KLIK DISINI...!

TELAGA HIKMAH DARI AL-HIKAM 5

11.12
MEMORIES
5. MATA HATI YANG BUTA



KESUNGGUHANMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH TERJAMIN UNTUKMU DIBARENGI DENGAN PENGABAIANMU TERHADAP KEWAJIBAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU MENUNJUKKAN BUTA MATA HATI



Kalimat Hikmah ke 5 ini merupakan lanjutan dari kalimat hikmah yang lalu. Imam Ibnu Athaillah menceritakan pengaruh hijab nafsu dan hijab akal yang menutupi hati daripada melihat kepada takdir yang menjadi ketentuan Allah. Ada tiga perkara yang dikemukakan untuk direnungi :


1. Jaminan Allah
2. Kewajiban hamba
3. Mata hati yang mengenal jaminan Allah dan kewajiban hamba.



Penyingkapan rahasia mata hati adalah penting untuk memahami Kalimat Hikmah di atas. Mata hati ialah mata bagi hati atau boleh juga dikatakan kemampuan mengenal yang dimiliki oleh hati. Kadang-kadang mata hati ini disebut sebagai mata batin. Istilah ‘mata batin’ digunakan untuk membedakan istilah ini dengan mata lahir, yaitu mata yang dimiliki oleh diri lahiriah.



Diri lahir tersusun atas daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit dan lain-lain. Diri lahir ini memiliki kemampuan melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh. Diri lahir memperoleh kehidupan dari perjalanan darah ke seluruh tubuh dan aliran udara yang keluar masuk melalui hidung dan mulut. Jika darah dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran udara yang keluar masuk itu disekat maka diri lahir akan mengalami satu keadaan di mana terhenti berfungsi dan ia dinamakan mati. Diri lahir ini jika disusun ia terdiri dari tubuh dan nyawa serta indera-indera yang dapat mengenal sesuatu yang bersifat lahiriah. Pusat perintahnya ialah otak yang menerima pengaruh rangsangan dari indera-indera dan juga mencetuskan pertimbangan bagi pikiran.



Diri batin juga mempunyai susunan yang sama seperti diri lahir tetapi dalam keadaan ghaib. Ia juga mempunyai tubuh yang dipanggil qolbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukanlah sepotong daging yang berada di dalam tubuh. Ia merupakan hati rohani. Ia bukan kejadian alam kasar, sebab itu ia tidak dapat dilihat dan diraba oleh pancaindera lahir. Ia termasuk di dalam perkara-perkara ghaib yang diistilahkan sebagai Lathifah Rabbaniah atau hal yang menjadi rahasia ketuhanan. Apabila di dalam keadaan suci bersih ia dapat mendekati atau bertaqarub kepada Allah. Ia juga yang menjadi tempat jatuhnya pandangan Allah. Hati ini juga memiliki nyawa yang dibahasakan sebagai ruh. Ruh juga termasuk di dalam golongan Lathifah Rabbaniah. Ia adalah urusan Allah dan manusia hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenainya.



Katakan: “Ruh itu dari perkara urusan Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit saja”. ( Ayat 85 : Surah Bani Israil )



Tubuh rohani juga mempunyai sifat yakni mempunyai kemampuan mencetuskan pemahaman dan pengetahuan. Ia dipanggil akal yang juga termasuk di dalam golongan Lathifah Rabbaniah yang tidak mampu diuraikan. Akal jenis ini berguna bagi pengajaran tentang keTuhanan.



Tubuh lahir mempunyai indera-indera untuk mengenal perkara lahiriah. Indera-indera tersebut disebut sebagai penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan penyentuhan. Alat-alat lahiriah yang berhubungan dengannya ialah mata, telinga, hidung, lidah, tangan dan lain-lain.



Tubuh rohani atau diri batin juga mempunyai indera yang mengenal perkara ghaib dan indera ini dinamakan basirah atau mata hati. Ia berbeda daripada sifat melihat yang dimiliki oleh mata lahir. Mata lahir melihat perkara lahir dan mata hati syuhud atau menyaksikan kepada yang ghaib.



Apa yang ada di sekeliling kita bisa dilihat melalui dua aspek yaitu yang nyata dilihat dengan mata lahir dan yang ghaib dilihat dengan mata hati. Jika kita ambil sepotong gula, mata kasar melihat sejenis hablur berwarna keputihan. Bila diletakkan pada lidah terasalah manisnya. Ketika menikmati rasa manis itu kita seolah-olah memandang jauh kepada sesuatu yang tidak ada di hadapan mata. Kelakuan merenung jauh itu sebenarnya adalah terjemahan kepada perbuatan mata hati memandang kepada hakikat gula, yaitu manis. Bagaimana rupa manis tidak dapat diceritakan tetapi mata hati yang melihat kepadanya mengenal bahwa gula adalah manis. Jika mata lahir melihat sebilah pedang, maka mata hati akan melihat pada tajamnya. Jika mata lahir melihat kepada lada, mata hati melihat kepada pedasnya. Jadi, mata lahir mengenal dan membedakan rupa yang lahir sementara mata hati mengenal dan membedakan hakikat yang lahir.



Mata hati yang hanya berfungsi mengenal manis, tajam, pedas dan yang seumpamanya masih dianggap sebagai mata hati yang buta. Mata hati hanya dianggap tajam jika ia mampu melihat urusan keTuhanan di balik yang nyata dan yang tidak nyata.



