas sehingga pembentukan karakter yang diinginkan dalam proses pendidikan dapat terwujud.

Kecerdasan Spiritual dalam Islam
Istilah spiritual, sebagaimana yang digunakan dalam bahasa Inggris, sesungguhnya mempunyai konotasi Kristen yang sangat kuat. Menurut Seyyed Hossein Nasr, istilah yang digunakan untuk "spiritualitas" adalah rūhāniyyah (bahasa Arab), ma'nawiyyah (bahasa Persia), atau berbagai turunannya. Istilah pertama diambil dari kata ruh, yang bermakna ruh dimana Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengatakan, ketika ditanya tentang hakikat ruh: "Sesungguhnya ruh adalah urusan Tuhanku (Qs. al-Isra'/17: 85). Sedangkan istilah yang kedua berasal dari kata ma'na yang secara harfiah berarti makna, yang mengandung konotasi kebatinan, yang hakiki, sebagai lawan dari yang kasatmata, dan juga "ruh", sebagaimana istilah ini dipahami secara tradisional, yaitu berkaitan dengan tataran realitas yang lebih tinggi daripada yang bersifat material dan kejiwaan dan berkaitan pula secara langsung dengan realitas Ilahi itu sendiri.

Pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa spiritual dalam pandangan Islam merupakan aspek yang bersifat batin, hakiki, dan erat kaitannya dengan keilahiahan. Pemahaman ini juga memiliki relevansi dengan SQ yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Marshall yang mengakui hasil penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an lalu dilanjutkan pula tahun 1997 oleh neurology V.S. Ramachandran bersama timnya di Universitas California mengenai adanya "titik tuhan" (God Spot) dalam otak manusia. Hasil penelitian ini justru memperkuat teori SQ yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall, meskipun pada akhirnya keduanya menolak jika kecerdasan spiritual ini disamakan dengan agama yang sesungguhnya memperkenalkan Tuhan.

Adapun mengenai kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam berarti kecerdasan yang berhubungan dengan keilahiahan, bersifat ruhaniyyah, diliputi oleh hikmah dan menjadi kajian psikologi Islam. Kecerdasan spiritual merupakan potensi yang dimiliki setiap orang untuk mampu beradaptasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan ruhaniahnya yang bersifat gaib atau transcendental, serta dapat mengenal dan merasakan hikmah dari ketaatan beribadah secara vertikal di hadapan Tuhannya secara langsung. Kecerdasan spiritual dalam Islam juga erat kaitannya tradisi tasawuf yang menjadi kajian penting dalam Islam. Sufi atau orang yang bertasawuf sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah, berupaya mengasah kemampuan spiritualnya agar dekat dengan-Nya.

Kaitan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual pada hakikatnya juga mendapat perhatian dalam al-Qur'an, seperti firman-Nya dalam surat al-Baqarah/2: 151. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa di antara tugas setiap Rasulullah adalah untuk yatlu 'alaikum ayatina, yuzakkikum, dan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah. Tugas yatlu 'alaikum ayatina/mengajarkan kamu ayat-ayat Kami, sesunggunya mengandung isyarat kecerdasan intelektual (IQ), sementara yuzakikum atau mensucikan kamu mengandung makna kecerdasan emosional (EQ), sedangkan yu'allimukum al-kitab wa al-hikmah berarti kecerdasan spiritual (SQ). Al-kitab dan al-hikmah sarat akan nilai-nilai keilahiahan sehingga tugas terakhir dalam ayat di atas patut disebut kecerdasan spiritual.

Selain dari ayat di atas, juga terdapat ayat-ayat lain yang mengisyaratkan tentang kecerdasan spiritual. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey juga mengemukakan beberapa indikator kecerdasan spiritual yang didukung oleh ayat-ayat al-Qur'an, di antaranya: dekat, mengenal, cinta dan berjumpa Tuhannya ( Qs. 2: 186, 223, Qs. 11: 29, dan Qs. 5:54); selalu merasakan kehadiran dan pengawasan Tuhannya di mana dan kapan saja (Qs. 2: 284); tersingkapnya alam ghaib (transcendental) atau ilmu mukasyafah (Qs. 7:96, Qs. 15:14-15, Qs. 78: 19 dan Qs. 50: 22); shiddiq (Qs. 9: 119, Qs. 4: 69 dan Qs. 59:8); Tabligh/menyampaikan (Qs. 3: 104, Qs. 2: 44 dan Qs. 61: 2-3); tulus ikhlas (Qs. 4: 146); selalu bersyukur kepada Allah SWT (Qs. 14:7); dan malu melakukan perbuatan dosa dan tercela (Qs. 96:14, Qs. 2:284). Begitu banyaknya ayat-ayat berkenaan dengan spiritualitas ini, John Renard menyebut bahwa al-Qur'an merupakan pusat (rujukan) bagi diskursus dan pengembangan spiritualitas Islam.

Jika dikaitkan dengan struktur kepribadian manusia, maka kecerdasan spiritual bertumpu pada qalb. Meminjam istilah Taufik Pasiak, qalb merupakan "otak spiritual". Qalb inilah yang sebenarnya merupakan pusat kendali semua gerak anggota tubuh manusia. Ia adalah raja bagi semua anggota tubuh yang lain. Semua aktivitas manusia berada di bawah kendalinya. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan bahwa jika qalb ini sudah baik, maka gerak dan aktifitas anggota tubuh yang lain akan baik pula; demikian sebaliknya. Sementara kecerdasan intelektual berpusat di aql dan emosional berpusat pada nafs. Ketiga komponen ini mendapat perhatian dalam Islam agar dikembangkan dan dioptimalkan sebagaimana mestinya.

Hubungan antara Agama dan Kecerdasan Spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshall sebagai tokoh yang memopulerkan SQ, membedakan antara SQ dengan agama. Menurutnya SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Bahkan ia menegaskan bahwa banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya banyak orang yang aktif beragama memiliki SQ sangat rendah. Baginya, agama merupakan seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama dipahaminya sebagai lembaga yang bersifat formal dan top-down, diwarisi dari para pendeta, nabi, dan kitab suci yang ditanamkan melalui keluarga atau tradisi. Sementara SQ sendiri, ia pahami sebagai kemampuan yang bersifat internal, bukan eksternal.

Seperti yang telah disinggung di atas, Zohar dan Marshall sebenarnya mengakui hasil penelitian psikolog sebelumnya tentang adanya god spot dalam otak manusia yang terletak di antara hubungan-hubungan saraf dalam cuping-cuping temporal otak. Namun ia tetap menyangkal kaitan god spot ini dengan adanya Tuhan. God spot, menurutnya, hanya menunjukkan bahwa otak telah berkembang untuk menanyakan "pertanyaan-pertanyaan pokok", untuk memiliki dan menggunakan kepekaan terhadap makna dan nilai yang lebih luas.
Munculnya pendapat yang membedakan agama dan spiritual ini tentu dilatarbelakangi oleh pemahaman kedua tokoh ini terhadap agama formal. Jika dilihat setting sosial kehidupannya yang dibesarkan dan menetap di Barat, tentu pemikiran ini dipengaruhi oleh budaya Barat setempat. Barat yang notabenenya penganut agama Kristiani sesungguhnya memiliki sejarah yang amat panjang. Dalam perkembangan sejarah, agama Kristen—melalui para pendeta dan tokoh-tokoh agama ini—pernah mengalami lembaran yang kelam, khususnya ketika berhadapan dengan para ilmuan.

Selama beberapa abad, Barat dikuasai oleh doktrin gereja yang cenderung menolak kajian ilmu pengetahuan dan budaya berpikir atau filsafat yang pernah berkembang pada masa sebelumnya di Yunani sehingga mereka jauh dari peradaban. Bapak-bapak gereja Kristen, setelah agama Kristen menjadi agama resmi Imperium Romawi pada dasawarsa ketiga abad ke empat Masehi, bersemangat melakukan kampanye membasmi ilmu dan filsafat. Mereka menganggap ilmu sebagai sihir. Para ilmuan dianggap kafir, zindik dan keluar dari agama Masehi. Bahkan antara tahun 1481 hingga 1801, lembaga penyelidikan yang dibentuk oleh penguasa Paus untuk mencari dan menemukan para ilmuan yang dianggap murtad, telah berhasil menghukum 340.000 orang, hampir 32.000 di antaranya dibakar hidup-hidup termasuk sajana besar Bruno. Galileo Galilei (1564-1642 M), sarjana besar lainnya, dengan terpaksa dihukum seumur hidup dalam penjara, karena keyakinannya bertentangan dengan kitab Injil dimana ajaran gereja waktu itu berpegang pada konsep geosentris (matahari mengelilingi bumi) sementara Galileo menganut konsep heliosentris, yaitu bumi bergerak mengelilingi matahari.

