10.03
MEMORIESBAB II
PEMBAHASAN
Model-Model Pengembangan Kurikulum
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum.pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan hanya didasarkan atas kelebihannya seta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal ,tetapi juga perlu disesuaikan dengan system pendidikan dan pengelolaan yang dianutserta model dan konsep yang digunakan..dalam hal ini model pengembangan sentralisasi tentunya berbeda dengan model desentralisasi.model perngembangan yang sifatnya subyek akademis tentunya berbeda dengan model subjek akademis dsb.
Adapun model pengembangan kurikulum yang kita kenal sekurang-kurangnya ada 8 model yaitu:
A. The administrative model
Model pengembangan ini merupakan yang paling lama dan paling banyak dikenal.Dinamakan demikian karena inisiatif dan gagasan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi.
B. The grass roots model
Dalam konsep pengembangan kurikulum ini inisiatif datang dari guru-guru sekolah.Model pengembangan yang pertama digunakan untuk pengelolaan yang bersifat sentralisasi sedangkan yang kedua untuk pengelolaan yang desentralisasi.

C. Beauchamp’s system
Dinamakan demikian karena Beaucahamplah yang mengembangkannya.Dimana dalam penyusunannya beliau mengemukakan 5 hal, yaitu:
1. Menetapkan area atau lingkup dari kurikulum tersebut.
2. Menetapkan personalia
Personalia tersebut terdiri atas para ahli pendidikan dari bidang ilmu,perguruan tinggi,profesinalis pendidikan, dantokoh masyarakat.
3. Perumusan organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum
4. Implementasi atau pelaksanaan kurikulum
5. Evaluasi kurikulum yang meliputi evaluasi pelaksanaan ,desain ,hasil belajar , dan keseluruhan system

2
D. The demontrasion model
Dalam model ini sekelompok guru bekerjasama dengan sekelompok ahli untuk mengadakan perbaikan kurikulum.Sifat kurikulum ini mengubah atau mengganti kurikulum yang ada sehingga sering mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu.

E. Taba’s inverted model
Dalam pengembangan kurikulum model ini pengembangan bersifat induktif yang bertujuan untuk merangsang timbulnya inovasi dan kreatifitas.

F. Roge’s interpersonal relation model
Dalam model pengembangan ini Roge memasukkan konsep-konsepnya mengenai psikoterapi ke dalam bidang pendidikan dan pengembangan kurikulum.
G. The systematic action reserc model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan social.hal ini mencakup suatu proses yang melibatkan orang tua,siswa, guru ,masyarakat dll.Sesuai dengan asumsi ,model ini menekankan pada tiga hal yaitu hubungan insani ,sekolah dan organisasi masyarakat ,seta wibawa dari pengetahuan professional.
H. Emerging technical model
Dalam model ini pengembangan dimulai dari mengidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum,dimana tiap-tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan.Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut.Setelah diadakan pengolahan kemudian disesuaikan dengan kemampuan hasil belajar yang dicapai siswa disimpan dalam computer.
Namun secara garis besar pengembangan kurikulum dapat dikelompokkan menjadi 2 model yaitu :
1. top-down the administrative model
2. the grass root model.
3
1. The administrative model
Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan.Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum. Anggotanya, terdiri dari pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan.

Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya administrator membentuk Tim Kerja terdiri dari para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan guru-guru senior, yang bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih operasional menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Tim pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru-guru. Setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Tim Pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten.
Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, administrator pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut. Karena datangnya dari atas, maka model ini disebut juga model Top – Down.
Pengembangan kurikulum dari atas tidak selalu berjalan , sebab menuntut kesiapan dari pelaksanaannya,terutama dari guru-guru.mereka perlu mendapatkan petunjuk-petunjuk dan penjelasan atau mungkin juga peningkatan pengetahuan dan ketrampilan.Dalam hal ini kebutuhan akan adanya penataran tidak dapat dihindarkan.