Kekuatan mata hati bergantung kepada kekuatan hati itu sendiri. Semakin bersih dan suci hati bertambah teranglah mata hati. Jika ia cukup terang, ia bukan saja mampu melihat kepada yang tersembunyi di balik rupa yang lahir di sekeliling kita, malah ia mampu melihat atau syuhud (menyaksikan) apa yang di luar dunia. Dunia adalah segala sesuatu yang berada di dalam bulatan langit yang pertama atau langit dunia atau langit rendah. Langit rendah ini merupakan bagian dunia. Selepas langit dunia dinamakan Alam Barzakh. Meninggal dunia artinya ruh yang rumahnya yaitu jasad sudah tidak sesuai lagi didiaminya. Ruh akan dibawa keluar dari langit dunia dan ditempatkan di dalam Alam Barzakh.



Fungsi mata hati ialah melihat yang hakiki. Mata hati yang mampu melihat dunia secara keseluruhan sebagai satu wujud akan mengenali apa yang hakiki tentang dunia itu. Oleh sebab penyaksian mata hati bersifat tidak dapat dinyatakan secara terang maka ia memerlukan ibarat untuk mendatangkan pemahaman. Perumpamaan yang biasa digunakan tentang hakikat dunia ialah: “Dunia ini ibarat seorang perempuan yang sudah sangat tua dan sudah sangat renta. Tubuhnya kotor dan berpenyakit, borok di sana sini dan ada bagian lainnya ada yang sudah dimakan belatung”. Begitulah lebih kurang perasaan orang yang melihat kepada hakikat dunia dengan mata hatinya. Bagaimana rupa hakikat yang menyebabkan timbul perasaan dan ibarat yang demikian tidak dapat diuraikan.



Mata hati yang lebih kuat mampu pula menyaksikan Alam Barzakh dan mengenali satu lagi hakikat yang dinamakan keabadian, yaitu sifat hari akhirat. Kematian membinasakan jasad dan kiamat membinasakan alam seluruhnya tetapi tidak membinasakan ruh yang padanya tergantung kitab amalan masing-masing. Ahli maksiat tidak dapat diselamatkan oleh kematian dan kiamat. Ahli taat yang tidak mendapat ganjaran yang setimpal di dunia tidak binasa ketaatannya oleh kematian dan kiamat.



Tanggungjawab seseorang hamba akan terus dipikulnya selepas kematian, Alam Barzakh, Kiamat, Padang Mahsyar dan seterusnya menghadapi Penguasa hari pembalasan. Tanggungjawab itu hanya gugur setelah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil lagi Maha Mengetahui serta Maha Perkasa menjatuhkan hukuman. Inilah hakikat yang ditemui oleh mata hati yang menyelami Alam Barzakh, bukan melihat ruh orang mati di dalam kubur.



Mata hati berfungsi mengenal perkara yang ghaib. Makrifat atau pengenalan kepada keabadian atau hari akhirat akan melahirkan kesungguhan pada menjalankan amanat Allah, yaitu mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amanat itu akan terus dibawa oleh para hamba untuk diserahkan kembali kepada Allah yang meletakkan amanat tersebut kepada mereka. Makrifat mata hati yang demikian melahirkan sifat takwa dan beramal salih. Apabila takwa dan amal salih menjadi sifat seorang hamba maka masuklah hamba itu ke dalam jaminan Allah.



Dialah Tuhan yang memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda keEsaan-Nya dan kekuasaan-Nya (untuk menghidupkan ruh kamu), dan yang menurunkan (untuk jasmani kamu) sebab-sebab rezeki dari langit. Dan tiadalah yang ingat serta mengambil pelajaran (dari yang demikian) melainkan orang yang sentiasa bergantung kepada Allah. ( Ayat 13 : Surah al-Mu’min )



Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:


Hamba-Ku, taatilah semua perintah-Ku, jangan membeberkan keperluan kamu.



Allah sebagai Tuhan, Tuan atau Majikan tidak sekali-kali mengabaikan tanggungjawab-Nya untuk memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya sementara hamba-hamba-Nya berkewajipan mentaati Tuan mereka. Rezeki telah dijamin oleh Allah dan untuk mendapatkan rezeki tersebut seseorang hamba hanya perlu bertindak sesuai dengan maqomnya. Jika dia seorang ahli asbab maka bekerjalah ke arah rezekinya dan jangan iri hati terhadap rezeki yang dikaruniakan kepada orang lain. Jika dia ahli tajrid maka bertawakalah kepada Allah dan jangan gusar jika terjadi kekurangan dalam urusan rezeki.



Dimanapun maqom seorang hamba berada, dia mesti melakukan kewajiban yaitu bersungguh-sungguh mentaati Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Hamba yang terbuka mata hatinya akan percaya dengan yakin terhadap jaminan Allah dan tidak mengabaikan kewajibannya. Hamba ini akan melipat-gandakan kegiatan dan kerajinannya untuk bertakwa dan beramal salih tanpa mencurigai jaminan Allah tentang rezekinya.



Hamba yang buta mata hatinya akan berbuat yang berlawanan, yaitu dia tekun dan rajin di dalam mencari rezeki yang dijamin oleh Allah tetapi dia mengabaikan tanggungjawab yang diamanatkan oleh Allah. Orang ini akan menggunakan daya usaha yang banyak untuk mendapatkan rezeki yang boleh jadi bisa didapat dengan usaha yang sederhana.



Mata hati melihat kepada yang hak dalam keghaiban. Nafsu yang hanya cenderung kepada kebendaan yang nyata menutupi yang hak itu dan akal mengadakan hujah (argumen) untuk menguatkan keraguan yang tumbuh pada nafsu. Perkara ghaib disaksikan dengan keyakinan. Jika nafsu dan akal bersepakat mengadakan keraguan, kebenaran yang ghaib akan terhijab. Orang yang mencari kebenaran tetapi gagal menundukkan nafsu dan akalnya akan berputar-putar di tempat yang sama. Keyakinan dan keraguan sentiasa berperang dalam jiwanya.



Bersambung..........
Previous
Next Post »
0 Komentar