Sikap dari bapak-bapak gereja yang menginginkan umatnya bodoh semata-mata demi kepentingan pribadi dan kepentingan penguasa. Dengan kebodohan umat tersebut, maka tidak akan ada perlawanan atas kezaliman yang mereka lakukan. Dogmatik gereja tersebut berkembang hingga abad pertengahan. Hingga saat itu pula, Barat mengalami masa kegelapan yang pada gilirannya berakhir dengan perlawanan para ilmuan yang mempertahankan pendirian ilmiahnya dan berkoalisi dengan raja untuk menumbangkan kekuasaan gereja. Koalisi ini berhasil dan tumbanglah kekuasaan gereja sehingga muncul renaissance yang pada gilirannya melahirkan sekularisasi dan lahirlah dikotomi antara ilmu dan gereja (agama).
Dampak dari sejarah kelam tentang agama versus ilmu pengetahuan yang terjadi di Barat tersebut hingga saat ini masih terlihat. Meskipun agama kristen mayoritas, akan tetapi epistemologi keilmuan yang berkembang di Barat tidak dilandasi oleh ajaran agama sehingga ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan bisa mengabaikan—bahkan menolak—peran dan kedudukan suatu agama.

Berbeda dengan sejarah umat Islam, meskipun terdapat lembaran sejarah yang kelam—seperti sejarah kekuasaan umat Islam yang sulit untuk berjamaah, termasuk ketertinggalan umat Islam dewasa ini dalam perkembangan iptek, dll.—namun dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan justru berkembang dari motivasi agama. Artinya, puncak ilmu pengetahuan pada abad pertengahan di dunia Timur sesungguhnya dipicu oleh semangat ajaran agama sangat respon terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari wahyu pertama yang diturunkan justru bermula dengan kata iqra', bacalah! Bukankah membaca sebagai aktivitas pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan?

Demikian pula pandangan tentang hubungan agama dan spiritual, Islam tentu memiliki pandangan yang berbeda dari Danah Zohar dan Ian Marshall di atas. Islam merupakan agama yang memiliki ajaran universal dan bersifat totalitas; mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial-budaya, politik, ekonomi, material/fisikal, dan termasuk aspek spiritual. Karena totalitas dan universalitas Islam itu pulalah Allah menyeru agar manusia yang berakal masuk ke dalam Islam secara kaffah (Qs. al-Baqarah/2: 208) atau utuh, tidak setengah-setengah.

Hubungan antara spiritual dengan agama juga tampak dalam pernyataan Allahbakhsh K. Brohi yang berpendapat bahwa siapa saja yang memandang Tuhan atau Ruh Suci sebagai norma yang penting dan menentukan atau prinsip hidupnya bisa disebut "spiritual". Seyyed Hossein Nasr juga menegaskan bahwa tujuan spiritualitas itu sendiri adalah memperoleh sifat-sifat Ilahi dengan jalan meraih kebaikan-kebaikan yang dimiliki dalam kadar sempurna oleh Nabi dan dengan bantuan metode-metode serta anugerah yang datang darinya dan wahyu dari al-Qur'an.
Dengan demikian, dalam perspektif Islam, antara agama dan spiritual memiliki korelasi positif: semakin tinggi kualitas agama seseorang maka semakin cerdas spiritualnya; sebaliknya, semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual seseorang maka semakin baik pula sikap keberagamaannya. Dalam istilah John Renard, aspek spiritualitas yang sesungguhnya mengembangkan dan juga meninggikan sikap keberagamaan.

Urgensi Pendidikan yang Spiritualis
Ketika agama dan spiritual memiliki hubungan yang jelas, maka pendidikan—khususnya pendidikan agama—sejatinya berorientasi terhadap pengembangan kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual tersebut tidak hanya diperlukan oleh seseorang secara individual, akan tetapi lebih dari itu juga dibutuhkan oleh masyarakat luas, bahkan dalam konteks suatu bangsa. Ada beberapa alasan penting yang menunjukkan urgensi pendidikan agama yang bersifat spiritualis tersebut--khususnya dalam kaitannya dengan masyarakat luas—setidaknya mencakup tiga bentuk, yaitu pertama, sebagai penggerak dan kontrol peradaban; kedua, mewujudkan tujuan pendidikan nasional, dan ketiga; menjawab tantangan era globalisasi.

Sebagai Penggerak dan Kontrol Peradaban
Tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban suatu bangsa turut dimotivasi oleh keberadaan agama. Bahkan peradaban yang dicapai oleh umat Islam di era awal dan abad pertengahan juga dimotivasi oleh agama. Hal itu dapat dilihat dari doktrin dan perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW; iqra'. Ayat sekaligus perintah pertama (QS.96:1) yang diterima Nabi itu membawa implikasi yang amat besar terhadap peradaban yang dibangun dengan basis iman dan ilmu pengetahuan.

Ketika agama diamalkan oleh pemeluknya dengan sempurna, maka spiritualitas masyarakat pun akan terbangun. Dengan spiritualitas itu pula seseorang mampu memahami hakikat hidupnya lalu membentuk suatu peradaban yang dinamis. Inilah yang dimaksud dengan "penggerak" peradaban. Sementara "kontrol" peradaban merupakan peranan agama yang mencerdaskan spiritual dibutuhkan untuk menjaga stabilitas suatu peradaban agar tidak terjerumus kepada bangsa yang berfoya-foya, berorientasi duniawi semata yang pada gilirannya akan mengundang keterpurukan.

Fakta sejarah juga membuktikan bahwa para pecinta spiritual (sufi) memainkan peranan penting dalam menggerakkan peradaban suatu bangsa. Menjelang 1920, misalnya, setiap negeri Muslim—kecuali empat di antaranya, Persia, Arab Saudi, Afganistan, dan Turki—telah dikuasai dan dijajah oleh kekuatan asing yang kebanyakan adalah bangsa Kristen Eropa. Dalam sebuah proses yang telah bermula sejak seabad sebelumnya, rezim-rezim kolonial memperluas wilayah kekuasaannya atas negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Di sejumlah daerah, tarekat-tarekat Sufi merupakan institusi-institusi lokal terkuat yang masih tetap bertahan ketika para penguasa setempat dijatuhkan oleh kekuatan bangsa Eropa. Oleh sebab itulah tarekat-tarekat Sufi mampu menjadi pusat-pusat perlawanan antikolonial di beberapa tempat, seperti di Aljazair, Kaukasus, dan Sudan. Kondisi ini juga dapat dilihat di Indonesia dimana para santri bergerak melawan kolonial Belanda. Kaum santri yang dipimpin oleh Kiyai ini merupakan kelompok yang kaya akan spiritual sehingga eksistensi mereka memberikan kontribusia yang amat besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan demikian, suatu bangsa yang berperadaban tinggi memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi pula, sementara spiritual yang tinggi sangat identik dengan agama. Oleh karena itu, pendidikan agama yang mencerdaskan spiritualitas bangsa amat dibutuhkan.

Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa jelas mengandung muatan spiritualitas yang amat mendalam. Kata-kata itu sendiri tentu terinspirasi dari isi al-Qur'an yang juga sarat akan nilai-nilai spiritual. Bahkan mendahulukan tujuan iman dan takwa dari yang lainnya, termasuk ilmu pengetahuan, mengisyaratkan bahwa pendidikan nasional memberikan penekanan yang lebih terhadap pendidikan yang mencerdaskan spiritual peserta didiknya.