4
Dalam pelaksanaannya, diperlukan monitoring, pengawasan dan bimbingan. Setelah berjalan beberapa saat perlu dilakukan evaluasi, tujuannya adalah untuk menilai validitas komponen-komponennya,prosedur pelaksanaannya,maupun keberhasilannya.
Penilaian menyeluruh dapat dilakukan oleh tim khusus dari tingkat pusat sampai daerah ,sedang penilaian persekolahan dapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan.Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik ,bagi instansi pendidikan ditingkat pusat ,daerah ,maupun sekolah.
2. The grass root model;
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama, digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum.
Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Apabila kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru, fasilitas biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kurikulum model grass root tampaknya akan lebih baik. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa mereka adalah perencana ,pelakssana ,dan juga penyempurna dari pengajaran dikelasnya.
Pengembangan model ini mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu saja.Dalam pengembangan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi dalam peningkatan mutu pendidikan sehingga memungkinkan lahirnya manusia yang kreatif dan mandiri.
5
Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots, mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung dilakukan dengan menggunakan pendekatan the grass-root model. Kendati demikian, agar pengembangan kurikulum dapat berjalan efektif tentunya harus ditopang oleh kesiapan sumber daya, terutama sumber daya manusia yang tersedia di sekolah.








6

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pembahasan makalah didepan,dapatlah ditarik suatu kesimpulan secara garis besar pengembangan kurikulum dapat dikelompokkan menjadi 2 model yaitu :
1. top-down the administrative model
2. the grass root model.

Daftar Pustaka
Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.





















7
BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang Masalah
Banyak model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum.pemilihan suatu model pengembangan kurikulum Dalam hal ini Taylor mengajukan empat buah pertanyaan mengenai pengembangan kurikulum.
Empat pertanyaan pokok tentang kurikulum dari Tylor ini banyak dipakai oleh para pengembangan kurikulum. Dalam konfrensi nasional perhimpunan pengembang dan pengawas kurikulum tahun 1963 dibahas dua makalah penting dari George A. Beauchamp dan Othanel Smith.
Beauchamp menganalisis pendekatan ilmiah tentang tugas pengembangan teori kurikulum. Menurut Beauchamp, kurikulum secara konseptual berhubungan erat dengan pengembangan teori dalam ilmu-ilmu lain. Hal-hal yang penting dalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah-istilah teknis yang tepat dan konsisten, analisis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan penelitian-penelitian prediktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidah-kaidah sebagai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskan fenomena kurikulum.
Rumusan Masalah
Melalui pembahasan dalam makalah ini kami ingi mencoba menggali lebih dalam mengenai apasajakah model-model yang menjadi dasar pengembangan kurikulum.
1


MAKALAH

MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM



Disusun guna melengkapi tugas pada Mata Kuliah
“Pengembangan Kurikulum “

Oleh

Nama : Ulfi Fadhilah
Yusuf Efendi
Semester : III (tiga)
Dosen pengampu :









SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH BUSTANUL’ULUM
(STITBU)
LAMPUNG TENGAH
TAHUN AKADEMIK 2009/2010



KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Ilahi Robbi, yang dengan limpahan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Pengembangan Kurikulum” yang membahas tentang “model-model pengembangan kurikulum” dengan sebaik mungkin.
Dalam upaya penyelesaian makalah ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ucapkan ribuan terimakasih kepada semua yang pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari meskipun penulisan makalah ini telah penulis upayakan seoptimal mungkin tentu masih ada kekurangan maupun kekeliruan yang tidak sengaja, untuk itu bagi para pembaca yang budiman sangat penulis harapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan khususnya bagi penulis serta memperoleh ridho Allah semata.
Amin.
Jayasakti ,12 Desember 2009
Penyusun


i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………..i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………1

BAB II PEMBAHASAN
Model-model pengembangan kurikulum……………………………………2
A.The administrative model…………………………………………………4
B.The grass roots model…………………………………………………….5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan …………………………………………………………………7
Daftar Pustaka……………………………………………………………….7






























ii
Previous
Next Post »
0 Komentar