MELIHAT ALLAH.....?

10.58
Didalam sebuah hadits shahih dari Umar bin Khottob yang menceritakan tentang kedatangan Jibril menemui Rasulullah saw yang saat itu tengah berkumpul bersama para sahabatnya. Diantara yang ditanyakan Jibril kepada Rasulullah saw adalah tentang makna ihsan lalu beliau saw menjawab,”(ihsan) hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguh-Nya Dia melihatmu.” Dan jawaban ini pun dibenarkan oleh Jibril.

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam “Shahih” nya, kitab ‘al Iman’, hadits no. 8. Juga Imam Tirmidzi didalam “Sunan” nya, kitab ‘al Iman’, hadits no. 2738. Juga Abu Daud didalam “Sunan” nya, kitab ‘as Sunnah’ bab ‘al Qodr’ hadits no. 4695 serta Imam Nasai didalam “Sunan” nya, kitab ‘al Iman’ bab ‘Na’tul Islam’ 8/97

Tentang makna “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”, Ibnu Rajab didalam bukunya “Jami’ al Ulum wa al Hikam” mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan seorang hamba yang beribadah kepada Allah swt dengan sifat ini, yaitu menghadirkan kedekatan Allah swt dan Allah berada dihadapannya seakan-akan dirinya melihat-Nya. Hal demikian akan memunculkan perasaan takut dan pengagungan-Nya sebagaimana disebutkan didalam riwayat Abu Hurairoh,”Takutlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Perasaan itu juga akan memunculkan kemurnian didalam ibadah dan upaya sekeras mungkin untuk memurnikan dan menyempurnakan ibadahnya itu sebagaimana wasiat Nabi saw kepada para sahabatnya yang diriwayatkan Ibrahim al Hijriy dari Abu al Ahwash dari Abu Dzar berkata,”Kekasihku (Rasulullah saw) pernah memberikan wasiat kepadaku agar aku takut kepada Allah seakan-akan aku melihat-Nya dan jika aku tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatku.”

Kemudian Ibnu Rajab menjelaskan tentang makna “Dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Ada yang mengatakan bahwa bagian kedua ini merupakan penjelasan dari bagian pertama. Sesungguhnya jika seorang hamba diperintahkan untuk merasakan pengawasan Allah swt didalam ibadahnya dan menghadirkan kedekatan-Nya terhadap dirinya sehingga seakan-akan dirinya melihat Allah maka hal ini sangatlah sulit.

Untuk itu hendaklah dirinya meminta pertolongan dengan keimanannya bahwa Allah swt melihatnya, mengetahui segala yang tersembunyi dan tampak padanya, yang batin maupun yang lahir dan tak satupun dari perkaranya yang tersembunyi dari-Nya.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadits itu mengisayaratkan bagi siapa saja yang kesulitan didalam beribadahnya kepada Allah swt seakan-akan dirinya melihat-Nya maka beribadahlah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah melihat dirinya, memperhatikannya kemudian dirinya merasa malu atas penglihatan Allah kepadanya itu.

Sebagian orang-orang arif dari para salaf mengatakan,”Barangsiapa yang beramal karena Allah swt seakan-akan dia melihat-Nya maka ia adalah orang yang arif dan barangsiapa yang beramal dikarenakan Allah melihat-Nya maka ia adalah orang yang ikhlas.”

Dari perkataan tersebut menunjukkan adanya dua posisi :

Posisi Ikhlas; yaitu seorang hamba yang beramal dengan menghadirkan penglihatan Allah terhadap dirinya, pengamatan-Nya dan kedekatan-Nya dengan dirinya. Maka apabila seorang hamba menghadrikan seperti itu didalam amalnya dan beramal karena itu maka ia adalah seorang yang ikhlas karena Allah karena menghadirkan hal demikian didalam amalnya menghalanginya dari berpaling kepada selain Allah dan kehendak-Nya dengan amal yang dilakukannya.

Posisi Musyahadah (menyaksikan); yaitu seorang hamba yang beramal sebagai tuntutan karena dirinya menyaksikan Allah dengan hatinya dikarenakan hatinya telah diterangi oleh cahaya keimanan, mata hatinya menembus pengetahuan sehingga menjadikan sesuatu yang ghaib seakan-akan terihat, inilah hakekat ihsan yang diisyaratkan didalam hadits Jibril diatas.

Dengan demikian yang dimaksudkan kalimat “seakan-akan engkau melihat-Nya” adalah melihat dengan hatinya yang dipenuhi dengan cahaya keimanan kepada Allah swt bukan dengan matanya dan bukan pula membayangkan dzat Allah swt dengan akal fikirannya yang serba terbatas untuk bisa mencapainya. Karena dilarang bagi seorang hamba yang menghabiskan waktunya untuk merenungi atau memikirkan dzat Allah swt akan tetapi diperintahkan baginya untuk merenungi berbagai ciptaan-Nya yang ada di sekitarnya dikarenakan keterbatasan yang ada pada dirinya, sebagaimana firman Allah swt :

لاَّ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ


Artinya : “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Al An’am : 103)

Wallahu A’lam
Previous
Next Post »
0 Komentar