Dalam perspektif Islam, mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertakwa serta berkakhlak mulia sebagai watak bangsa mustahil dapat dilakukan tanpa adanya perhatian terhadap dimensi spiritual peserta didik. Perhatian itu tentu melalui pendidikan agama. Namun persoalannya, pendidikan agama, termasuk PAI, belum mampu mewujudkan tujuan yang diinginkan. Ketidakmampuan ini turut disebabkan oleh orientasi pendidikan agama yang selama ini lebih mementingkan aspek kognisi (kecerdasan intelektual). Akibatnya, peserta didik tidak mampu menjadi manusia yang tawakal, tawadhu', serta shaleh secara individual dan sosial, sehingga seringkali muncul ketidakpercayaan terhadap pendidikan agama dalam membentuk etika dan moral bangsa.

Oleh karena itu, pendidikan agama yang berorientasi spiritual amat dibutuhkan dalam konteks keindonesiaan yang pada dasarnya bercorak religius. Tanpa orientasi seperti itu, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya, termasuk corak religiusnya, dan diambil alih oleh pola hidup materialis, hedonis, dan pragmatis.

Menjawab Tantangan Era Globalisasi
"Globalisasi" merupakan kata yang digunakan untuk mengacu kepada bersatunya berbagai negara dalam globe menjadi satu entitas. Proses globalisasi yang semakin menemukan momentumnya sejak dua dasawarsa menjelang millennium baru telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan suatu bangsa: literatur akademik, idiologi ekonomi dan politik, sosial-budaya, hingga pada dimensi pendidikan. Singkatnya, proses globalisasi tidak lagi mengenal tanpa batas (borderless) dengan kemajuan sistem teknologi dan informasi.

Dalam konteks pendidikan, berbagai kecenderungan perkembangan baru pendidikan yang muncul sebagai konsekuensi globalisasi pada akhirnya diadopsi oleh sistem pendidikan nasional. Pada adab 21 ini, pendidikan dituntut untuk menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif, siap pakai, mampu menerima dan menyesuaikan perubahan yang kian cepat di lingkungannya. Padahal arus globalisasi yang begitu deras, di samping dampak positif yang ditimbulkan, juga membawa dampak negatif terhadap cita-cita bangsa.

Meskipun era globalisasi mampu membuka sekat-sekat antara satu negara dengan negara lain, namun disadari atau tidak, era globalisasi juga memunculkan hegomoni bangsa yang relatif kuat dengan bangsa yang sedang berkembang, apalagi yang terbelakang. Akibatnya, idiologi, falsafah, budaya dan cara pandang mereka akan berpengaruh pula terhadap watak bangsa Indonesia.
Dalam konteks kekinian, Barat memegang peran yang signifikan dalam percaturan global di berbagai aspek, termasuk pendidikan. Barat pun dianggap negara maju karena lebih mampu mengembangkan ilmu pengetahuan secara dinamis dan varian sehingga negara-negara berkembang dan yang sedang merangkak maju kerap kali menjadikannya sebagai referensi (barat-centris) dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini pernah disinggung oleh Ismail Raji al-Faruqi yang menyatakan bahwa materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam adalah jiplakan dari materi dan metodologi Barat, namun tak mengandung wawasan yang selama ini menghidupkannya di negeri Barat. Padahal, umat Islam tidak mesti meniru secara mutlak metodologi Barat.

Ketika Barat dianggap lebih maju dan dijadikan sebagai referensi dalam pembangunan dan pengembangan suatu bangsa, termasuk Indonesia, maka bangsa ini akan rentan terpengaruh oleh idiologi liberal yang mereka anut serta menjadi korban "imperialisme kultural". Seperti yang disinggung sebelumnya, bangsa Barat memiliki sejarah kelam terhadap pihak gereja vs ilmuan selama berabad-abad sehingga memicu berkembangnya idiologi liberalisme. Bahkan, idiologi ini pada gilirannya turut berpengaruh terhadap epistemology keilmuan yang mereka kembangkan. Mujamil Qomar menyatakan bahwa epistemology yang dikembangkan Barat lebih menekankan pada pendekatan skeptis, rasional-empiris, dikotomik, positif-objektif, dan pendekatan yang menentang dimensi spiritual. Semua pendekatan ini menunjukkan bangsa Barat mengabaikan dimensi spiritual, terutama yang bersifat keilahiahan. Mereka juga mengeluarkan agama secara total dari epistemology tersebut dengan dalih dapat menghambat objektifitas dan merusak validitas ilmu pengetahuan.

Umat Islam memang tidak antipati terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Barat. Bahkan fakta sejarah menunjukkan bahwa umat Islam juga belajar kepada Barat dengan menerjemahkan karya-karya ilmuan Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat toleran terhadap pihak asing dan dibolehkan belajar kepada mereka selagi yang dipelajari itu bermanfaat. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya senantiasa memotivasi umatnya untuk belajar, termasuk kepada non-Muslim. Para tawanan Badr, misalnya, yang pandai baca tulis itu justru dapat menebus dirinya jika ia bersedia mengajarkan baca-tulis kepada 10 orang anak-anak Madinah.

Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa umat Islam diperkenankan belajar dari manapun asalnya, termasuk dari Barat. Hanya saja, bangsa Indonesia harus memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah luntur dengan sesuatu yang baru yang datangnya dari luar. Pola hidup materialis, pragmatis, hedonis, dan liberalis yang bertentangan dengan akaran Islam mesti diwaspadai oleh bangsa ini.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pendidikan yang spiritualis perlu ditampilkan dengan cara menerapkan pendidikan agama yang berorientasi spiritual. Jika pendidikan agama yang berorientasi spiritualitas ini dapat dilakukan, maka ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Barat tidak akan menimbulkan mudharat, justru sebaliknya, ilmu pengetahuan seperti itu akan mampu menghasilkan peradaban yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari peradaban yang telah mereka dicapai.

Gagasan pendidikan agama yang spiritualis sesungguhnya relevan dengan kondisi bangsa Indonesia itu sendiri yang mayoritas menganut agama Islam dan didukung oleh kebijakan-kebijakan politik pendidikan yang religius. Untuk itu, agar umat Islam Indonesia yang dikenal sebagai "The Biggest Moslem Community in The Word" mampu tampil terdepan dengan kebudayaan dan peradaban yang tinggi, perlu menerapkan strategi pendidikan agama yang mencerdaskan spiritual bangsa.

Strategi PAI dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Spiritual
Untuk mewujudkan pendidikan agama yang mampu mengoptimalkan kecerdasan spiritual, perlu dilakukan beberapa strategi. Dalam hal ini, strategi itu akan dilihat dari sudut pendekatan atau metodologi keilmuan yang digunakan. Ada lima pendekatan yang mendapat penekanan lebih dalam konteks pendidikan agama yang mengoptimalkan kecerdasan spiritual, yaitu: 1) pendekatan intrinsic, 2) pendekatan teoantroposentris dan humanistic religius, 3) pendekatan integralistik tematik, 4) pendekatan keteladanan, dan 5) pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt.

Pendekatan intrinsik
Pendekatan intrinsik adalah pendekatan yang berupaya untuk membangkitkan kesadaran beragama dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata dorongan dari luar. Ada dua cara macam beragama: yang ekstrinsik dan yang intrinsik. Cara ekstrinsik memang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain; kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya – tetapi tidak di dalamnya. Cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya kebencian, irihati, dan fitnah masih akan tetap berlangsung.

Agaknya, beragama dengan cara ekstrinsik inilah yang identik dengan pendapat Danah Zohar dan Ian Marshall tentang orang-orang yang beragama, tetapi rendah kecerdasan spiritualnya. Hanya saja, keduanya tidak menguraikan lebih lanjut, akan tetapi mengklaim secara langsung bahwa agama tidak ada hubungannya dengan SQ.

Dengan pendekatan instrinsik, maka sikap keberagamaan setiap peserta didik diharapkan muncul dari dalam dirinya, bukan karena dari luar. Kondisi semacam ini pada gilirannya akan membentuk kepribadiannya sehingga menjadi akhlak dalam hidupnya. Jika kondisi semacam ini terbentuk, niscaya akan berpengaruh pula terhadap perkembangan masyarakat, serta bangsa dan negaranya.

Pendekatan teo-antroposentris atau humanistik religious
Corak pemikiran filosofis yang berkembang pada tiap-tiap zaman memiliki ciri tertentu yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa filsafat zaman kuno bersifat "kosmosentris" dan filsafat abad pertengahan bersifat "teosentris" sedangkan zaman modern bersifat "antroposentris". Namun, jika dilihat dari konsep ajaran Islam, dapat dipahami bahwa ajarannya mengandung pesan yang bersifat humanis, berorientasi pada manusia, akan tetapi dilandasi dan dibarengi oleh keimanan kepada Allah SWT.

Esensi pendekatan humanistik religious adalah mengajarkan sikap keberagamaan tidak semata-mata merujuk teks kitab suci, tetapi melalui pengalaman hidup dengan menghadirkan Tuhan dalam mengatasi persoalan kehidupan individu dan sosial. Tegasnya, pendekatan teoantroposentris menekankan akan pentingnya aspek spiritual dalam pengembangan pendidikan agama. Hanya saja, tidak berorientasi kepada aspek yang bersifat transenden belaka, tetapi konsep pendidikan itu harus "membumi", dapat menyentuh dan menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh umat.

Pendekatan integralistik tematik
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, pendidikan agama yang bermuatan spiritual tidak hanya mengedepankan aspek spiritual lalu mengabaikan aspek materil. Tetapi, kedua aspek itu mesti dikombinasikan, saling melengkapi dan saling terpadu. Disinilah diperlukan pendekatan integralistik-tematik.

Pendekatan integralistik tematik merupakan sebuah pendekatan penyajian agama, baik secara lisan maupun tertulis dengan cara mengintegrasikan seluruh bidang ilmu agama ke dalam sebuah tema tertentu. Ketika mengajarkan tema tentang shalat misalnya, tidak hanya dilihat atau didekati dari segi formalistik, simbolistik dan ritualistiknya (fikih-nya) saja, melainkan juga dilihat dari segi dalil-dalil berupa ayat al-Qur’an dan al-hadis yang pada hakikatnya berkaitan dengan bidang kajian al-Qur’an dan al-Hadis. Kemudian dilihat pula dari segi hikmahnya yang berkaitan dengan ajaran tentang filsafatnya. Selanjutnya dilihat pula latar belakang terjadinya kewajiban shalat yang selanjutnya berkaitan dengan ajaran tentang sejarah. Kemudian dilihat pula dari segi spirit atau kejiwaannya yang pada hakikatnya berkaitan dengan ajaran tasawuf.

Dengan demikian, sebuah tema kajian dapat dilihat dari berbagai bidang ilmu agama.
Pendekatan integralistik tematik ini akan memberikan pemahaman kepada anak didik tentang ayat-ayat Allah baik dalam bentuk qawliyah maupun kawniyah secara integral. Kedua ayat-ayat ini sesungguhnya mampu meningkatkan keimanan seorang mukmin. Dengan pendekatan ini, akan nampak bahwa ternyata berbagai bidang ilmu agama tersebut saling berhubungan dengan erat. Pendekatan penyajian agama secara integralistik tematik ini selain akan lebih efisien dan menantang serta penuh dengan daya analisa, juga sejalan dengan prinsip pendekatan pengajaran yang modern, serta didukung oleh teori psikologi Gestalt yang melihat bahwa antara satu kemampuan dengan kemampuan lainnya yang dimiliki manusia saling berhubungan. Dengan pendekatan yang integralistik tematik ini, maka tidak akan ada lagi pertentangan (dikotomi) antara satu ilmu agama dengan ilmu agama lainnya sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah dan masih cukup kuat pengaruhnya hingga sekarang.

Pendekatan keteladanan
Metode keteladanan merupakan metode yang paling berpengaruh dalam mendidik peserta didik, khususnya dalam hal pembentukan kepribadian. Pentingnya metode ini juga dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Bahkan al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW itu menjadi teladan bagi para umatnya (Qs. al-Ahzab/33: 21). Keteladanan itu terlihat dari setiap perilaku yang ditampilkan oleh Rasulullah, sehingga Allah pun memujinya dalam al-Qur’an: dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung (Q.s. Qalam/68:4).

Untuk menerapkan pendidikan agama yang berorientasi kepada kecerdasan spiritual, pendekatan keteladan merupakan pendekatan yang paling efektif. Bahkan, dalam tradisi tarekat, keteladanan seorang mursyd atau guru amat dibutuhkan. Dalam hal ini, seorang guru dituntut untuk memiliki integritas kepribadian yang mulia sehingga menjadi model dan teladan bagi peserta didiknya.

Pendekatan amanū wa 'amilushshālihāt
Banyak ditemukan dalam al-Qur'an kata-kata amanū wa 'amilushshālihāt yang secara tekstual diartikan sebagai beriman dan beramal shaleh. Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang yang beruntung (al-Ashr/103:3), mendapat ampunan dan pahala (al-Fath/48: 29), dijadikan sebagai penguasa atau khalifah di muka bumi (an-Nur/24: 55), memperoleh keamanan (Saba'/34: 37), memperoleh karunia-Nya (asy-Syuura/42: 26), dan sebagainya.
Amanū wa 'amilushshālihāt juga dapat diartikan sebagai sikap yang memliki konsisten, komitmen, dan loyalitas loyaliyas yang kuat serta berpikir dan bertindak secara kreatif dan produktif. Konsep Amanū wa 'amilushshālihāt ini dapat dijadikan sebagai pendekatan pendidikan agama. Amanū wa 'amilushshālihāt mengandung sarat nilai-nilai spiritual sekaligus memberi inspirasi untuk berkarya secara kreatif, inovatif, dan produktif. Modal ini sangat dibutuhkan dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang berperadaban tinggi.

Kesimpulan

Makalah ini menolak pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang hubungan agama dengan kecerdasan spiritual dalam bukunya "SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence". Dalam buku tersebut Zohar dan Marshalla menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara agama dengan kecerdasan spiritual (SQ). Menurut penulis, agama justru mendidik pemeluknya untuk memiliki kecerdasan spiritual dalam arti yang sesungguhnya. Antara agama dan spiritual memiliki korelasi yang positif: semakin tinggi kualitas keberagamaan seseorang maka semakin tinggi pula kualitas spiritualnya, demikian sebaliknya.

Hubungan antara agama dan spiritualitas ini juga dikemukakan oleh Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islamic Spirituality Foundations. Menurutnya, hakikat spiritual justru bersifat ilahiah yang menjadi puncak tertinggi dalam ajaran Islam. Demikian juga John Renard berpendapat bahwa spiritualitas mengembangkan dan juga meninggikan kehidupan keberagamaan. Namun, dikotomi antara agama dan dimensi spiritualitas juga banyak dikemukakan oleh sarjana Barat, di antaranya J. Harold Ellens, Vernon A. Holtz dan Stephen R. Honeygosky. Bahkan John Naisbitt dan Patricia Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebutkan slogan New Age dengan Spirituality, Yes! Organized Religion, No!. Perbedaan ini tampaknya dilatarbekalangi oleh pemahaman mereka sendiri yang tidak utuh terhadap agama sehingga agama hanya dianggap sebagai organisasi formal yang tidak menjamin terpenuhinya kepuasan spiritual.

BIBLIOGRAFI
Alexander, Hanan A., Spirituality and Ethics in Education; Philosophical, Theological and Radical Perspective, Oxford: Blackwell Publishing, 2004
Arif, Muhammad, "The Islamization of Knowladge and Some Methodoogical Issues in Paradigm Building: The General Case of Social Science with a Special Focus on Economic", dalam Mohammad Muqim (ed.), Research Methodology in Islamic Perspektive, New Delhi: Institute and Objective Studies, 1994
Arkoun, Mohammed, Rethinking Islam, Penj. Yudian W. Asmin dan Lathiful Khuluq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, Kemudahan dari Allah; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, Penj. Syihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press, 1999
As-Siba'i, Musthafa Husni, Min Rawâ'i Hadarâtina, Penj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung: Pustaka Setia, 2002
Aziz, Abdul, "Posisi Pendidikan Agama dalam Sisdiknas", dalam Ali Muhdi Amnur (ed.), Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Fahima, 2007
Aziz, Fayaz, Man Syahkumul 'Alam, alih bahasa Ahmad Syakur, judul Dicari! Pemimpin Peradaban Dunia; Menakar Visi Universal Paham dan Agama-agama Besar Dunia, , Solo: Era Intermadia, 2006
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999
Bagir, Haidar, Gagalnya Pendidikan Agama, dalam Kompas, tanggal 28 Februri 2003.
___________, "Memaknai Tasawuf sebagai Spiritual Islam", dalam Madjid, Nurchalish, et.al., Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern; Respon dan Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani, Jakarta: Paramadina, 2000
Burhanudin, Jajat dan Dina Afrianty (Peny.), Mencetak Muslim Modern; Peta Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PTRajaGrafindo Persada, 2006
Dahlan, Abdul Aziz, Agama dan Falsafat, dalam Jurnal Al-Ta'lim, edisi IX September-Desember 2000, Padang: IAIN IB Press, 2000
Adz-Dzakiey, Hamdani Bakran, Prophetic Intelligence, Kecerdasan Kenabian; Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani Melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani, Yogyakarta: Islamika, 2005
Ellens, J. Harold, Understanding Religious Experiences: What The Bible Says About Spirituality, Greenwood Publishing Group, 2008
Ernst, Carl W., The Shambhala Guide to Sufism, Shanbahala Publications., Massachusetts, 1997, diterjemahkan oleh Arif Anwar dengan judul "Ajaran dan Aliran Tasawuf; sebuah Pengantar", Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003
al-Faruqi, Ismail Raji, Islamization of Knowladge: Problem, Principle and Perspectives, Heradon, U.S. IIIT, 1987, alih bahasa Anas Wahyudin, judul: Islamisasi Pengetahuan, Bandung: Pustaka, 1984
Faridi, Shah Shahidullah, "The Spiritual Psychology of Islam", dalam Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1990, third edition
Feisal, Jusuf Amir, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995
Goleman, Daniel, Emotional Intelligences, New York: HarperCollins (Basic Books), 1993, alih bahasa T. Hermaya, judul: Emotional Intelligence, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999
Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT Gramedia, 1992
Hamka, Tafsir al-Azhar, juz II dan XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988
Hasan, Abdul Wahid, SQ Nabi; Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah Masa Kini, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2006
Heelas, Paul, Linda Woodhead, Benjamin Seel, The Spiritual Revolution; Why Religion is Giving Way to Spirituality, Wiley-Blackwell, 2005
Hicks, Douglas A., Religion And The Workplace: Pluralism, Spirituality, Leadership, Cambridge University Press, 2003
Honeygosky, Stephen R. (ed.), Religion and Spirituality: Bridging the Gap, Twenty-Third Publications, 2006
al-Jazairi, Abu Bakar Jabir, Tafsir al-Aisar, Penj. M. Azhari Hatim dan Abdurrahim Mukti, Jakarta: Sarus Sunnah, 2006
Karni, Asrori S., Civil Society dan Ummah; Sintesa Diskursif "Rumah" Demokrasi, Jakarta: Logos, 1999
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu; Sebuah Rekonstruksi Holistik, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005
Khaldun, Abdurrahman Ibn, al-Ibar wa Dīwān al-Mubtada’ wa al-Khabar fī Ayyām al-Arb wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Āsharahum min Dzawī al-Sulthān al-Akbar, jilid I — VII, Beirut: al-Dar al-Kutb al-’Ilmiyyah, 1992
Kosim, Muhammad, al-Qur'an, Karakter Pendidikan Sumbar, opini, harian Padangekspres, tanggal 6 Juni 2009
__________, Mempertegas Peran PAI di Sekolah, opini, harian padangekspres,, 2009
__________, Transformasi dan Kontribusi Intelektual Islam atas Dunia Barat, Makalah PPs. Program Magister IAIN Imam Bonjol Padang, 2006
Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Leksono, Karlina -Supelli, Awal Sebuah Pemahaman, http://mkb.kerjabudaya.org
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nusansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001
Murad, Yusuf, Mahadi' 'ilm al-Nafs al-'Am, (Mesir: Dar al-Ma'arif, tt.
Muthahhari, Murtadha dan S.M.H. Thabathaba'i, Light Within Me, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penerjemah pustaka hidayah dengan judul: Menapak Jalan Spiritual, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, cet. ke-2
Nadwi, Abul Hasan Ali, Islam and The Word, Penj. Adang Affandi, Bandung: Angkasa, 1987
Nasr, Seyyed Hossein (ed.), Islamic Spirituality Foundations, Penj. Rahmani Astuti, judul: Ensiklopedi Tematis Spiritual Islam; Fondasi, Bandung: Mizan, 2002
____________, The Encounter Man and Nature, University of California Press 1984, Penj. Ali Noer Zaman, judul: Antara Tuhan, Manusia dan Alam, Yogyakarta: IRCiSoD, 2003
Nata, Abuddin, Orientasi Pengembangan Pendidikan Agama Islam pada Buku Teks SD/SMP/SMU, Semarang: Makalah, 18 Desember 2008
Moody, Harry D., Religion, Spirituality, and Aging; A Social Work Perspective Routledge, 2005
Pasiak, Taufik, Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara Neurosains dan al-Qur'an, Bandung: Mizan, 2002
Qomar, Mujamil, Epistemologi Pendidikan Islam, dari Metode Rasional hingga Metode Kritik, Jakarta: Erlangga, 2005
Rahman, Fazlur, Islam, University of Chicago, 1979, Penj. Ahsin Mohamad, Bandung: Pustaka, 2000, cet. ke-IV
Rahmat, Jalaluddin, Islam Alternatif, Bandung: Mizan, 1991, cet. IV
Ramadan, Tariq, Menjadi Modern Bersama Islam; Islam, Barat, dan Tantangan Modernitas, Jakarta: Teraju, 2003
Renard, John, Seven doors to Islam: spirituality and the religious life of Muslims, University of California Press, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Khoirul Anam dengan judul "Dimensi-dimensi Islam", Jakarta; Inisiasi Press, 2004
Shihab, Quraish, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atau Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1998
Shimogaki, Kazuo, Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left and Dr Hassan Hanafi's Though: A Critical Reading, terbit tahun 1988 dan alih bahasa oleh M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula dengan judul Kiri Islam; Antara Modernisme dan Posmodernisme, Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta: LKiS, 2004, cet. ke-7,
Syar'ati, Ali, A Glance Tomorrow's History, Penj. Laleh Bachtiar dan Husayn Saleh, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, cet. ke-2
Taher, Tarmizi, "Islam dan Isu Globalisasi Perspektif Budaya dan Agama", dalam M. Nasir Tamara dan Elza Peldi Taher (ed.), Agama dan Dialog Antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1996
Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence); Membentuk Kepribadian yang Bertanggung Jawab, Profesional, dan Berakhlak, Jakarta: Gema Insani Press, 2001
Wright, Andrew, Spirituality and Education, (New York: Routledge, Falmer, 2000
Yunus, Mahmud, Sedjarah Pendidikan Islam, Jakarta: Mutiara, 1966
_______, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1993
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004
Zohar, Danah dan Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, Bloomsbury, Great Britain tahun 2000

Pendidikan Rusak-rusakan

10.25 Add Comment


 picture-045.jpg

Judul Buku                 : Pendidikan Rusak-rusakan
Penulis                        : Darmaningtyas        
Penerbit                      : LKiS Yogyakarta
Tahun Terbit              : 2005
Jumlah Halaman        : 360

Pendidikan telah kehilangan ruh, pendidikan telah kehilangan elan vital dalam melakukan transformasi sosial. Demikian penerbit buku ini memaparkan secara singkat dalam back-cover. Pendidikan telah mendapatkan stigma karena malpraktik yang dilakukan oleh penguasa dan pelaksana pendidikan di lapangan.

Bagian demi bagian dalam buku ini merupakan realitas yang selama ini terjadi dalam praktek pendidikan di Indonesia. Mulai dari proses yang terjadi pada peserta didik di sekolah, praktek mengajar guru, sampai pada aras pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Gugatan demi gugatan merupakan sajian utama buku ini. Beberapa kritik tajam juga menyeruak seolah mencerminkan sebuah eforia pasca reformasi.

Sebagai seorang praktisi kebijakan, Darmaningtyas banyak menyoroti malpraktik yang dilakukan oleh penguasa negeri ini. Praktek-praktek pada aras kebijakan pendidikan yang selama ini terjadi di indonesia marak terjadi pasca bergulirnya era otonomi daerah. Dengan adanya desentralisasi dalam bidang-bidang yang telah ditentukan pemerintah, budaya koruppun tak ayal ikut terdesentralisasi pula ke daerah-daerah yang dulunnya enggan dan takut melakukan tindakan-tindakan penyelewengan.

Dalam kolusi sekarang ini, tawar menawar jabatan guru dilakukan secara terang-terangan antara calon guru dengan aparat pemerintah daerah. Entah ada koordinasi antar daerah atau tidak, yang pasti, ada semacam keseragaman tarif untuk dapat diterima menjadi seorang guru negeri. Untuk menjadi guru SD misalnya, tarifnya antara Rp. 10.000.000-Rp. 20.000.000. sedangkan untuk guru SLTP, karena dasar pendidikannya sama-sama S1, tarifnya antara Rp. 20.000.000.-Rp.40.000.000.(hal. 84).
Pendidikan, kata Darmaningtyas, bukanlah sekedar anggaran. Alih-alih menganggarkan dana untuk pendidikan dengan alokasi yang sesuai dengan kebutuhan. Pemerintah lebih disibukkan dengan permasalahan persiapan “baku hantam” dengan rival politiknya. Padahal dalam pasal 31 UUD 1945 amandemen, pemerintah telah menetapkan bahwa anggaran pendidikan sekurang-kurangnya adalah sebesar dua puluh persen. Dengan melihat realitas yang terjadi di Indonesia, kita bisa mengatakan bahwa pemerintah mengkhianati konstitusi dengan tidak menjalankan amanat UUD 1945.

Sesuai dengan judulnya, konten buku ini memang lebih banyak mengungkapkan penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam pendidikan Indonesia. Banyak fakta-fakta yang diungkapkan secara jelas dan lugas. Buku ini bukanlah pemikiran utuh dari si penulis berkenaan dengan pendidikan, namun kumpulan tulisan yang bagus untuk dijadikan refleksi bagi semua orang yang konsen dan menggeluti pendidikan.  

Solusi Mengatasi Link Redirect Otomatis

10.08 2 Comments
http://books.google.co.id/books?id=63BoZS1QWIUC&pg=PA352&dq=PENDIDIKAN+RUSAK-RUSAKAN+DARMANINGTYAS&hl=id&sa=X&ei=RCZ_T63eN4eyrAf6-7DRBQ&ved=0CC8Q6AEwAA#v=onepage&q=PENDIDIKAN%20RUSAK-RUSAKAN%20DARMANINGTYAS&f=false


Hari ini salah satu blog saya terkena efek negative link redirect otomatis dari situs merah.ngga tau kenapa.ketika saat mereview blog dengan mengetikkan url domain blog di address bar browser ( khususnya mozilla firefox ),secara otomatis akan di arahkan situs yang ngga jelas.Dan itu terjadi berulangkali hingga membuat trafik pengunjung blog menurun drastis.
Blog tersebut memang pada awalnya berniat di isi konten-konten khusus tentang berbagai pengetahuan yang merupakan hasil browsing saya di internet.namun dengan seiring berjalannya waktu,blog tersebut jadi terbengkalai karena lagi musim panen pari (lebay )
Pada saat  mengupdate beberapa konten,dan mencoba mereview kembali blog itu kok menjadi aneh.di preview lewat tombol atau ketik Url di address bar link url blog tersebut diarahkan kesitus merah.tentu saja saya panik.berkali-kali saya mencoba dengan cara sama,mungkin salah ketik/salah pencet tombol.eh ternyata sama saja.Well,100% saya menyimpulkan bahwa blog tersebut terjangkit link redirect otomatis.kejadian ini sangat mengesalkan,karena secara otomatis memunculkan situs yang tidak di inginkan.
Menindaklanjuti hal tersebut,saya mencoba bertanya kebebrapa forum tentang kejadian ini.dan hasilnya nihil.karena diforum tersebut belum pernah membahas masalah ini.Well,jalan satu-satunya adalah googling dengan kata kunci yang tepat,dan akhirnya dapet juga jawaban yang pas.ternyata disana ada beberapa blogger juga pernah mengalami hal yang sama seperti kejadian yang menimpa saya pada saat itu.Intinya …
Solusi mengatasi hal tersebut adalah dengan mengisi beberapa konten (update artikel).hajar dengan beberapa artikel menarik agar link tersebut hilang dari blog.minimal tiga judul artikel sudah cukup.dan ternyata membuahkan hasil.cara ini memang tidak langsung berhasil dengan cepat,butuh waktu beberapa jam.tapi satu-satunya cara inilah yang paling efektif menghajar link redirect otomatis.Link situs merah tersebut adalah situs porno,crack dan situs penuh dengan virus.bagi agan-agan yang mempunyai blog,usahakan update selalu blog agan guna mencegah terjadinya blog link redirect otomatis.dan tentunya menghindari resiko terjangkitnya virus di komputer kita .Akhirnya berkat usaha saya sampai saat ini link setan tersebut sudah tidak mau lagi mampir diblogku,alias musnah selama-lamanya.
Seandainya hal itu sudah dilakukan namun blog anda masih di redirect, maka perhatikanlah satu persatu widget yang ada di blog anda, hapus satu persatu widget tersebut setelah sebelumnya anda memback up template anda.
Selanjutnya jika sudah dihapus satu persatu dan menemukan si biang kerok, maka unggah kembali template yang sudah di back up tadi dan selanjutnya hapus si biang kerok langsung tanpa ba bi bu ...
Hehehehehe...
Selamat mencoba...
Semoga berhasil...

DAPAT DUIT DARI INTERNET

00.30 Add Comment

Paidtoclick.in adalah sebuah situs PTC (Paid To Click) yang louncing tahun 2008 dimana situs ini sudah beroperasional selama 3 tahun dengan member lebih dari 292,971, mantab bukan?? jarang sebuah PTC mempunyai jam tayang yang sangat tinggi. Para kliker sangat sangat menyegani situs ini yang sudah benar2 terbukti membayar membernya yang jujur.

saya pun sangat menaruh simpatik terhadap situs ini bayangkan dengan member yang begitu banyak dan setiap harinya melayani ratusan ribu member memang dibutuhkan tim yang solid untuk menjalankannya.berdasarkan pengalaman saya, pembayaran pun bisa dibilang sangat cepat berkisar antara 1 sampai 2 hari.

Iklan yang ditampilkannya pun sangat banyak setiap hari lebih dari 50 iklan :-) nilai pembayaran 1 iklan bekisar antara 0.007 dollar sampai dengan 0.003 dollar

saat artikel ini dibuat paidtoclick.in membayar membernya dengan menggunakan rekening online Alertpay dan Paypaldimana jika menggunakan rekening Alertpay minimum pembayaran adalah $1.00 dengan fee 0%, sedangkan dengan paypal minimum pembayaran adalah $0.02 dengan fee 1%.

semua negara boleh ikut dalam program PTC ini, tetapi ada negara2 yang harus membeli keanggotaan untuk cash out, Negara2 tersebut adalah China, Taiwan, Hong Kong, Philippines, Malaysia, Thailand, Korea, Indonesia, Singapore, Vietnam. wah negara kita termasuk dalam hal itu? apa maksudnya membeli keanggotaan? yaitu kita harus membeli referal di situs ini untuk cash out.

kenapa bisa kita disuruh harus membeli keanggotaan ini ada sebabnya? kemungkinan akibat ulah dari kliker yang curang dimana para kliker dinegara2 tersebut tidak mentaati atau sering melanggar peraturannya seperti membuat akun lebih dari satu dsb.

ini dia yang tidak kalah pentingnya akun yang tidak aktif selama 60 hari akan dihapus oleh admin. jadi kalau punya akun di paidtoclick.in jangan sampai tidak mengklik iklan mereka yang sudah disediakan lebih dari 2 bulan.

selain anda sebagai kliker disitus ini juga anda dapat memasang iklan, dengan tarif yang bervariasi, bayangkan iklan kita bakalan dibaca lebih dari seribu orang dalam setiap hari.

Mau register dan mendapatkan penghasilan dari paidtoclick.in langsung ajah ke TKP klik disni.

JASA PEMBUATAN LAB BAHASA

20.47 Add Comment
I. LATAR BELAKANG
Pada saat ini perkembangan di berbagai bidang semakin meningkat. Untuk itu dibutuhkan pula Sumber Daya Manusia yang mampu untuk menghadapi perkembangan jaman yang semakin maju. Terkait dengan SDM, maka tidak bisa lepas dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat berperan dalam menciptakan SDM yang handal. Untuk itu maka sekarang dikenalkan pembelajaran dengan metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Dengan metode KBK ini, maka diharapkan para anak didik yang lulus sudah siap dengan lapangan pekerjaan yang akan dihadapi. Untuk mewujudkan metode KBK harus didukung dengan peralatan yang memadai.
Untuk memenuhi tuntutan KBK tersebut , maka diharapkan setiap sekolah memiliki sarana pendukungnya. Tersedianya laboratorium yang lengkap sebagai sarana penunjang belajar bagi para siswa merupakan suatu kebutuhan utama dalam meningkatkan mutu pendidikan saat ini, sekaligus dapat digunakan untuk meningkatkan status AKREDITASI lembaga tersebut. Untuk membantu program tersebut kami membuat perangkat LAB BAHASA yang memenuhi standar dengan harga terjangkau dan bergaransi.
Disini kami tawarkan produk dari kami dengan fasilitas dan harga yang berbeda, namun tetap memenuhi standar dan bergaransi.

II. GAMBARAN PRODUK
Perangkat ini adalah buatan kami sendiri. Dengan memakai perangkat rakitan ini, maka biaya yang dikeluarkan menjadi jauh lebih sedikit dan memiliki beberapa kelebihan dibanding perangkat yang Build up. Namun perangkat ini tetap memenuhi standar lab bahasa dan bergaransi. Disini kami perkenalkan beberapa type produk perangkat Lab Bahasa, yaitu :
  1. Lab Bahasa Standart
Merupakan perangkat lab bahasa yang mempunyai kemampuan standar, seperti lab bahasa pada umumnya.
  1. Lab Bahasa Writing system
Merupakan perangkat lab bahasa pada umumnya dengan kemampuan tambahan yaitu ada sistem "writing". Dengan kemampuan ini, maka tiap siswa yang dipilih dapat mengetik suatu kata atau kalimat melalui keyboard yang ada di meja siswa. hasil ketikan siswa dapat ditampilkan di monitor Guru dan Monitor besar di depan kelas. Jadi pada tipe ini dimeja siswa selain terdapat Terminal Siswa juga terdapat Keyboard.



  1. Lab Bahasa Writing + Scoring System
Yaitu lab bahasa writing system dengan perangkat tambahan yaitu system scoring otomatis. Dengan program ini guru dapat menguji hasil belajar siswa dengan ujian pilihan ganda, yang mana program langsung memberikan nilai sehasil ujian setiap siswa secara otomatis.
  1. Lab Bahasa Multimedia
Merupakan perangkat lab bahasa yang memanfaatkan lab komputer untuk sekaligus digunakan sebagai lab Bahasa. Dengan memanfaatkan lab Komputer yang ada, maka biaya pembuatannya akan jauh lebih murah.

III. KEMAMPUAN DAN KELEBIHAN
Berikut kelebihan lab bahasa dari kami :
1. Biaya murah.
2. Pengoperasian Panel Guru mudah.
Pengoperasian Panel menggunakan software di layar komputer, sehingga tidak banyak tombol di meja Guru.
3. Peralatan Audio Video terintegrasi dengan komputer guru.
Komputer guru bisa dimanfaatkan sebagai pemutar video atau kaset untuk belajar siswa.4. Pengontrolan komunikasi mudah.
Dengan memakai software yang ada, maka pengaturan komunikasi antara guru dan siswa menjadi mudah, seperti:
-Writing (istimewa):
Siswa dapat mengetik suatu kata atau kalimat melalui keyboard yang sudah terdapat di meja siswa. Hasil ketikan dapat terlihat di monitor besar, sehingga guru /siswa lain dapat melihatnya. Paket istimewa ini di pakai untuk memenuhi kebutuhan KBK yaitu; mendengar, bercakap, menulis.
-Conference dan Group 4:
Guru dapat membentuk group-group conference, tiap group terdiri dari 4 siswa. Masing-masing siswa dalam satu group bisa saling komunikasi tanpa mengganggu group yang lain.
-Scan:
Guru dapat memonitor siswa yang ingin bertanya atau menjawab pada sesi tanya jawab.
-All call:
Guru berbicara kepada seluruh siswa.
-Intercom :
Guru dapat berkomunikasi dengan salah satu siswa tanpa didengar oleh siswa yang lainnya
-Monitor:
Guru dapat memonitor kegiatan masing-masing siswa yang dinginkan saja tanpa diiketahui oleh siswa yang sedang dimonitor dan guru dapat gabung didalamnya bila dinginginkan
-Alternatif source program:
Guru dapat memberikan materi kepada siswa dari berbagai media seperti tape, tv, vcd, computer dan bisa dari guru dan siswa
-Recording:
Suara siswa yang masuk ke Master Kontrol dapat direkam menggunakan komputer dan disimpan dalam bentuk file. Dengan cara ini maka proses perekaman dan pemutaran hasil rekaman jadi lebih mudah.

IV. SISTEM KERJA
Untuk menciptakan sebuah Lab. Bahasa dibutuhkan beberapa peralatan dan software yang dapat bekerja bersama dan terintegrasi. Setiap komponen memiliki fungsi dan daya dukung ke komponen yang lain. Berikut beberapa komponen atau alat yang dibutuhkan untuk pembuatan Lab. Bahasa ini.
1. Komputer
Komputer berguna bagi media pengontrol sistem lab, karena di komputer ini software master panel ditempatkan. Dengan komputer ini pula mode komunikasi siswa dan guru akan diatur.
Berikut spesifikasi minimal komputer yang dibutuhkan.
  • " Intel Pentium II 300 MHz
  • " RAM 64 MB
  • " HardDisk 4 GB
  • " Sound Card
  • " VGA 2 MB
  • " Microsoft Windows 95, 98, ME, 2000, XP
2. Master Kontrol
Merupakan alat pengatur komunikasi di ruang kelas. Melalui alat ini maka guru dapat berbicara dengan salah satu siswa secara pribadi hanya berdua saja, siswa yang lain tidak mendengar. Dengan alat ini pula, metode belajar diatur. Berikut mode belajar yang bisa diatur oleh Kontrol Panel.
" Mode Lesson
Pada mode ini seluruh siswa akan mendengar materi yang disampaikan oleh guru. Seluruh siswa dapat mendengar percakapan yang dilakukan guru dan percakapan siswa yang ditunjuk.Pada mode ini, maka semua chanel siswa akan terlihat. Pada mode ini juga dapat diaktifkan juga Conference. Jika tombol nomor chanel di pilih, maka guru hanya dapat berbicara dengan siswa pada nomor tersebut.
" Mode Listening
Pada mode ini seluruh siswa dapat mendengar percakapan guru dan perlengkapan Audio Video akan aktif, Guru bisa menggunakan Kaset atau VCD sebagai materi pelajaran
" Mode Writing
Pada mode ini, jika fungsi keyboard diaktifkan. Maka siswa yang dipilih oleh guru dapat mengetik lewat keyboard yang ada di meja siswa, hasil ketikan akan muncul di monitor guru dan monitor besar. Selain dapat mengetik, siswa juga tetap bisa berkomunikasi dengan guru.
" Mode Conference
Pada mode ini siswa akan dikelompokkan, tiap 4 siswa dijadikan satu grup. Siswa dalam satu grup dapat saling bercakap-cakap dan grup yang lain tidak bisa mendengar. Guru dapat bergabung dan berbicara dengan salah satu grup yang ada.
Untuk mengaktifkan mode yang ingin digunakan, guru tinggal memakai software yang ada dan menekan tombol yang tersedia. Semua pengaturan metode belajar diatur lewat komputer dengan software yang tersedia.

3. Terminal Siswa
Merupakan perangkat elektronik yang ditempatkan di meja siswa. Terminal siswa merupakan alat pengirim data dan suara dari siswa ke Master Panel. Pada terminal siswa ini terdapat Headset, tombol request, tombol volume, dan keyboard untuk tipe istimewa. Suara siswa yang keluar dan suara yang masuk melalui headset serta data dari keyboard, sebelum dikirim ke Master Panel diolah dulu di Terminal Siswa ini.

4. Software
Merupakan perangkat lunak yang berguna untuk proses belajar mengajar. Software ini berguna untuk menguji kemampuan siswa dan untuk mengontrol sistem.

5. Fungsi Tombol pada CONTROL PANEL

  1. Connect/ Disconnect
Tombol ini berfungsi untuk mengaktifkan Sistem Lab Bahasa. Sebelum memakai Lab, sebelumnya harus tekan tombol ini agar Lab aktif. Untuk me-nonaktifkan tekan tombol ini sekali lagi (disconnect ).



2. Keluar
Berfungsi untuk mengakhiri program. Sebelum Sistem Lab Bahasa dimatikan. Sebelumnya harus tekan tombol ini

3. Port COM
Berguna untuk memilih jalur komunikasi data yang di pakai ( biasanya 1 s/d 3 ). Jika pakai 1 tidak bisa, maka pakai 2, jika tetap tidak bisa pakai 3 dan seterusnya

4. All Listen
Suara guru akan terdengar oleh seluruh siswa melalui headset.

5. Conference
Berfungsi untuk memulai pelajaran DISKUSI. Jika mode ini diaktifkan, secara otomatis semua siswa akan dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Siswa dalam satu kelompok dapat saling becakap tanpa didengar oleh kelompok yang lain. Jika guru ingin bergabung dengan kelompok tersebut, maka klick di nomor siswa yang tergabung dalam kelompok tersebut.

6. Listening
Berfungsi untuk mengaktifkan mode listening. Pada mode ini masukan dari Guru atau Komputer akan masuk/ didengar oleh seluruh siswa.

7. Call Permit
Tombol ini bisa dipakai jika fungsi ALL LISTEN aktif. Jika tombol ini diaktifkan, maka siswa bisa memberi interupsi dengan menekan tombol CALL selama 8 detik. Siswa yang menekan tombol akan terlihat pada panel software di Master.

8. Search
Berfungsi untuk mendeteksi siswa yang mau bertanya atau menjawab. Apabila tombol ini diaktifkan, maka jika siswa menekan tombol CALL di STUDENT TERMINAL maka siswa tersebut akan langsung terhubung dengan Guru. Apabila tombol ini tidak aktif, meskipun siswa menekan tombol CALL tidak akan terhubung dengan Guru. Siapa yang tercepat menekan tombol akan terhubung dengan Guru.

9. Record
Berfungsi untuk merekam suara siswa yang masuk ke system dengan memakai komputer.

10. Keyboard
Berfungsi untuk mengaktifkan keyboard siswa yang dipilih. Jika tombol ini diaktifkan, maka siswa yang dipilih dapat mengetik dan tampil di layar monitor.”Khusus untuk Type Executive With Writing System”

11. Text 2
Jika fungsi ini diaktifkan, pada mode KEYBOARD. Maka akan muncul Window/ tampilan baru, khusus untuk menampilkan hasil ketikan siswa atau guru. Terpisah dari program Master Kontrol.

12. Monitor
Jika tombol ini diaktifkan, secara otomatis dan berurutan, satu per satu siswa akan terhubung dengan guru secara bergantian.


13. Tombol Bar dibawah Monitor
Berguna untuk mengatur kecepatan monitoring.

14. Open File
Berfungsi untuk membuka file rekaman,video,musik ( *.mp3, *.dat, *.wav, *.avi )

15. Reset
Jika di klick maka akan meRESET mode belajar yang sedang dijalankan. Jika tombol ini ditekan maka semua kembali netral, tidak ada satupun siswa yang terhubung, speaker mati, searching mati.

16. Speaker
Berfungsi untuk menghidupkan atau mematikan speaker ruangan.

17. Aux/ AV
Berfungsi untuk mengaktifkan mode listening. Pada mode ini masukan dari VCD, TAPE dan CPU akan masuk/ didengar oleh seluruh siswa. Jadi mode ini berfungsi untuk mengaktifkan sumber dari VCD, TAPE dan CPU.

18. Student
Berfungsi untuk Mengaktifkan agar suara siswa bisa masuk ke speaker ruangan, agar bisa didengar siswa lainnya.

19. Tombol nomor ( 1 - 64 )
Merupakan tombol yang menunjukkan nomor siswa. Apabila tombol nomor siswa di tekan, maka guru akan terhubung dengan siswa tersebut. Siswa lain yang tidak dipilih tidak dapat terhubung.

20. Reset




Pada gambar seperti diatas jika di klick maka akan meRESET mode belajar yang sedang dijalankan. Jika tombol ini ditekan maka semua kembali netral, tidak ada satupun siswa yang terhubung, speaker mati, searching mati. Untuk mematikan fungsi tiap tombol, tekan sekali lagi tombol yang
diaktifkan tersebut atau tekan RESET

21. Writing
Siswa yang dipilih oleh guru dapat mengetik lewat keyboard yang ada di meja siswa, hasil ketikan akan muncul di monitor guru dan monitor ruangan. Selain dapat mengetik, siswa juga tetap bisa berkomunikasi dengan guru.

22. Scoring
Dengan fungsi ini, guru bisa memberikan ujian kepada siswa dengan test pilihan ganda. Hasil ujian atau nilai siswa/score akan secara otomatis terlihat. Baik score tiap individu atau score seluruh kelas.





V. SPESIFIKASI ALAT
1.
Master Kontrol
TIPE KONEKSI
TIPE PORT
Data Kontrol ke Komputer
Data KeyBoard ke Komputer
Audio in/out ke Komputer
Serial Port RS232 ( DB9 )
Header4 / RJ45
RCA
Master Kontrol ke Terminal Siswa
Header4 / RJ45 / IDC10
Master ke Sound Sistem
RCA
Master ke VCD
RCA
Master ke TV ( perangkat display )
RCA
Catu daya input
Tegangan Output
AC 220V / 200Watt
DC 12V /
300mA tiap Port
2. Terminal Siswa
TIPE KONEKSI
TIPE PORT
Data in/out
IDC10 / RJ45
Ke Keyboard
Header4 / RJ45
Ke Headset
Mic Socket ( canon )
Ke Tape Recorder
Header4 / IDC10
Tombol Volume
General Volume Control
Tombol Request
Push Switch
Catu Daya
DC 12V / 300mA
3. Alat Pendukung
Jenis
Spesifikasi
Headset
Serial Port RS232 ( DB9 )
Headphone :
Frequensi Range : 20 - 20.000 Hz
Impedance : 32 Ohm
Sensitivity : 92 dB SPL
Microphone :
Frequensi Range : 100 - 10.000 Hz
Impedance : 2 KOhm
Sensitivity : -58 dB @ 1KHz
Keyboard
Standar PS2 CPU Keyboard
Audio Sistem
2 Speaker output, 100W / 8 Ohm
Kabel
Coaxial Cable
Kursi
Rangka besi
Meja Siswa
Multiplex

VI. PENUTUP
Kebutuhan akan laboratorium seperti halnya laboratorium bahasa dirasa sangat perlu untuk meningkatkan kemampuan siswa. Dengan adanya laboratorium bahasa maka siswa akan merasa senang dalam belajar bahasa. Lab. Bahasa akan bisa meningkatkan motifasi belajar dan prestasi siswa.
Untuk memenuhi kebutuhan Lab Bahasa, Kami menciptakan perangkat Lab Bahasa dengan harga terjangkau dan memenuhi standar Lab Bahasa, bahkan memiliki beberapa kelebihan dibanding yang lain.
Demikian proposal penawaran dari kami, semoga bermanfaat dan dapat terjalin kerjasama yang baik.






















































































































CONTACT PERSON : 085669636362